Dwi Lestari, Motor Kebaikan yang Menyusuri Desa-Desa di Gunungkidul Antar Makanan untuk Lansia
Di Karangmojo, Dwi Lestari tiap hari mengantar dua bungkus makanan hangat ke lansia dan difabel, menembus jalan terjal, membawa kasih sayang dan teman ngobrol.
GUNUNGKIDUL – Saat sebagian orang merayakan Hari Valentine dengan bunga dan cokelat, di pelosok desa Kapanewon Karangmojo, makna kasih sayang justru hadir lewat dua bungkus makanan hangat yang diantar langsung ke rumah warga rentan. Di balik kegiatan sederhana itu, ada sosok perempuan bernama Dwi Lestari yang setiap hari menembus jalan berbatu demi memastikan bantuan sampai tepat sasaran.
Bagi para lansia dan penyandang disabilitas di sejumlah kalurahan di Kapanewon Karangmojo, nama Dwi bukanlah hal asing. Ia bukan pejabat atau tokoh publik, melainkan petugas distribusi yang setia mengantar makanan dari program pemerintah daerah. Dengan sepeda motor matic dan keranjang di jok belakang, ia menyusuri jalur sempit, menanjak, bahkan licin saat hujan.
Medan Sulit Tak Surutkan Niat
Wilayah Gunungkidul memang dikenal memiliki kontur berbukit dan akses jalan desa yang menantang. Di musim hujan, kondisi itu kerap membuat distribusi bantuan semakin sulit. Namun, bagi Dwi, hal tersebut bukan alasan untuk berhenti.
“Kalau hujan memang harus lebih hati-hati. Tapi saya sudah hafal jalannya. Yang penting makanannya sampai,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).
Ia menegaskan, tugasnya bukan sekadar mengantar bantuan. Di banyak kesempatan, ia juga menjadi teman berbincang bagi para penerima manfaat. “Kadang mereka cuma butuh ditemani ngobrol. Saya anggap seperti orang tua sendiri,” katanya.
Lebih dari Sekadar Bantuan Makanan
Kedatangan Dwi selalu dinanti. Seperti yang dirasakan Mbah Sandep, lansia yang sejak pagi menunggu suara motor di depan rumahnya. Begitu Dwi tiba, wajahnya langsung berbinar.
“Kalau Mbak Dwi datang, rasanya senang. Ada yang peduli sama saya,” tuturnya.
Bagi Mbah Sandep, dua paket makanan yang diterima memang penting. Namun, percakapan singkat setiap pagi justru menjadi momen paling berharga.
Hal serupa dirasakan Sajiyem, lansia dengan gangguan penglihatan akibat glaukoma. Ia mengenali Dwi dari suara sapaan khasnya.
“Kalau belum datang, saya tanya terus, sudah siang belum,” ujarnya sambil tersenyum.
Menurut Sajiyem, bantuan tersebut bukan hanya soal kebutuhan perut. “Alhamdulillah bisa makan cukup. Tapi yang bikin hati senang itu ada yang datang dan ngajak ngomong,” katanya.
Program Pemkab untuk 1.112 Penerima Manfaat
Program makan gratis ini merupakan inisiatif Pemerintah Kabupaten Gunungkidul yang menyasar 1.112 penerima manfaat, terdiri atas lansia, penyandang disabilitas, hingga anak telantar. Peluncuran program dilakukan secara simbolis di Kalurahan Gedangrejo, sementara distribusi dilakukan serentak di wilayah sasaran.
Sekretaris Daerah Gunungkidul, Sri Suhartanta, menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat rentan.
“Program ini diharapkan mampu meningkatkan asupan nutrisi dan daya tahan tubuh para penerima. Ini adalah bentuk nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat,” ujarnya.
Pengawasan pelaksanaan dilakukan oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Gunungkidul. Menjelang Ramadan, jadwal distribusi akan disesuaikan agar makanan dapat diterima menjelang waktu berbuka puasa.
Di balik angka 1.112 penerima manfaat, tersimpan cerita-cerita kecil yang menghangatkan hati. Ada lansia yang merasa tak lagi sendiri, ada keluarga yang sedikit lebih tenang, dan ada Dwi Lestari yang setiap hari mengendarai motornya menembus jalan desa demi memastikan bantuan tiba tepat waktu.
“Selama saya masih bisa naik motor, saya akan terus antar. Semoga ini jadi berkah,” paparnya (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



