Manfaatkan Air Hujan untuk Kesehatan
Air merupakan sumber kehidupan. Baik itu bagi binatang, tumbuhan terlebih bagi umat manusia. Bahkan, lebih dari 50 persen tubuh manusia mengandung air. ...
YOGYAKARTA – Air merupakan sumber kehidupan. Baik itu bagi binatang, tumbuhan terlebih bagi umat manusia. Bahkan, lebih dari 50 persen tubuh manusia mengandung air. Nah, mengingat pentingnya air sedangkan sumber air tanah yang berkualitas terus berkurang membuat Komunitas Banyu Bening Yogyakarta lantas memanfaatkan air hujan untuk kehidupan dan menjaga kesehatan manusia.
Mulanya, ada banyak warga yang meremehkan kedasyatan dan manfaat air hujan. Setelah melalui proses yang panjang dan penelitian, ternyata air hujan dapat digunakan untuk terapi kesehatan.
“Bagi kami, hujan itu berkah. Air suci langsung dari Allah,” kata Ketua Komunitas Banyu Bening Yogyakarta, Sri Wahyuningsih.
Sebelum dikonsumsi, terlebih dahulu air hujan diendapkan dan harus diolah. Pengolahannya pun menggunakan peralatan yang cukup sederhana. Peralatan yang mengandalkan aliran listrik ini berfungsi untuk memisahkan kadar asam dan basa atau alkali.
“Kedua jenis air hujan yang telah dipisahkan tersebut sama-sama memiliki manfaat bagi tubuh manusia,” papar Mbak Ning, sapaan akrab Sri Wahyuningsih.
Alhasil, Komunitas yang bermarkas di Kampung Blekik, Sardonoharjo, Sleman, Yogyakarta ini pun kerap didatangi warga yang ingin belajar mengolah air hujan dan meminta air untuk kebutuhan pengobatan. Salah satunya adalah Haryono. Hampir setiap bulan, dirinya selalu datang ke Komunitas Banyu Bening untuk meminta air basa atau asam. Air itu digunakan untuk menjaga kebugaran tubuhnya agar tetap fit dan prima. Apalagi, saat situasi pandemi Covid-19 dirinya tidak pernah telat stok air hujan yang telah diolah.
“Setelah minum air hujan yang telah diolah, badan terasa segar. Tidak mudah capek dan tidak gampang sakit,” terang Haryono.
Haryono mengaku sejak mengkonsumsi air hujan tubuhnya terasa lebih bugar. Kandungan asam yang ada di dalam tubuhnya pun mudah terkontrol. “Setelah minum kopi biasanya kembung, tapi setelah minum air hujan tubuh jadi terasa enak lagi,” jelas Haryono.
Haryono mengaku senang dengan Komunitas Banyu Bening. Sebab, komunias ini tidak mematok tarif khusus bagi warga yang ingin mengambil air hujan tersebut. “Ngasih infak se ikhlasnya. Jadi, Komunitas Banyu Bening ini luar biasa. Semoga pemerintah memperhatikan inovasi teknologi ini sehingga setiap RT memiliki alat untuk mengolah air hujan,” harapnya.
Inovasi teknologi pengolahan air hujan oleh Komunitas Banyu Bening Yogyakarta tentu patut diapresiasi. Sebagai pemimpin komunitas, Sri Wahyuningsih juga tak pelit ketika diminta berbagi ilmu dan pengalaman bagaimana mengolah air hujan. Bahkan, saat pandemi Covid-19 permintaan air hujan yang telah diolah meningkat. Alasannya, air hujan dapat membuat kondisi tubuh tetap terjaga.
Atas dedikasi tersebut dan berbagai pertimbangan dari sejumlah tokoh, Dewan Juri memilih Sri Wahyuningsih, ketua Komunitas Banyu Bening Yogyakarta layak mendapatkan Anugerah TIMES Indonesia kategori Women of the Year DIY Tahun 2021.
Penghargaan tersebut tentu sejalan dengan perjuangan dan kepedulian Sri Wahyuningsih yang ikut menjaga kesehatan masyarakat di tengah pandemi Covid-19 dengan mengolah air hujan. Sehingga, masyarakat memiliki endurance to fight (daya tahan untuk berjuang) dalam menghadapi situasi pandemi Covid-19. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




