Pakar Kesehatan Ingatkan Risiko Serius Kehamilan Usia Remaja bagi Ibu dan Bayi
Komplikasi seperti preeklamsia, kelahiran prematur, hingga meningkatnya risiko kematian ibu dan bayi perlu diwaspadai sejak dini.
YOGYAKARTA – Kehamilan usia remaja menyimpan risiko kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan kehamilan pada usia dewasa.
Komplikasi seperti preeklamsia, kelahiran prematur, hingga meningkatnya risiko kematian ibu dan bayi perlu diwaspadai sejak dini.
Hal tersebut disampaikan staf pengajar Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Al-Irsyad Cilacap, Pri Hastuti, S.SiT., M.Keb., CHE, dalam pertemuan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM), Jumat (20/2/2026).
Ia menekankan pentingnya perencanaan keluarga dan rekomendasi usia ideal pernikahan sebagaimana dianjurkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) guna menekan risiko kehamilan pada usia terlalu muda.
Edukasi Reproduksi Sejak Dini
Dalam paparannya bertajuk Kesehatan Reproduksi Perempuan, Pri Hastuti memaparkan pemahaman menyeluruh mengenai kesehatan reproduksi perempuan sejak masa remaja hingga menopause.
Ia menegaskan bahwa kesehatan reproduksi tidak sekadar bebas dari penyakit, melainkan mencakup kondisi fisik, mental, dan sosial secara utuh.
Mengacu pada definisi World Health Organization (WHO), kesehatan reproduksi berkaitan dengan seluruh aspek sistem reproduksi, fungsi, serta prosesnya.
“Perempuan perlu memahami tubuhnya sejak dini, mulai dari masa pubertas, menstruasi, hingga fase menopause. Edukasi ini penting agar setiap perempuan mampu menjaga dan mengambil keputusan terbaik terkait kesehatan reproduksinya,” ujarnya.
Kesiapan Biologis dan Sosial Perempuan
Pri Hastuti yang juga Kepala Sekolah TPA PAUD Athahira, Sewon, Bantul, menjelaskan proses fisiologis pubertas, menarche, hingga siklus menstruasi, termasuk peran hormon seperti estrogen dan GnRH dalam mengatur sistem reproduksi.
Peserta memperoleh pemahaman tentang perubahan anatomi dan fisiologi pada remaja perempuan serta pentingnya kesiapan biologis, psikologis, dan sosial sebelum memasuki usia pernikahan.
Selain isu remaja, materi juga membahas persoalan kesehatan reproduksi yang kerap dialami perempuan dewasa, seperti gangguan haid, infeksi menular seksual (IMS), infertilitas, hingga perubahan fisik dan psikis pada masa menopause.
Edukasi ini diharapkan mendorong kesadaran untuk melakukan deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen DWP Fapet UGM dalam meningkatkan literasi kesehatan anggota. Wakil Ketua DWP Fapet, Sri Hastuti, S.Pt., M.P., berharap para ibu dapat menjadi agen edukasi di keluarga dan lingkungan sekitar.
“Kami berharap kegiatan ini memberikan manfaat nyata dan mendorong para ibu untuk aktif menyebarkan edukasi kesehatan reproduksi,” paparnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



