TIMES JOGJA, YOGYAKARTA – Cinta biasanya kita bayangkan sebagai sesuatu yang hangat, tulus, dan membahagiakan. Namun, dalam kasus love scam internasional yang baru-baru ini terbongkar di Sleman, cinta justru berubah menjadi alat manipulasi yang dingin, terstruktur, dan menguntungkan secara ekonomi, yang tidak hanya menipu dompet, namun kejahatan ini menipu otak dan emosi korbannya.
Para korban dalam kejahatan ini tidak dipaksa. Mereka tidak diancam. Mereka dirayu secara perlahan, konsisten, dan penuh perhatian.
Dalam psikologi, cinta bukan hanya urusan perasaan, melainkan juga proses biologis. Ketika seseorang merasa diperhatikan, dibalas cepat, dipuji, dan dibuat merasa istimewa, otak akan melepaskan dopamine, yaitu zat kimia yang sama yang muncul saat kita jatuh cinta, berharap, dan merasa terhubung.
Pada praktik love scam, sinyal-sinyal ini tidak muncul secara alami, melainkan direkayasa. Para operator chat dilatih untuk merespons dengan intensitas tertentu, membangun kedekatan emosional, dan menciptakan ilusi hubungan yang eksklusif.
Dalam hitungan hari atau minggu, korban mulai merasa “dekat”, meski tak pernah bertemu. Otak korban tidak membedakan apakah perhatian itu tulus atau dibuat-buat. Yang ia tangkap hanyalah satu hal: ada koneksi emosional.
Hubungan daring memberi ruang besar bagi imajinasi. Tanpa kehadiran fisik, otak mengisi kekosongan dengan harapan dan proyeksi ideal. Profil yang menarik, cerita hidup yang menyentuh, serta percakapan personal menciptakan apa yang disebut psikolog sebagai illusion of intimacy, yaitu rasa dekat yang terasa nyata, meski tidak berakar pada relasi sebenarnya.
Ironisnya, keintiman semacam ini sering terasa lebih kuat daripada hubungan nyata yang penuh kompromi. Dalam dunia digital, konflik bisa “diatur”, emosi bisa dimanipulasi, dan persona bisa dipoles sesuai kebutuhan.
Bagi korban, hubungan ini terasa aman, personal, dan bermakna. Padahal, yang terjalin bukan relasi, melainkan skenario. Skenario yang dirancang oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Pertanyaan yang sering muncul adalah: “Mengapa korban tidak berhenti saat mulai curiga?” Jawabannya ada pada cognitive dissonance, yaitu ketegangan psikologis ketika realitas bertabrakan dengan harapan.
Setelah seseorang menginvestasikan waktu, emosi, dan uang, mengakui bahwa semuanya palsu berarti menghadapi rasa malu, kehilangan, dan kegagalan diri.
Untuk menghindari luka itu, otak memilih jalan yang lebih “aman”: bertahan, memaklumi, dan berharap. “Mungkin dia memang sibuk.” “Mungkin dia punya alasan.” Bukan karena korban bodoh, melainkan karena otak sedang melindungi diri dari rasa sakit yang lebih besar.
Love scam tidak bekerja secara instan. Ia berjalan bertahap. Dimulai dari obrolan ringan, lalu meningkat ke kedekatan emosional, kemudian perlahan mengaitkan afeksi dengan transaksi. Hadiah kecil, koin digital, akses konten, yang semuanya dibingkai sebagai bentuk perhatian dan pembuktian cinta.
Dalam psikologi persuasi, ini dikenal sebagai teknik foot-in-the-door: permintaan kecil membuka jalan bagi permintaan yang lebih besar. Cinta dijadikan jembatan menuju eksploitasi. Yang dieksploitasi bukan hanya uang, tetapi juga harapan akan dicintai.
Menariknya, banyak pelaku lapangan bukan kriminal dalam bayangan kita. Mereka adalah pekerja dengan gaji, target harian, bonus, dan penilaian kinerja.
Manipulasi emosi dibingkai sebagai “tugas kerja”. Di sinilah terjadi moral disengagement, yaitu proses psikologis ketika seseorang memisahkan tindakan dari tanggung jawab moralnya.
Kalimat seperti “saya hanya admin chat” menjadi mekanisme bertahan agar rasa bersalah tidak muncul. Sistem membuat manipulasi terasa normal.
Love scam tumbuh subur di tengah masyarakat yang semakin terhubung, tetapi semakin kesepian. Banyak korban berada pada fase hidup yang rentan, yaitu masa dimana kehilangan pasangan, relasi sosial yang menipis, atau kebutuhan akan makna dan kedekatan. Para pelaku membaca celah ini dengan presisi. Mereka menjual bukan tubuh, bukan barang, tetapi emosi.
Love scam pada akhirnya adalah bagian dari ekonomi emosi, industri yang mengambil keuntungan dari kebutuhan paling dasar manusia: ingin dicintai dan diperhatikan.
Kasus ini memberi kita cermin yang jujur. Bahwa di era digital, manipulasi tidak selalu datang dalam bentuk ancaman. Ia bisa datang dalam bentuk perhatian. Bahwa cinta, jika tidak disertai kesadaran dapat melemahkan nalar.
Literasi digital saja tidak cukup. Kita juga perlu literasi emosional, yaitu kemampuan mengenali kapan perasaan kita sedang disentuh, diarahkan, dan dimanfaatkan. Karena ketika otak sudah mengira itu cinta, batas antara ketulusan dan manipulasi menjadi sangat tipis.
Dan mungkin, pertanyaan terpenting bagi kita semua adalah:
apakah kita cukup mengenal cara kerja emosi kita sendiri, sebelum menyerahkannya pada orang yang belum pernah kita temui?.
***
*) Oleh : Dr. Martaria Rizky Rinaldi, M.Psi., Psikolog.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : A. Tulung |
| Editor | : Hainorrahman |