https://jogja.times.co.id/
Berita

Rebung, Pangan Tradisional Kaya Serat yang Efektif Tekan Kolesterol dan Gula Darah

Rabu, 04 Februari 2026 - 15:49
Rebung, Pangan Tradisional Kaya Serat yang Efektif Tekan Kolesterol dan Gula Darah Ilustrasi- Rebung atau bambu muda. (FOTO: Freepik)

TIMES JOGJA, PACITAN – Di tengah tren pangan sehat dan fungsional, rebung atau bambu muda kembali menarik perhatian. Bahan pangan lokal yang telah dikonsumsi turun-temurun ini ternyata menyimpan potensi besar untuk membantu menurunkan kolesterol sekaligus mengontrol kadar gula darah.

Sejak lama, rebung menjadi bagian dari khazanah kuliner Nusantara. Dalam budaya Jawa, rebung kerap dimanfaatkan sebagai isian lumpia, bahan sayur lodeh, hingga alternatif pengganti nangka dalam gudeg. Sementara itu, masyarakat suku Rejang di Sumatra mengenal rebung fermentasi sebagai menu khas. Fakta ini menunjukkan bahwa rebung bukan pangan baru, melainkan warisan pangan berkelanjutan yang kaya manfaat kesehatan.

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof. Agung Endro Nugroho, menjelaskan bahwa rebung mengandung nutrisi penting yang terbagi dalam makronutrien dan mikronutrien. Dari sisi makronutrien, rebung tergolong rendah kalori dan lemak, mengandung protein nabati, serta memiliki kandungan serat yang sangat tinggi.

“Kandungan seratnya berperan dalam menghambat penyerapan gula, membantu menurunkan kolesterol, dan menjaga kadar glukosa darah tetap stabil. Indeks glikemik rebung juga relatif rendah, sehingga aman dikonsumsi penderita diabetes maupun individu dengan obesitas,” ujar Agung, Rabu (4/2/2026).

Tak hanya itu, rebung juga kaya mikronutrien. Di dalamnya terkandung mineral penting seperti kalium dan magnesium, serta vitamin B dan vitamin C yang mendukung fungsi tubuh secara menyeluruh. Rebung juga mengandung senyawa bioaktif seperti fenolik dan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan, serta fitosterol yang membantu menurunkan kadar kolesterol.

“Beberapa penelitian menunjukkan senyawa tersebut berpotensi bersifat antiinflamasi atau antiradang,” jelasnya.

Meski memiliki banyak manfaat, Agung mengingatkan bahwa rebung harus diolah dengan benar sebelum dikonsumsi. Rebung mentah mengandung glikosida sianogenik yang dapat menghasilkan hidrogen sianida jika tidak diolah dengan tepat.

“Perebusan selama 10 hingga 15 menit sudah cukup untuk menghilangkan senyawa berpotensi toksik tersebut. Air rebusannya harus dibuang, dan rebung tidak boleh dikonsumsi mentah,” tegasnya.

Menariknya, penelitian juga menunjukkan bahwa senyawa fenolik dan flavonoid dalam bambu mampu menghambat pembentukan akrilamida dan furan, senyawa berbahaya yang dapat muncul saat proses penggorengan atau pemanggangan suhu tinggi.

“Ini membuktikan bahwa bambu, termasuk rebung, justru dapat membuat pangan lebih aman bila diolah dengan cara yang benar,” tambah Agung.

Sebagai negara dengan sumber daya bambu yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan rebung sebagai pangan fungsional. Dengan kandungan serat tinggi, kalori rendah, dan manfaat kesehatan yang nyata, rebung bahkan berpotensi dikategorikan sebagai superfood.

“Rebung padat gizi, risikonya rendah, dan memiliki nilai ekonomi jika dimanfaatkan secara optimal. Kuncinya ada pada pengolahan yang benar, edukasi masyarakat, dan pemanfaatan berbasis ilmu pengetahuan,” paparnya (*)

Pewarta : A. Tulung
Editor : Hendarmono Al Sidarto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jogja just now

Welcome to TIMES Jogja

TIMES Jogja is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.