Tim Peneliti UGM Lakukan Skrining Risiko Asma di Sekolah Yogyakarta
UGM gelar skrining dan edukasi asma berbasis sekolah di SMP Yogyakarta, tiga bulan intervensi untuk deteksi dini dan dukung siswa berisiko asma tetap aktif belajar.
YOGYAKARTA – Upaya deteksi dini asma pada anak usia sekolah terus diperkuat. Tim peneliti Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar skrining risiko asma berbasis sekolah di Yogyakarta sebagai bagian dari penelitian internasional Adapting School-Based Asthma Programme: A Multicountry (AdAPT) Study.
Program ini menyasar siswa tingkat SMP untuk mengidentifikasi gejala dan faktor risiko asma sejak dini, sekaligus menyiapkan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes., anggota tim peneliti, menjelaskan skrining dilakukan untuk menjaring siswa yang terindikasi memiliki gejala atau risiko asma. Siswa yang teridentifikasi kemudian menjalani pemeriksaan spirometri atau tes fungsi paru guna menilai kondisi pernapasan secara objektif.
“Langkah ini penting untuk memastikan kondisi anak secara medis sebelum dilakukan intervensi lanjutan,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).
Selain pemeriksaan kesehatan, tim peneliti juga menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan siswa berisiko asma, orang tua, guru, serta perwakilan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan.
FGD tersebut bertujuan memetakan kebutuhan lokal, mengidentifikasi hambatan, serta menggali potensi dukungan dalam penerapan program asma berbasis sekolah. Dengan pendekatan ini, intervensi yang dirancang diharapkan lebih kontekstual dan berkelanjutan.
Sebelum tahap intervensi, skrining telah dilakukan di empat SMP di Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni SMP Negeri 6, SMP Negeri 7, SMP Negeri 12, dan SMP Negeri 14 Yogyakarta.
Intervensi Tiga Bulan dan Edukasi Pengelolaan Asma
Program intervensi akan berlangsung selama tiga bulan dengan pemantauan kondisi asma siswa secara berkala. Kegiatan perdana digelar di Aula SMP Negeri 6 Yogyakarta dan diikuti 30 siswa dengan risiko asma serta 19 guru pendamping.
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh edukasi tentang pengenalan asma, faktor pencetus, pencegahan, hingga tatalaksana penyakit asma. Materi disampaikan oleh dr. Dwikisworo Setyowireni, Sp.A(K), dan dr. Rina Triasih, M.Med(Paed), Ph.D, Sp.A(K).
Dwikissworo Setyowireni mendorong peserta yang telah mendapatkan pelatihan untuk turut menyebarluaskan pemahaman tentang asma, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
“Dukungan bersama sangat dibutuhkan agar anak dengan asma tetap dapat beraktivitas dan produktif di sekolah,” ujarnya.
Sementara itu, Rina Triasih menekankan pentingnya lingkungan sekolah yang inklusif dan suportif agar siswa dengan asma dapat menjalani aktivitas belajar secara normal.
Sebagai informasi, penelitian multicenter ini melibatkan sejumlah negara dengan fokus pada pengembangan dan adaptasi program pengelolaan asma berbasis sekolah sesuai konteks masing-masing wilayah. Di Indonesia, riset ini dijalankan Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan FK-KMK UGM serta didukung Pemerintah Kota Yogyakarta. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


