Puasa Saat Melawan Kanker, Boleh atau Tidak? Dokter RSA UGM Jelaskan Parameter Medisnya
TIMES Jogja/Ilustrasi - Pasien menjalani kemoterapi di rumah sakit (FOTO: ANTARA)

Puasa Saat Melawan Kanker, Boleh atau Tidak? Dokter RSA UGM Jelaskan Parameter Medisnya

Puasa bagi pasien kanker tak bisa disamaratakan. Boleh/tidaknya sangat individual, tergantung kondisi klinis, terapi, dan gizi; wajib evaluasi dokter agar ibadah tetap aman.

TIMES Jogja,Senin 23 Februari 2026, 17:12 WIB
1.1K
A
A. Tulung

YOGYAKARTARamadan kerap menjadi momentum spiritual yang dinantikan umat Muslim, termasuk mereka yang tengah berjuang melawan kanker. Di tengah rangkaian terapi seperti kemoterapi dan radioterapi, keinginan untuk tetap menjalankan puasa sering kali muncul sebagai bentuk penguatan iman.

Namun, kondisi kesehatan pasien kanker menuntut pertimbangan medis yang cermat sebelum memutuskan berpuasa.

Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) menegaskan bahwa keputusan puasa bagi pasien kanker tidak bisa disamaratakan. Setiap pasien memiliki kondisi klinis yang berbeda sehingga perlu evaluasi menyeluruh sebelum Ramadan tiba.

Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Onkologi RSA UGM, dr. R. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B., Subsp.Onk(K), menjelaskan bahwa tidak semua pasien kanker otomatis dilarang berpuasa. Penentuan boleh atau tidaknya berpuasa harus didasarkan pada kondisi medis masing-masing individu.

“Keputusan tersebut sangat individual, tergantung kondisi klinis pasien,” ujarnya, Senin (23/2/2026).

Menurutnya, sejumlah faktor perlu diperhatikan, mulai dari jenis dan stadium kanker, status gizi, hingga terapi yang sedang dijalani. Penyakit penyerta seperti diabetes, gangguan ginjal, atau masalah jantung juga menjadi pertimbangan penting.

Efek Terapi dan Risiko Puasa bagi Pasien Kanker

Kemoterapi diketahui dapat menimbulkan efek samping berupa mual, muntah, hilang nafsu makan, serta kelelahan berat. Dalam kondisi tersebut, kebutuhan cairan dan nutrisi justru meningkat. Jika asupan kalori dan cairan terbatas selama puasa, risiko dehidrasi dan gangguan elektrolit dapat meningkat.

“Jika puasa berpotensi mengganggu terapi atau memperburuk kondisi klinis, maka sebaiknya ditunda,” tegas Tomo.

Radioterapi pun memiliki tantangan tersendiri, tergantung lokasi penyinaran. Pada terapi di area kepala dan leher, pasien bisa mengalami kesulitan menelan. Penyinaran di area perut dapat memicu mual hingga diare, sedangkan paparan di area luas sering menyebabkan fatigue atau kelelahan ekstrem.

Dalam kondisi tersebut, pembatasan makan dan minum saat puasa dapat meningkatkan risiko penurunan berat badan signifikan serta dehidrasi. Dampaknya tidak hanya pada kondisi umum pasien, tetapi juga berpotensi menghambat kelanjutan pengobatan kanker.

Beberapa kelompok pasien umumnya tidak dianjurkan berpuasa, seperti mereka dengan kanker stadium lanjut disertai kondisi umum yang buruk, malnutrisi berat, atau cachexia. Pasien yang sedang menjalani kemoterapi intensif di siklus awal maupun mengalami komplikasi seperti infeksi berat dan gangguan fungsi ginjal juga perlu berhati-hati.

Risiko yang dapat muncul apabila pasien memaksakan diri berpuasa antara lain hipoglikemia, gangguan elektrolit, dehidrasi, hingga penurunan berat badan cepat. Dalam sejumlah kasus, kondisi tersebut bisa menyebabkan penundaan terapi yang berdampak pada efektivitas pengobatan.

Syarat Aman Puasa Ramadan bagi Pasien Kanker

Meski demikian, pasien kanker dengan kondisi stabil tetap berpeluang menjalankan puasa dengan pengawasan ketat tenaga medis. Evaluasi kesehatan sebelum Ramadan sangat dianjurkan untuk menilai kesiapan tubuh serta menyesuaikan jadwal konsumsi obat.

Pasien juga disarankan mencukupi kebutuhan cairan sekitar 1,5–2 liter antara waktu berbuka hingga sahur, jika kondisi memungkinkan. Pola makan tinggi kalori dan protein diperlukan untuk menjaga berat badan serta daya tahan tubuh. Alternatif lain, puasa dapat dilakukan secara selang-seling sesuai toleransi fisik.

Apabila muncul keluhan berat seperti pusing hebat, muntah terus-menerus, atau tanda dehidrasi, pasien dianjurkan segera membatalkan puasa demi keselamatan.

“Puasa adalah ibadah yang mulia, tetapi menjaga kesehatan dan keselamatan jiwa juga bagian dari ibadah,” paparnya.  (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:A. Tulung
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Yogyakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.