https://jogja.times.co.id/
Berita

Leptospirosis Mengganas di Kota Jogja Sepanjang 2025, Dinkes Buka Fakta Bahaya Flu Tikus

Jumat, 06 Februari 2026 - 08:54
Leptospirosis Mengganas di Kota Jogja Sepanjang 2025, Dinkes Buka Fakta Bahaya Flu Tikus Dinkes Kota Yogyakarta melakukan pemasangan jebakan untuk menangkap tikus di LP Wirogunan. (Foto: Pemkot Jogja)

TIMES JOGJA, YOGYAKARTA – style="text-align:justify">Kasus leptospirosis di Kota Yogyakarta menunjukkan tren peningkatan signifikan sepanjang tahun 2025. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mencatat, jumlah kasus melonjak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Meski begitu, peningkatan ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh melonjaknya penularan, melainkan karena sistem deteksi dan skrining di fasilitas layanan kesehatan yang kini semakin ketat dan aktif.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, mengungkapkan bahwa pada 2024 hanya ditemukan 10 kasus leptospirosis. Sementara pada 2025, jumlah kasus yang tercatat meningkat menjadi 34 kasus.

“Angka ini meningkat karena kewaspadaan puskesmas juga meningkat. Sekarang, setiap pasien demam yang memiliki faktor risiko langsung dipertimbangkan kemungkinan leptospirosis,” kata Endang, Jumat (6/2/2026).

Deteksi Dini Lebih Aktif, Kasus Lebih Cepat Terungkap

Endang menegaskan, selama ini leptospirosis kerap luput terdeteksi karena gejalanya mirip penyakit ringan. Dengan sistem skrining yang lebih agresif, kasus-kasus yang sebelumnya tidak terlaporkan kini bisa teridentifikasi sejak dini.

“Ini menunjukkan sistem pelayanan kesehatan kita makin waspada. Bukan berarti penularan melonjak drastis, tetapi temuan kasus menjadi lebih cepat dan akurat,” jelasnya.

Leptospirosis atau Flu Tikus, Penyakit Zoonosis yang Berbahaya

Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Dinkes Kota Yogyakarta, Anandi Iedha Retnani, menjelaskan bahwa leptospirosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini bersifat zoonosis, yakni ditularkan dari hewan ke manusia.

“Penularannya paling sering melalui tikus, sehingga masyarakat mengenalnya sebagai flu tikus. Namun sebenarnya bakteri ini juga bisa berasal dari hewan lain seperti babi, kuda, dan kambing,” ungkap Anandi.

Bakteri Leptospira dapat masuk ke tubuh manusia melalui kulit yang luka atau lecet, serta melalui selaput lendir seperti mata, hidung, dan mulut. Penularan umumnya terjadi saat seseorang melakukan kontak dengan air, tanah, atau lingkungan yang tercemar urine hewan terinfeksi.

Pekerja Lapangan hingga Lingkungan Kumuh Jadi Kelompok Rentan

Menurut Anandi, tidak semua orang memiliki risiko yang sama untuk terpapar leptospirosis. Risiko sangat bergantung pada tingkat paparan, yang umumnya berkaitan dengan jenis pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.

“Kelompok berisiko tinggi antara lain pekerja sawah, perkebunan, peternakan, rumah potong hewan (RPH), petugas kebersihan, serta masyarakat yang sering beraktivitas di lingkungan dengan genangan air, banjir, area peternakan, sanitasi buruk, dan populasi tikus yang tinggi,” terangnya.

Kondisi cuaca dan lingkungan yang lembap juga dapat memperbesar peluang bakteri bertahan hidup dan menularkan penyakit ke manusia.

Gejala Awal Kerap Dianggap Sepele

Anandi menyoroti bahwa salah satu tantangan utama dalam penanganan leptospirosis adalah rendahnya kewaspadaan terhadap gejala awal. Banyak pasien datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi terlambat.

“Gejala awalnya berupa demam, nyeri otot, dan badan terasa lemas. Ini sering disangka hanya masuk angin atau kelelahan biasa,” jelasnya.

Padahal, jika tidak segera ditangani, leptospirosis dapat berkembang menjadi kondisi serius seperti gagal ginjal, bahkan membuat pasien harus menjalani cuci darah.

Puskesmas Perketat Skrining Pasien Demam

Untuk menekan risiko komplikasi, Dinkes Kota Yogyakarta kini menekankan pentingnya deteksi dini. Puskesmas diminta melakukan skrining lebih ketat terhadap pasien demam yang memiliki riwayat paparan lingkungan berisiko.

“Pemeriksaan yang dilakukan meliputi PCR yang efektif mendeteksi pada fase awal infeksi, Rapid Diagnostic Test (RDT) yang optimal setelah tujuh hari demam, serta MAT sebagai pemeriksaan konfirmasi,” kata Anandi.

Sampel pasien juga dapat dirujuk ke laboratorium rujukan, termasuk Balai Besar Laboratorium Kesehatan, guna memastikan diagnosis secara akurat.

Meski berpotensi menyebabkan komplikasi serius, leptospirosis sebenarnya dapat dicegah dengan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di lingkungan berisiko.

“Langkah pencegahan meliputi mencuci tangan dan kaki dengan sabun setelah beraktivitas di luar rumah, menggunakan alas kaki dan sarung tangan saat kerja bakti atau membersihkan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan air banjir tanpa pelindung, menjaga kebersihan rumah, serta mengendalikan populasi tikus,” tegas Anandi.

Dinkes Kota Yogyakarta juga mengimbau masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan kesehatan apabila mengalami demam disertai nyeri otot setelah kontak dengan lingkungan kotor atau genangan air.

“Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang mencegah komplikasi berat,” jelasnya. (*)

Pewarta : Soni Haryono
Editor : Hendarmono Al Sidarto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jogja just now

Welcome to TIMES Jogja

TIMES Jogja is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.