Pesantren Tuli Darul Ashom Sleman Terapkan Metode Madinah, Santri Setor Hafalan ke Masjid Nabawi
TIMES Jogja/Suasana Santri tuli Ponpes Darul Ashom membaca Al-Quran menggunakan bahasa isyarat standar Madinah. (FOTO: RRI)

Pesantren Tuli Darul Ashom Sleman Terapkan Metode Madinah, Santri Setor Hafalan ke Masjid Nabawi

Santri tuli di Pondok Pesantren Darul Ashom Sleman belajar dan setor hafalan Al-Qur’an dengan bahasa isyarat hijaiyah standar Arab, tersambung halaqah Masjid Nabawi secara daring.

TIMES Jogja,Senin 23 Februari 2026, 18:10 WIB
376
A
A. Tulung

SLEMANDi tengah keterbatasan pendengaran, puluhan santri di Pondok Pesantren Tuna Rungu Darul Ashom, Kalurahan Sidomoyo, Godean, Sleman, membuktikan bahwa belajar Al-Qur'an bukan hal mustahil. Dengan bahasa isyarat hijaiyah standar Arab yang digunakan di Makkah dan Madinah, mereka menempuh pendidikan agama berbasis metode bersanad yang telah diterapkan sejak 1425 Hijriah.

Pendiri Pesantren Darul Ashom, Abu Kahfi, menjelaskan bahwa pihaknya tidak menciptakan metode baru. Pembelajaran disesuaikan dengan sistem yang telah lama digunakan di Arab Saudi, khususnya di lingkungan Masjid Nabawi.

“Kami tidak membuat metode sendiri. Kami mengikuti metode di Arab dan bahkan bersanad,” ujar Abu, Senin (23/2/2026).

Setor Hafalan ke Madinah Secara Daring

Abu mengungkapkan, Masjid Nabawi rutin menggelar halaqah atau majelis ilmu khusus bagi penyandang tuli, baik untuk pembelajaran Al-Quran maupun fiqih. Santri Darul Ashom, baik putra maupun putri, terhubung langsung dalam halaqah tersebut melalui pembelajaran daring.

Setidaknya lima kali dalam sepekan, para santri melakukan setoran hafalan secara langsung ke pengajar di Madinah. Jadwalnya dibagi dua, yakni untuk santri putra pada rentang waktu dhuha hingga dzuhur, sedangkan santri putri mengikuti halaqah pada waktu selepas subuh di Madinah hingga dhuha.

“Dua halaqah, ikhwan dan akhwat, waktunya berbeda,” jelas Abu.

Ia mengakui, proses transfer ilmu agama kepada santri tuli memiliki tantangan tersendiri, terutama pada tahap awal mengenalkan huruf hijaiyah dan membiasakan membaca Al-Quran. Bahasa isyarat, kata dia, tidak mengenal imbuhan seperti dalam Bahasa Indonesia, sehingga penjelasan makna harus benar-benar tepat agar mudah dipahami.

Tantangan dan Capaian Santri

Pesantren Darul Ashom memiliki jenjang pendidikan dari kelas 1 hingga kelas 9 dengan kurikulum 28 kitab yang dipelajari secara bertahap. Salah satu tantangan terbesar adalah menyamakan kemampuan awal santri yang datang dengan latar belakang berbeda.

“Kami ingin lulusan Darul Ashom punya kemampuan setara dengan yang lain,” kata Abu.

Saat ini, pesantren tersebut membina sekitar 120 santri laki-laki dan 60 santri perempuan. Sejumlah santri telah berhasil menghafal hingga 18 juz Al-Quran. Bahkan, ada yang mampu menyelesaikan hafalan 3 juz secara mutqin dalam satu hari penuh setoran, dari pagi hingga malam.

Menurut Abu, proses menghafal bagi santri tuli membutuhkan waktu lebih panjang karena pembacaan dilakukan melalui pengenalan huruf demi huruf dalam bahasa isyarat. Meski demikian, semangat belajar para santri menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk mendalami ilmu agama. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:A. Tulung
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Yogyakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.