Cing-Cing Goling, Jejak Majapahit yang Hidup di Sawah Karangmojo
Ratusan warga Gedangrejo gelar tradisi adat Cing-Cing Goling, warisan Majapahit sebagai ungkapan syukur atas air, kesuburan sawah, dan panen melimpah di Karangmojo, Gunungkidul.
JOGJA – Ratusan warga dari tiga Dusun yang ada di Kalurahan Gedangrejo, Kapanewon Karangmojo, berkumpul membawa ingkung ayam, nasi gurih, dan berbagai hasil bumi di tengah sawah Padukuhan Gedangan, Kalurahan Gedangrejo, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, pada Senin, 6 Juli 2026. Kehadiran mereka bukan hanya untuk menghadiri pesta rakyat, tetapi juga untuk merawat warisan budaya yang telah bertahan selama berabad-abad, yaitu tradisi Cing-Cing Goling.
Tradisi ini merupakan salah satu upacara adat paling istimewa di Gunungkidul, terkenal bukan hanya karena prosesi kirab dan kendurinya, tetapi juga karena kandungan cerita sejarah para tokoh Majapahit yang diyakini pernah menetap dan memulai kehidupan baru di wilayah Karangmojo.
Menurut Supardi, 66 tahun, panitia acara sekaligus Ketua RW 03 Gedangan 1, Kalurahan Gedangrejo saat ditemui di lokasi acara mengatakan, upacara adat Cing cing Goling merupakan tradisi turun-temurun dari masyarakat Gedangrejo. Cing-Cing Goling, lanjut Supardi, berakar pada peristiwa runtuhnya Kerajaan Majapahit di akhir abad ke-15. Ketika kerajaan itu mengalami kemunduran, sejumlah bangsawan dan pengikutnya meninggalkan kampung halaman mereka untuk mencari tempat yang lebih aman. Di antara rombongan itu ada seorang tokoh bernama Raden Wisang Sanjaya bersama para pengikutnya.
Mereka tiba di wilayah yang kini dikenal sebagai Padukuhan Gedangan. Di sana, para pendatang dipercaya membantu masyarakat setempat membangun bendungan dan saluran air, menjadikan lahan pertanian lebih subur. Kehadiran prajurit Majapahit itu membawa perubahan besar bagi warga yang sebelumnya tinggal di daerah karst dengan masalah ketersediaan air.
Sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur akan melimpahnya air dan hasil panen, masyarakat menggelar upacara adat yang diwariskan dari generasi ke generasi hingga saat ini. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Cing-Cing Goling. Masyarakat memaknainya sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas berkah dalam bentuk air, kesuburan tanah, keselamatan, dan hasil pertanian yang melimpah. Tradisi ini bahkan sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak tahun 2020.
Dalam bahasa Jawa, "cing-cing" berarti menyingsingkan atau mengangkat bagian bawah kain agar lebih mudah berlari, sementara "goling" berhubungan dengan gerakan berlari atau saling kejar. Menurut salah satu versi cerita rakyat, istilah ini menggambarkan seorang putri dari Majapahit yang melarikan diri dari perampok dengan cara menyingsingkan kainnya. Kisah ini kemudian direkonstruksi dalam bentuk drama kolosal selama upacara.
Rangkaian tradisi biasanya dimulai dengan kirab budaya. Warga mengenakan busana adat Jawa sambil membawa berbagai uba rampe dan hasil bumi. Arak-arakan menuju lokasi upacara yang terletak di sekitar area persawahan dan Bendungan Kali Dawe, sebuah tempat yang diyakini memiliki keterkaitan dengan sejarah leluhur Gedangan.
Setelah kirab selesai, pemangku adat memimpin doa bersama sebagai ungkapan syukur atas panen dan melimpahnya air. Doa-doa dipanjatkan agar sawah tetap subur, hasil pertanian berlimpah, serta masyarakat senantiasa memperoleh keselamatan.
Unsur menonjol dalam tradisi ini adalah ratusan ingkung ayam kampung yang hadir sebagai sesaji utama yang dibawa warga dari rumah masing-masing. Ayam-ayam dimasak utuh dengan bumbu tradisional, lalu dihidangkan bersama nasi gurih, lauk-pauk, dan hasil pertanian lainnya sebagai simbol kemakmuran dan rasa syukur.
Selain ingkung, warga biasanya membawa tumpeng, jajanan pasar, buah-buahan, serta hasil panen lainnya yang menunjukkan kedekatan masyarakat agraris dengan alam. Setelah diberkati dalam doa, semua hidangan dibagikan dan dinikmati bersama dalam suasana kenduri penuh keakraban. Tidak ada batas antara warga dan tamu; semua duduk bersama menikmati berkah dari hasil bumi yang melimpah.
Bagian yang paling dinantikan adalah fragmen kolosal Cing-Cing Goling, di mana para aktor berlari melintasi area persawahan sambil meneriakkan "cing-cing goling". Uniknya, tanaman padi yang terinjak selama prosesi ini justru tidak dianggap rusak. Warga percaya bahwa sawah yang menjadi bagian dari ritual akan mendapatkan berkah dan kesuburan. Keyakinan ini diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Gedangan.
“Penari Cing Cing Goling itu jumlahnya 24 orang, sama persis dengan Panjang ilang yang jumlahnya juga 24 wadah,” ujar Supardi. Panjang ilang adalah wadah terbuat dari anyaman janur yang di dalamnya terdapat ingkung ayam, kelapa muda, beserta lauk pauknya. Anyaman janur tersebut direnteng pada sebatang bambu lantas dipikul oleh warga sebagai sajian upacara adat.
Di era modern ketika banyak tradisi mulai ditinggalkan, Cing-Cing Goling tetap ada. Bukan sekadar pertunjukan budaya, tapi sebagai ruang untuk merawat ingatan kolektif tentang leluhur, air, pertanian, dan kebersamaan.
Dari sawah-sawah Karangmojo, tradisi ini mengajarkan bahwa kemakmuran tidak hanya berasal dari kerja keras manusia tetapi juga dari kemampuan menjaga hubungan harmonis dengan alam, sejarah, dan warisan budaya yang dititipkan oleh para pendahulu.
Eko Susanto
TIMES Indonesia - Yogyakarta
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

