https://jogja.times.co.id/
Berita

Aroma Manis Kampung Tukangan: Kue Keranjang Legendaris Yogyakarta Bertahan Sejak Pra-Kemerdekaan

Rabu, 04 Februari 2026 - 07:45
Aroma Manis Kampung Tukangan: Kue Keranjang Legendaris Yogyakarta Bertahan Sejak Pra-Kemerdekaan Kue Keranjang Legendaris dari Kampung Tukangan Yogyakarta. (Foto: Pemkot Jogja)

TIMES JOGJA, YOGYAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk Kota Yogyakarta yang terus bergerak mengikuti zaman, sebuah tradisi lama masih setia dipertahankan tanpa banyak berubah. Berlokasi di Kampung Tukangan, Kelurahan Tegal Panggung, Kemantren Danurejan, sebuah dapur sederhana menjadi saksi hidup perjalanan warisan kuliner Tionghoa yang telah bertahan lintas generasi: pembuatan kue keranjang khas Imlek.

Menjelang Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 yang jatuh pada 17 Februari, aroma manis khas kue keranjang kembali menyeruak dari rumah milik Sianywati. Perempuan ini merupakan generasi kedua yang melanjutkan usaha keluarga membuat kue keranjang, tradisi yang telah dirintis sejak sebelum Indonesia merdeka.

Bagi warga sekitar, momen menjelang Imlek terasa kurang lengkap tanpa kehadiran kepulan uap dari pengukusan kue keranjang di rumah Sianywati. Bagi keluarga ini, kue keranjang bukan sekadar panganan musiman, melainkan simbol doa, harapan, dan kesinambungan nilai keluarga.

Warisan Nenek yang Tak Pernah Putus

Sianywati menceritakan bahwa tradisi membuat kue keranjang diwarisinya langsung dari sang nenek. Hingga kini, ia memilih setia mempertahankan cara-cara lama yang telah diajarkan sejak kecil.

Kue-Keranjang-Yogyakarta-2.jpgPekerja membuat kue keranjang Tukangan Yogyakarta. (Pemkot Yogyakarta)

“Usaha ini sudah ada sejak zaman nenek saya, jauh sebelum Indonesia merdeka. Sekarang saya yang meneruskan, jadi sudah generasi kedua,” ujar Sianywati sambil mengaduk adonan ketan dengan cekatan, Rabu (4/2/2026).

Menurutnya, kue keranjang memiliki filosofi mendalam dalam budaya Tionghoa. Bahan utama berupa beras ketan melambangkan keterikatan dan keharmonisan antarkeluarga, sementara rasa manisnya menjadi doa agar kehidupan berjalan penuh keberkahan.

“Ketan itu lengket, artinya supaya keluarga tetap rukun dan saling merekat. Rasanya manis, harapannya hidup juga manis—rezekinya, kariernya, hubungannya,” jelasnya.

Nama kue keranjang sendiri tak lepas dari sejarah pembuatannya. Dahulu, adonan kue dicetak menggunakan keranjang yang dialasi daun pisang, yang kemudian menjadi identitas khas makanan ini.

“Dulu benar-benar pakai keranjang dan daun pisang. Sekarang daun pisang susah, jadi banyak yang pakai kertas kaca,” tutur Sianywati.

Meski bahan pelapis berubah mengikuti ketersediaan zaman, esensi kue keranjang tetap sama. Kue ini menjadi sajian wajib saat Imlek, baik untuk disantap bersama keluarga maupun sebagai persembahan dalam ritual penghormatan kepada leluhur.

Proses Panjang, Rasa Tak Tergantikan

Keistimewaan kue keranjang buatan Sianywati terletak pada prosesnya yang nyaris tak tersentuh modernisasi. Semua tahapan masih dilakukan secara tradisional, dimulai dari mencuci beras ketan hingga bersih, menggilingnya menjadi tepung, lalu mengayaknya agar tekstur benar-benar halus.

Gula pasir direbus hingga mendidih, kemudian dicampurkan ke dalam tepung ketan hingga menjadi adonan kental. Menariknya, adonan ini tidak langsung dikukus, melainkan didiamkan selama kurang lebih satu hari sebelum dicetak.

Proses pengukusan pun memakan waktu panjang, yakni sembilan jam penuh, menggunakan kompor minyak tanah lawas. Pilihan ini bukan tanpa alasan.

“Kalau pakai kompor minyak tanah, panasnya lebih merata. Rasanya juga beda, lebih legit. Ini juga cara kami menjaga cara lama dari nenek,” ungkapnya.

Setelah matang, kue keranjang didinginkan sebelum dikemas. Meski tanpa bahan pengawet, kue keranjang ini mampu bertahan hingga satu tahun jika disimpan di dalam lemari pendingin.

Produksi Ratusan Kilogram Jelang Imlek

Menjelang Imlek, aktivitas dapur Sianywati meningkat drastis. Dalam sehari, ia mampu memproduksi sekitar 200 kilogram kue keranjang dengan lima variasi ukuran. Berat paling diminati adalah satu kilogram dan setengah kilogram, dengan pilihan kemasan isi tiga, empat, hingga lima buah.

Sebagian besar kue keranjang buatannya bahkan telah dipesan jauh hari oleh pelanggan setia. Untuk harga, satu buah kue keranjang dijual sekitar Rp55 ribu.

“Biasanya sudah dipesan duluan, jadi saya tinggal produksi sesuai pesanan,” katanya.

Meski permintaan terus meningkat dari tahun ke tahun, Sianywati memilih tidak menambah mesin atau mengubah metode produksi. Ia meyakini bahwa keaslian rasa justru lahir dari kesetiaan pada proses lama.

“Kalau diubah, rasanya bukan lagi warisan nenek,” ucapnya pelan.

Tak hanya aktif menjelang Imlek, dapur Sianywati tetap hidup sepanjang tahun. Di luar musim kue keranjang, ia mengisi hari-harinya dengan membuat bakcang—makanan khas Tionghoa berbahan beras yang dibungkus daun bambu dan berisi daging serta kacang.

“Kalau bukan Imlek, saya bikin bakcang. Itu juga sudah lama saya kerjakan,” tuturnya.

Baik kue keranjang maupun bakcang, semuanya dibuat dengan metode tradisional dan memiliki pelanggan setia yang terus kembali.

Harapan Sederhana Menyambut Imlek 2026

Bagi Sianywati, dapur bukan sekadar ruang produksi. Di sanalah kenangan tentang sang nenek hidup, kesabaran ditempa, dan warisan budaya dijaga agar tak hilang ditelan zaman.

Menjelang Imlek 2026, ia tak memanjatkan harapan muluk. Baginya, kesehatan adalah kunci agar tradisi ini tetap berlanjut.

“Harapan saya cuma satu, sehat. Kalau sehat, saya bisa terus bikin kue dan meneruskan usaha ini,” jelasnya. (*)

Pewarta : A Riyadi
Editor : Hendarmono Al Sidarto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jogja just now

Welcome to TIMES Jogja

TIMES Jogja is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.