Kader NU Bantul Dorong NU Jadi Rumah Aman bagi Seluruh Kader, Tanpa Saling Menjatuhkan
Kepemimpinan NU mendatang diharapkan mampu memperkuat persatuan organisasi serta menjadikan NU sebagai rumah yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh kader tanpa saling menjatuhkan.
JOGJA – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026, sejumlah kader NU Kabupaten Bantul menyampaikan harapannya.
Para kader NU Bantul menginginkan agar kepemimpinan NU ke depan mampu memperkuat persatuan organisasi serta menjadikan NU sebagai rumah yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh kader tanpa saling menjatuhkan.
Ketua PC GP Ansor Kabupaten Bantul, Ahmad Sidik, mengatakan banyak kiai yang tetap mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk menjaga serta membesarkan NU, meski masih memiliki tanggung jawab terhadap santri dan jamaah.
Menurutnya, hal itu membuktikan bahwa aset terbesar NU adalah kiai, santri, dan jamaah. Ia pun berharap NU semakin memperhatikan program yang menyentuh jamaah hingga tingkat ranting.
Di antaranya melalui penguatan dakwah bagi generasi muda Nahdliyin di era digital, pengembangan program ekonomi dan sosial berbasis komunitas, serta memberikan ruang yang lebih luas bagi kader muda untuk berkiprah di lembaga-lembaga strategis PBNU.
Sementara itu, Ketua PC Fatayat NU Bantul, Elvi Pritasari, berharap Muktamar NU memperkuat peran kader ulama perempuan dalam pengambilan keputusan, baik di tingkat pusat maupun ranting.
Ia juga mendorong lahirnya lebih banyak ulama perempuan yang terlibat dalam kepemimpinan organisasi.
Selain itu, Fatayat NU meminta adanya regulasi internal dan langkah nyata untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan, khususnya di lingkungan pesantren.
Menurut Elvi, isu ketahanan keluarga, pencegahan stunting, serta penguatan ekonomi kader juga perlu menjadi perhatian melalui program yang berkelanjutan dan inklusif.
Elvi menegaskan, di tengah berbagai dinamika yang berkembang di media sosial, NU harus menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi seluruh kader. Menurutnya, tidak boleh ada lagi budaya saling menjatuhkan, mendiskriminasi, atau mencari kesalahan satu sama lain.
"NU harus menjadi rumah yang membuat setiap kader merasa diterima. Jika tidak ada lagi saling menjatuhkan dan seluruh kader bersatu, saya yakin NU akan semakin solid dan kuat," ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan ekonomi kader juga menjadi faktor penting untuk menciptakan kemandirian dan kesejahteraan.
Dengan kondisi ekonomi yang lebih baik, kader NU diharapkan mampu membangun keluarga yang kuat sekaligus berkontribusi lebih besar bagi organisasi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

