Tablo Jumat Agung di Jurang Metes Sedayu Bantul, Refleksi Iman yang Hidup dalam Seni
OMK Paroki St. Theresia Sedayu, menghadirkan kisah Yesus Kristus dalam bentuk pementasan visual yang kuat dan menyentuh dengan tema 'Hanya Ada 1 Cinta: Penebusan'.
BANTUL – Suasana pagi di kawasan Taman Doa Maria Bunda Gereja Jurang Metes, Sedayu, Kabupaten Bantul, hening walaupun ratusan umat hadir mengikuti perayaan Jumat Agung yang dikemas dalam aksi seni teatrikal tablo, Jumat )3/4/2026).
Di antara rindangnya pepohonan dan kontur alam Jurang Metes, Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Theresia Sedayu, menghadirkan kisah Yesus Kristus dalam bentuk pementasan visual yang kuat dan menyentuh dengan tema 'Hanya Ada 1 Cinta: Penebusan'.
Adegan demi adegan ditampilkan secara hidup, mulai dari Yesus berdoa di Getszemani serta pengadilan hingga penyaliban, menghadirkan permenungan mendalam bagi umat yang hadir.
Ketua panitia kegiatan dari OMK Paroki Sedayu mengatakan bahwa pementasan tablo ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan perayaan iman yang lebih kontekstual dan dekat dengan generasi muda di wilayah Kapanewon Sedayu.
“Tablo ini tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga sarana refleksi iman. Kami ingin umat, khususnya orang muda, bisa lebih menghayati makna Jumat Agung melalui visualisasi yang nyata,” ujarnya.
Perayaan Jumat Agung sendiri merupakan salah satu momen penting dalam kalender liturgi umat Katolik, yang memperingati wafatnya Yesus Kristus di kayu salib.
Melalui tablo ini, umat diajak untuk merenungkan pengorbanan dan kasih yang menjadi inti dari peristiwa tersebut. Sejumlah adegan ditampilkan dengan penggarapan artistik yang sederhana namun kuat.
Para pemeran, yang sebagian besar merupakan anggota OMK Paroki St. Theresia Sedayu, tampil total dalam membawakan karakter, didukung properti dan kostum yang merepresentasikan suasana Yerusalem pada masa itu.
Salah satu umat yang hadir mengaku terharu bahkan ada yang meneteskan air mata dengan adanya pementasan teaterikal Tablo. Ia menilai pendekatan seni seperti ini mampu menghadirkan pengalaman spiritual yang berbeda.
“Biasanya hanya mendengarkan kisah sengsara dalam ibadat, tapi dengan tablo ini terasa lebih hidup. Saya jadi lebih bisa membayangkan dan merasakan penderitaan Yesus,” ungkapnya sambil menyeka air matanya.
Selain menjadi bagian dari rangkaian ibadat Jumat Agung, kegiatan ini juga menjadi ruang ekspresi bagi kaum muda di lingkungan Gereja Jurang Metes untuk berkontribusi dalam pelayanan.
Perayaan tablo di Jurang Metes ini pun berlangsung dengan tertib dan khidmat. Umat mengikuti setiap rangkaian dengan penuh perhatian, menjadikan momentum Jumat Agung tidak hanya sebagai ritual tahunan, tetapi juga pengalaman batin yang membekas. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

