https://jogja.times.co.id/
Berita

Surat Terakhir Siswa SD di Ngada NTT Bikin Haru, Diakhiri Gambar Anak Menangis

Kamis, 05 Februari 2026 - 09:02
Surat Terakhir Siswa SD di Ngada NTT Bikin Haru, Diakhiri Gambar Anak Menangis Surat tulisan tangan berbahasa daerah yang ditemukan di lokasi kejadian di Kabupaten Ngada, NTT. (FOTO: iNews.id)

TIMES JOGJA, NGADA – style="text-align:justify">Sebuah surat tulisan tangan milik siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyentuh hati publik setelah ditemukan di lokasi kejadian gantung diri seorang anak berusia 10 tahun. Surat tersebut berisi pesan perpisahan untuk sang ibu dan diakhiri dengan gambar wajah anak yang sedang menangis.

Surat itu ditemukan aparat Polres Ngada saat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kamis (29/1/2026) siang. Lokasi tersebut berada tak jauh dari pondok sederhana tempat korban tinggal bersama neneknya.

Korban diketahui berinisial YBS (10), siswa kelas IV SD. Ia ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh di sekitar area tempat tinggalnya.

Isi Surat Ditujukan untuk Ibu, Ditulis dalam Bahasa Daerah

Dalam surat yang ditulis menggunakan bahasa daerah Ngada, korban menyampaikan pesan perpisahan kepada ibunya yang ia panggil Mama Reti. Surat tersebut kini beredar luas dan viral di media sosial karena isi pesannya yang sederhana namun sangat emosional.

Tulisan tangan itu diawali dengan kalimat “Kertas Tii Mama Reti” yang berarti “Surat untuk Mama Reti”, lalu disusul pesan “Mama Galo Zee” atau “Mama, saya pergi dulu”.

Korban juga meminta sang ibu untuk merelakan kepergiannya dan tidak bersedih. Permintaan itu tertuang dalam kalimat “Mama molo Ja'o” dan “Galo mata Mae Rita ee Mama”. Di bagian akhir, korban menuliskan salam perpisahan “Molo Mama” yang berarti “Selamat tinggal, Mama”.

Yang paling menguatkan kesan pilu dari surat tersebut adalah gambar seorang anak dengan ekspresi menangis yang digoreskan di bagian akhir kertas.

Duka Dunia Pendidikan, Diduga Terkait Keterbatasan Ekonomi

Peristiwa ini menambah daftar duka di dunia pendidikan Indonesia. Informasi yang beredar menyebutkan, korban diduga mengalami tekanan karena keterbatasan ekonomi, termasuk kesulitan membeli perlengkapan sekolah seperti buku dan pulpen.

Keprihatinan mendalam turut disampaikan pakar pendidikan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Agus Sartono, MBA. Ia menilai tragedi ini tidak seharusnya terjadi di tengah berbagai program bantuan pendidikan yang tersedia.

“Saya tentu sangat prihatin atas kejadian ini,” ujar Prof Agus, Rabu (4/2/2026).

Prof Agus menjelaskan, berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, pendidikan dasar (SD dan SMP) menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota. Dengan sistem pendataan berjenjang melalui Dapodik serta data keluarga kurang mampu di Kemensos dan dinas sosial, anak-anak dari keluarga prasejahtera seharusnya terdeteksi dan mendapatkan bantuan.

“Anak-anak seperti ini mestinya berhak menerima KIP dan bantuan sosial lainnya,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Mahkamah Konstitusi telah memutuskan kewajiban negara dalam menyelenggarakan pendidikan 12 tahun gratis, sehingga tidak boleh ada anak yang terabaikan.

Lebih lanjut, Prof Agus menyoroti implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, program tersebut baik, namun perlu pengelolaan anggaran yang lebih realistis.

Ia mencontohkan, saat libur sekolah, program MBG tidak perlu berjalan penuh sehingga anggarannya dapat dialihkan untuk membantu anak-anak yang mengalami kesulitan ekonomi ekstrem.

“Jika satu hari belanja MBG mencapai Rp1 triliun, maka dana saat libur sekolah bisa sangat cukup untuk mencegah kasus-kasus seperti ini,” jelas Guru Besar FEB UGM tersebut.

Psikiater: Anak Tidak Ingin Mati, Tapi Tak Tahu Cara Bertahan

Dari sisi kesehatan jiwa, spesialis kejiwaan dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa anak usia 9–10 tahun belum memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen.

Menurutnya, tindakan ekstrem pada anak lebih sering muncul karena ketidakmampuan menghadapi beban psikologis yang terlalu berat.

“Anak tidak sedang ingin mati, ia sedang tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan beban yang terlalu berat,” ujarnya, dilansir detikcom, Kamis (5/2/2026).

Ia menambahkan, tekanan ekonomi keluarga sering kali terserap oleh anak, membuat mereka merasa menjadi penyebab kesulitan orang tua dan memikul rasa bersalah yang tidak semestinya.

“Ketika anak memikul beban orang dewasa, itu tanda sistem belum cukup memeluk,” paparnya. (*)

Pewarta : A. Tulung
Editor : Hendarmono Al Sidarto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jogja just now

Welcome to TIMES Jogja

TIMES Jogja is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.