Terdeteksi 1.333 Kasus TBC, Dinkes Kota Yogyakarta Targetkan Pengobatan Tuntas 2026
Sebanyak 1.333 kasus TBC terdeteksi di Kota Yogyakarta. (FOTO: Pemkot Yogyakarta for TIMES Indonesia)

Terdeteksi 1.333 Kasus TBC, Dinkes Kota Yogyakarta Targetkan Pengobatan Tuntas 2026

Memasuki tahun 2026, Pemkot Yogyakarta menargetkan penguatan tiga aspek utama, yakni penemuan kasus secara aktif, keberhasilan pengobatan hingga tuntas.

TIMES Jogja,Jumat 13 Februari 2026, 08:31 WIB
4.3K
A
A Riyadi

YOGYAKARTADinas Kesehatan atau Dinkes Kota Yogyakarta terus menggencarkan upaya pengendalian Tuberkulosis (TBC) menyusul tingginya angka temuan kasus sepanjang 2025.

Sebanyak 1.333 kasus TBC tercatat terdiagnosis dan menjalani pengobatan di berbagai fasilitas kesehatan di Kota Yogyakarta.

Memasuki tahun 2026, Pemkot Yogyakarta menargetkan penguatan tiga aspek utama, yakni penemuan kasus secara aktif, keberhasilan pengobatan hingga tuntas, serta perluasan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak erat.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu, mengatakan tingginya angka temuan kasus menunjukkan sistem deteksi berjalan cukup baik.

Namun, masih ada tantangan dalam pemeriksaan kontak serumah pasien.

“Penemuan kasus sudah cukup tinggi. Tetapi pemeriksaan terhadap kontak serumah masih perlu ditingkatkan agar penularan bisa ditekan lebih cepat,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).

Separuh Pasien Bukan Warga Kota Yogyakarta

Dari 1.333 kasus tersebut, sekitar 600 pasien merupakan warga ber-KTP Kota Yogyakarta, sementara sisanya berasal dari luar daerah yang menjalani pengobatan di fasilitas kesehatan di kota ini.

Tingginya mobilitas penduduk serta kepadatan kawasan perkotaan menjadi faktor yang memengaruhi risiko penularan TBC.

Sebagai penyakit menular melalui udara (airborne disease), TBC sangat mudah menyebar di lingkungan padat dengan ventilasi buruk dan minim cahaya matahari.

“Jika dalam satu rumah ada satu orang yang terkena TB, risiko penularannya besar, apalagi jika rumah lembap dan sirkulasi udara tidak baik,” jelas dr. Endang.

Program perbaikan rumah tidak layak huni yang digagas Pemkot Yogyakarta dinilai turut berkontribusi dalam pencegahan, karena kualitas hunian yang sehat menjadi salah satu kunci memutus rantai penularan.

Fokus Investigasi Kontak di Tengah Efisiensi Anggaran

Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Dinkes Kota Yogyakarta memilih mengoptimalkan strategi investigasi kontak sebagai langkah efektif dan efisien.

Setiap ditemukan satu kasus TBC, petugas langsung melakukan skrining terhadap anggota keluarga, rekan kerja, hingga tetangga yang memiliki kontak erat.

Mereka yang menunjukkan gejala akan diperiksa lebih lanjut, sementara yang belum bergejala namun berisiko akan mendapatkan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).

“Infeksi TB tidak selalu langsung menjadi sakit. Dengan terapi pencegahan, kita bisa menekan risiko berkembang menjadi TB aktif,” katanya.

Namun demikian, efisiensi anggaran berdampak pada berkurangnya dukungan kader komunitas dalam pelacakan pasien putus obat. Saat ini, prioritas difokuskan pada investigasi kontak dan penguatan pemantauan pengobatan.

Tantangan Keberhasilan Pengobatan dan Angka Kematian

Epidemiolog Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Setyo Gati Candra Dewi, menjelaskan tiga indikator utama dalam pengendalian TBC, yaitu:

  • 90 persen estimasi kasus harus ditemukan,
  • 90 persen pasien yang diobati harus sembuh atau menyelesaikan pengobatan,
  • 80 persen kontak erat harus mendapatkan TPT.

“Untuk penemuan kasus kita sudah melampaui target 90 persen. Tetapi keberhasilan pengobatan dan cakupan TPT masih menjadi tantangan,” ungkapnya.

Berdasarkan evaluasi 2025 terhadap pasien yang memulai pengobatan pada 2024, tercatat 90 orang meninggal dunia dari sekitar 1.319 pasien yang menjalani terapi. Angka ini melebihi ambang batas nasional sebesar 2 persen.

Meski demikian, sebagian besar pasien memiliki penyakit penyerta seperti diabetes melitus (DM), HIV, maupun komorbid lain yang memperparah kondisi.

“Karena itu skrining rutin pada kelompok berisiko seperti pasien HIV dan diabetes sangat penting untuk deteksi dini,” jelas Setyo.

Dinkes Ajak Warga Hentikan Stigma, Tuntaskan Pengobatan

Dinkes Kota Yogyakarta juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma terhadap pasien TBC. Penyakit ini dapat disembuhkan jika pasien disiplin menjalani pengobatan sesuai anjuran medis.

Pasien yang menghentikan pengobatan sebelum waktunya berisiko mengalami resistensi obat dan tetap menularkan penyakit kepada orang lain.

“Pengobatan yang tidak tuntas bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga membahayakan lingkungan sekitar. Dengan menyelesaikan terapi, kita ikut melindungi keluarga dan masyarakat,” tegasnya.

Pemkot Yogyakarta optimistis, dengan penguatan deteksi dini, investigasi kontak, kepatuhan pengobatan, serta dukungan masyarakat tanpa stigma, angka TBC di Kota Yogyakarta dapat ditekan signifikan pada 2026 dan mendukung target eliminasi TBC nasional pada 2030. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:A Riyadi
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Yogyakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.