Ekonomi Lesu di Sleman, UMKM Sepi Order Jelang Ramadan: Pemerintah dan Swasta Harus Bergerak Cepat
TIMES Jogja/Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sleman, Yudi Prihantana SE. (FOTO: A Riyadi/TIMES Indonesia)

Ekonomi Lesu di Sleman, UMKM Sepi Order Jelang Ramadan: Pemerintah dan Swasta Harus Bergerak Cepat

Ekonomi Sleman dan Yogyakarta melambat, daya beli turun dan UMKM sepi order. Wisatawan datang namun belanja menurun. Dunia usaha minta langkah konkret jelang Ramadan untuk jaga ekonomi daerah.

TIMES Jogja,Kamis 12 Februari 2026, 17:06 WIB
4.1K
A
A Riyadi

SLEMANKondisi perekonomian nasional yang belum sepenuhnya pulih mulai terasa dampaknya hingga ke daerah, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta, sejumlah pelaku usaha mengeluhkan perlambatan ekonomi yang ditandai dengan menurunnya daya beli masyarakat serta lesunya sektor pariwisata.

Situasi ini menjadi perhatian serius kalangan dunia usaha. Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sleman, Yudi Prihantana SE, menegaskan bahwa roda ekonomi di Kabupaten Sleman saat ini bergerak lebih lambat dibanding tahun sebelumnya.

“Situasi ekonomi memang berjalan lambat, khususnya di Sleman. Ini kami amati dari berbagai testimoni pelaku usaha, terutama di sektor pariwisata dan UMKM,” ujar Yudi.

Menurut Yudi, banyak pelaku UMKM di Sleman dan Yogyakarta mulai merasakan penurunan omzet secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir terutama pasca liburan tahun baru. Keluhan paling sering disampaikan adalah berkurangnya pesanan, baik dari konsumen lokal maupun wisatawan.

“Banyak pelaku UMKM yang mengeluh, sepi order,” tandas Yudi.

Kondisi ini menjadi ironi bagi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang selama ini dikenal sebagai kota wisata, pendidikan, dan ekonomi kreatif. Sektor UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah justru mengalami tekanan di tengah situasi global yang belum stabil.

Perlambatan ini akan semakin terasa menjelang bulan suci Ramadan. Biasanya, Ramadan menjadi momentum peningkatan konsumsi masyarakat. Namun, jika daya beli masih rendah, lonjakan ekonomi musiman dikhawatirkan tidak terjadi secara signifikan.

Harga kebutuhan pokok yang cenderung meningkat menjelang Ramadan berpotensi semakin menekan pengeluaran rumah tangga. Di sisi lain, pendapatan masyarakat belum menunjukkan peningkatan berarti.

Wisatawan Datang, Tapi Belanja Menurun

Kondisi lesunya ekonomi juga dirasakan pelaku usaha oleh-oleh. Owner Bakpia Jogkem, Sutarto, mengungkapkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke tokonya memang masih ada, tetapi tidak seramai tahun sebelumnya.

“Kunjungan ke toko sih ada, tapi tidak seramai tahun 2024. Tidak semua rombongan wisatawan beli oleh-oleh,” terang Sutarto.

Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi wisatawan. Jika sebelumnya hampir setiap rombongan wisata membeli oleh-oleh dalam jumlah besar, kini pembelian cenderung selektif dan lebih hemat.

Penurunan belanja wisatawan berdampak langsung pada perputaran uang di sektor UMKM, transportasi, hingga tenaga kerja harian. Efek domino ini bisa meluas apabila tidak segera diantisipasi dengan kebijakan strategis.

Faktor Global dan Nasional

Secara makro, perlambatan ekonomi dipengaruhi oleh situasi global yang belum sepenuhnya stabil. Ketidakpastian ekonomi dunia, fluktuasi harga komoditas, serta dinamika geopolitik berimbas pada ekonomi nasional.

Di tingkat nasional, masyarakat masih berhati-hati dalam membelanjakan uang. Prioritas pengeluaran cenderung dialihkan pada kebutuhan pokok dan menunda pembelian sekunder seperti wisata dan oleh-oleh.

Yogyakarta yang sangat bergantung pada sektor pariwisata dan konsumsi mahasiswa pun ikut terdampak. Jika wisatawan dan konsumsi rumah tangga melemah, maka perputaran ekonomi daerah ikut melambat.

Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah maupun pusat. Dibutuhkan langkah konkret dan terukur untuk menjaga daya beli masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Stabilisasi Harga dan Pasokan Pangan
    Pemerintah perlu memastikan distribusi bahan pokok menjelang Ramadan berjalan lancar. Operasi pasar dan subsidi tepat sasaran menjadi kunci menjaga daya beli masyarakat.
  2. Dorongan Belanja Produk Lokal
    Kampanye masif “Bangga Buatan Indonesia” di level daerah perlu diperkuat. ASN dan instansi pemerintah bisa diarahkan untuk memprioritaskan belanja produk UMKM lokal.
  3. Event dan Calendar of Event Wisata yang Agresif
    Pemerintah daerah perlu memperbanyak event berskala regional maupun nasional guna mendongkrak kunjungan wisatawan ke Sleman dan Yogyakarta.
  4. Insentif Pajak dan Kemudahan Perizinan
    Relaksasi pajak daerah serta penyederhanaan perizinan usaha dapat membantu pelaku usaha bertahan di tengah tekanan ekonomi.

Peran Swasta dan Dunia Usaha

Tidak hanya pemerintah, sektor swasta juga harus adaptif. Dunia usaha perlu berinovasi, memperkuat pemasaran digital, dan menyesuaikan produk dengan daya beli pasar.

Kolaborasi antarpelaku usaha, seperti paket wisata terintegrasi antara hotel, transportasi, dan UMKM oleh-oleh, dapat meningkatkan nilai belanja wisatawan.

Selain itu, pemanfaatan platform digital dan marketplace perlu dimaksimalkan agar pasar tidak hanya bergantung pada kunjungan fisik wisatawan.

Perlambatan ekonomi bukan sekadar angka statistik, tetapi realitas yang dirasakan langsung pelaku usaha kecil. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini berpotensi memicu gelombang pengurangan tenaga kerja dan meningkatnya angka pengangguran.

Kabupaten Sleman dan Yogyakarta memiliki potensi besar di sektor pariwisata, pendidikan, ekonomi kreatif, dan UMKM. Namun potensi tersebut perlu didukung kebijakan yang responsif, inovatif, dan kolaboratif.

Momentum menjelang Ramadan seharusnya menjadi titik balik kebangkitan ekonomi lokal, bukan justru periode kekhawatiran baru bagi pelaku usaha.

Sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat menjadi kunci agar perekonomian Sleman dan Yogyakarta tidak hanya bertahan, tetapi kembali melaju lebih tinggi dan berkelanjutan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:A Riyadi
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Yogyakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.