Mengenal Tradisi Lebaran di Pacitan, Ada Prepegan hingga Lebaran Ketupat
TIMES Jogja/Suasana lebaran di Pacitan diisi dengan silaturahmi, saling memaafkan dan berkumpul bersama keluarga. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

Mengenal Tradisi Lebaran di Pacitan, Ada Prepegan hingga Lebaran Ketupat

Mulai dari tradisi prepegan atau belanja besar-besaran menjelang Lebaran di pasar tradisional, mudik para perantau, hingga ziarah kubur dan perayaan Lebaran Ketupat seminggu setelah Idulfitri.

TIMES Jogja,Sabtu 21 Maret 2026, 11:35 WIB
750
Y
Yusuf Arifai

PACITANTradisi Lebaran di Kabupaten Pacitan pada tahun 2026 ini masih kuat diwarnai kebiasaan khas masyarakat lokal.

Mulai dari tradisi prepegan atau belanja besar-besaran menjelang Lebaran di pasar tradisional, mudik para perantau, hingga ziarah kubur dan perayaan Lebaran Ketupat seminggu setelah Idulfitri.

Suasana paling terasa biasanya terjadi dua hari menjelang Lebaran. Warga berbondong-bondong memadati pasar tradisional dalam tradisi yang dikenal sebagai prepegan

Pasar Arjosari dan Pasar Minulyo menjadi dua titik yang paling ramai. Jalan di sekitar pasar kerap macet karena padatnya pembeli yang berburu kebutuhan Lebaran.

Di momen itu, warga biasanya membeli berbagai perlengkapan. Mulai dari pakaian baru, bahan makanan, hingga kebutuhan dapur untuk hidangan hari raya. Meski kondisi pasar sering sesak, antusiasme warga tetap tinggi.

Selain prepegan, masyarakat Pacitan juga memiliki tradisi membuat kue apem. Kue berbahan dasar tepung beras ini lazim dibuat menjelang Ramadan maupun menjelang Lebaran. 

Dalam tradisi Jawa, apem dimaknai sebagai simbol permohonan maaf. Biasanya kue tersebut dibagikan kepada tetangga atau kerabat.

Tradisi tersebut masih berkaitan dengan budaya megengan, yakni kebiasaan masyarakat menyambut datangnya bulan suci Ramadan. 

Di sejumlah desa, warga berkumpul dan saling berbagi makanan sebagai tanda syukur sekaligus mempererat hubungan sosial.

Lebaran di Pacitan juga identik dengan arus mudik para perantau. Banyak warga yang bekerja di luar daerah memilih pulang kampung untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga.

 Setelah salat Id, mereka biasanya melakukan sowan atau berkunjung ke rumah orang tua, tetangga, dan kerabat.

Kebiasaan lain yang tak pernah ditinggalkan adalah ziarah kubur. Warga datang ke makam keluarga untuk mendoakan leluhur. Kegiatan ini umumnya dilakukan sebelum Lebaran atau setelah hari raya.

Sepekan setelah Idulfitri, masyarakat Pacitan kembali merayakan tradisi Lebaran Ketupat atau Syawalan. Warga membuat ketupat lengkap dengan sayur santan, lalu menikmatinya bersama keluarga maupun tetangga.

Berbagai tradisi tersebut membuat suasana Lebaran di Pacitan terasa khas. Selain menjadi momen ibadah, hari raya juga menjadi ruang mempererat hubungan keluarga dan masyarakat. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Yusuf Arifai
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Yogyakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.