Kiprah Avindo Giesal Vana Seven Textanic Rawat Tradisi Nusantara Lewat Advokasi 'Budaya Nusa'
RunnerUp 2 Miss Hijab Pendidikan DIY 2025, Avindo Giesal Vana Seven Textanic. (FOTO: Avin for TIMES Indonesia)

Kiprah Avindo Giesal Vana Seven Textanic Rawat Tradisi Nusantara Lewat Advokasi 'Budaya Nusa'

Dara yang akrab disapa dengan Avin ini membuktikan bahwa peran generasi muda tidak sekadar menjadi penikmat zaman, tetapi juga garda terdepan pelestari identitas bangsa melalui gagasan dan gerakan nyata.

TIMES Jogja,Selasa 18 Agustus 2026, 04:26 WIB
204
W
Wandi Ruswannur

BANTULKesadaran untuk merawat warisan tradisi Nusantara kerap lahir dari langkah-langkah kecil anak muda.

Langkah itu pula yang kini diayunkan oleh Avindo Giesal Vana Seven Textanic, sosok muda bertalenta asal Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Dara yang akrab disapa dengan Avin ini membuktikan bahwa peran generasi muda tidak sekadar menjadi penikmat zaman, tetapi juga garda terdepan pelestari identitas bangsa melalui gagasan dan gerakan nyata.

Anak kedua dari dua bersaudara ini saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester empat program studi Ilmu Hukum di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). 

Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, Avin menjalani profesi yang beragam, mulai dari muse model, pelatih bulutangkis, hingga nailist. 

Kegemarannya pada dunia pemodelan, olahraga lari, dan bulutangkis turut membentuk ketangguhan fisik serta kepribadiannya dalam menjangkau masyarakat luas.

Dalam hal ini semangat juangnya dalam berkarya kian terarah saat ia mendirikan sebuah gerakan advokasi yang dinamakan dengan Budaya Nusa. 

Melalui akun media sosial Instagram @avindogiesal dan @budayanusa, Avin berupaya membagikan berbagai kisah, pengetahuan, dan pemahaman terkait kekayaan seni budaya Indonesia.

Mengenalkan Tradisi Lewat Pengalaman Langsung

Advokasi Budaya Nusa hadir sebagai wadah inklusif bagi generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan melestarikan warisan tradisi dengan pendekatan yang lebih dekat serta menyenangkan.

"Lewat wadah ini konten edukasi seperti seni tari, motif batik, hingga seluk-beluk tradisi lokal dikemas secara modern di media sosial agar mudah diterima kalangan sebaya," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (17/8/2026).

Langkahnya tidak berhenti di dalam ranah digital semata.

Perempuan muda ini memilih turun langsung ke pelataran desa-desa di wilayah Bantul untuk mengajak masyarakat dan anak-anak menari bersama serta menghidupkan kembali aneka permainan tradisional.

"Menurut saya belajar budaya tidak hanya dilakukan melalui buku atau pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung dan interaksi dengan masyarakat," kata Avin menjabarkan.

Saat menceritakan esensi dari gerakannya, Avin menjelaskan bahwa interaksi tatap muka mampu membangun ikatan emosional yang jauh lebih kuat antara pemuda dan warisan leuhurnya.

Peluang serta Tantangan Edukasi Budaya

Perkembangan teknologi informasi memberikan ruang gerak yang sangat luas bagi keberlanjutan Budaya Nusa.

Kedekatan generasi muda dengan media sosial menjadi modal utama untuk mengemas kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam menjadi tontonan menarik sekaligus mengedukasi.

Meski demikian, tantangan di lapangan tetap membayang-bayangi perjalanan advokasi ini. Stigma bahwa kebudayaan tradisional terkesan kuno kerap berbenturan dengan pesatnya tren modern yang beredar di jejaring sosial.

Kemudian lebih lanjut Avin mengungkapkan bahwa tantangan terberat terletak pada konsistensi menggerakkan pemuda dari sekadar penonton menjadi pelaku utama. 

"Bagi saya menjaga agar generasi muda tidak hanya mengetahui budaya dari layar gawai, tetapi juga bersedia terlibat dan mempraktikkannya secara langsung adalah kunci utama," ungkapnya sembari tersenyum manis.

Ia memaparkan rencananya untuk mengembangkan gerakan ini ke skala yang lebih luas.

Avin berharap Budaya Nusa kelak memfasilitasi kelas tari, pelatihan membatik, ajang permainan tradisional, hingga ruang diskusi sejarah yang terus melibatkan partisipasi warga lokal.

Capaian Prestasi dan Jejak Karier

Lebih jauh perjalanan Avin dalam menginspirasi publik hingga saat ini dibentuk oleh jejak panjang prestasi dan pengalaman kerja di bidang olahraga maupun seni. 

Sebelum dikenal luas lewat perannya sebagai Duta Hijab Indonesia 2025 serta RU 2 Miss Hijab Pendidikan DIY 2025, ia telah mengukir belasan gelar kejuaraan di arena bulutangkis sejak kurun waktu 2021 hingga 2025.

Pada rentang tahun 2021, Avin meraih Juara 2 dan Juara 3 Ganda Taruna Putri pada Liga Bulutangkis DIY Seri ke-12, serta Juara 3 Ganda Dewasa Putri pada Kejuaraan Walikota Cup Yogyakarta. 

Keunggulannya berlanjut di tahun 2022 dengan raihan Juara 2 Ganda Remaja Putri, Juara 3 Tunggal Taruna Putri, dan Juara 3 Ganda Dewasa Campuran dalam Liga Bulutangkis DIY ke-14. 

Dia juga meraih posisi Juara 3 Tunggal Remaja Putri serta Juara 3 Ganda Remaja Putri pada ajang Walikota Cup Yogyakarta, ditambah capaian Juara 2 Ganda Campuran pada Bulutangkis Cakrawala Cup.

Sederet gelar kembali dikumpulkannya sepanjang tahun 2023, meliputi Juara 3 Ganda Taruna Putri pada Kejurda PBSI DIY, Juara 3 Ganda Taruna Putri pada Liga Bulutangkis DIY dan Jateng Seri XVII serta Seri XVIII, Juara 2 Tunggal Taruna Putri dan Juara 3 Ganda Campuran pada Sirkuit Bulutangkis Kota Yogyakarta. 

"Adapun di bidang fashion alhamdulillah saya telah mengantongi Sertifikat Penilaian dari Anggraini Modeling," tutur Avin dengan nada penuh semangat di tengah kegiatan sosialisasi advokasinya.

Memasuki tahun 2025, prestasinya terus bertambah lewat Penghargaan Model pada Bollywood Fashion Show Anggraini Modeling, Juara 2 Ganda Dewasa Putri pada Dwi Manunggal Kejurkot Walikota Open PBSI Kota Yogyakarta, serta Penghargaan Prestasi dan Motivasi pada Pemilihan Model Jeans dan Kacamata.

Semua pengalaman karier sebagai Coach badminton, Muse model, dan Nailist tersebut menempa kedisiplinan Avin dalam mengelola kegiatan advokasi budaya di tengah padatnya jam belajar akademik.

Kolaborasi dan Harapan Masa Depan

Keberhasilan gerakannya tidak lepas dari ekosistem dukungan penuh di sekitar Avin.

Dorongan dari orang tua memberikan keberanian moril baginya untuk terjun langsung ke tengah masyarakat, sementara rekan-rekan sebaya turut membantu menyumbangkan ide kreatif serta mendampingi setiap kegiatan di lapangan.

Keterlibatan masyarakat desa dan berbagai pihak terkait menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan aksi sosial ini.

Avin mengutarakan keyakinannya bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dikerjakan secara kolektif.

"Kita tidak harus menjadi ahli budaya untuk ikut melestarikannya. Hal sederhana seperti belajar menari, mencoba membatik, memainkan permainan tradisional, atau sekadar membagikan informasi tentang budaya juga merupakan bentuk kepedulian," imbuh Avin.

Melalui sinergi antara generasi muda dan warga lokal, lebih khusus Budaya Nusa diharapkan terus tumbuh menjadi wadah yang menjaga agar identitas budaya Indonesia tidak runtuh tergerus arus zaman. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Wandi Ruswannur
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Yogyakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.