Kampus Didorong Hasilkan Riset Berdampak Nyata, Bukan Sekadar Kejar Angka dan Administrasi
Suasana talkshow bersama Bagus Mulyadi, Ph.D., Assistant Professor dari University of Nottingham, Inggris. (FOTO: Humas UGM for TIMES Indonesia)

Kampus Didorong Hasilkan Riset Berdampak Nyata, Bukan Sekadar Kejar Angka dan Administrasi

Talkshow FEB UGM mengkritik riset kampus yang terpaku metrik dan administrasi. Bagus Mulyadi dorong riset relevan bagi daerah, lintas disiplin, dan lahirkan lulusan adaptif.

TIMES Jogja,Rabu 11 Februari 2026, 21:58 WIB
832
A
A. Tulung

YOGYAKARTAPerguruan tinggi di Indonesia dihadapkan pada tantangan besar di era kecerdasan buatan dan dinamika ekonomi global. Namun di tengah tuntutan inovasi tersebut, praktik riset di kampus dinilai masih terjebak pada orientasi administratif dan persaingan metrik, alih-alih menghasilkan dampak konkret bagi masyarakat.

Hal itu mengemuka dalam talkshow bertajuk “Higher Education for Impact & Adaptive Graduates” yang digelar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) belum lama ini. Acara tersebut menghadirkan Bagus Mulyadi, Ph.D., Assistant Professor dari University of Nottingham, Inggris.

Dalam paparannya, Bagus menilai terdapat kesenjangan antara dunia akademik dan kebutuhan riil masyarakat. Ia menyoroti sistem insentif dosen yang masih bertumpu pada indikator kuantitatif seperti jumlah publikasi, indeks, hingga sitasi.

Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi menggeser orientasi riset dari kebermanfaatan menjadi sekadar pemenuhan target administratif.

“Ketika kebijakan kampus dan pemerintah lebih menekankan jumlah riset atau pengabdian, maka yang terjadi adalah kompetisi angka. Dampaknya, fokus pada keberlanjutan dan dampak nyata menjadi terpinggirkan,” ujarnya, Rabu (11/2/2026)

Tantangan Riset Berdampak di Indonesia

Bagus menilai, salah satu persoalan mendasar adalah belum terbangunnya kesinambungan antara institusi pendidikan tinggi dan masyarakat. Riset sering kali dirancang berdasarkan imajinasi pusat, sementara kebutuhan daerah memiliki konteks yang berbeda.

“Cara pandang pusat tentang riset tidak selalu sama dengan kebutuhan di daerah. Perbedaan imajinasi ini melahirkan jarak antara hasil riset dan implementasinya,” katanya.

Ia menegaskan pentingnya membangun sistem insentif yang mendorong daerah memiliki rasa kepemilikan terhadap riset. Dengan begitu, penelitian tidak berhenti pada laporan, melainkan benar-benar diterapkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Yogyakarta, lanjutnya, memiliki potensi besar sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu kebumian. Namun warisan cara pandang pascakolonial yang kerap memosisikan Indonesia sebatas objek eksotisme dinilai turut memengaruhi kepercayaan diri dalam berkontribusi di level global.

Ubah Pola Pikir dan Dorong Kepemimpinan Intelektual

Selain sistem kebijakan, Bagus juga menyoroti pola pikir masyarakat terkait perubahan dan kepemimpinan. Ia menilai masih ada kecenderungan menyerahkan tanggung jawab perubahan sepenuhnya pada figur pemimpin.

“Perubahan tidak selalu harus dimulai dari atas. Introspeksi dan perbaikan diri menjadi fondasi penting sebelum menuntut perubahan sistemik,” ungkapnya.

Ia juga mendorong mahasiswa dan akademisi untuk mengembangkan pola pikir kritis dan lintas disiplin. Menurutnya, sekat-sekat ilmu pengetahuan sejatinya merupakan konstruksi yang lahir dari kebutuhan revolusi industri, bukan batas alamiah.

“Ketika seseorang benar-benar tertarik pada suatu fenomena, ia akan berpikir melampaui satu disiplin. Banyak tokoh dunia berkembang karena pendekatan lintas ilmu,” jelasnya.

Talkshow tersebut menjadi pengingat bahwa transformasi pendidikan tinggi tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada keberanian mengubah orientasi riset. Perguruan tinggi diharapkan mampu melahirkan lulusan adaptif sekaligus menghasilkan riset yang memberi dampak nyata bagi pembangunan masyarakat. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:A. Tulung
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Yogyakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.