Psikolog UGM Ungkap Dampak Berat Pelecehan Seksual Digital pada Anak
Dampak psikologis pada anak korban kekerasan seksual dapat muncul dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
YOGYAKARTA – Kasus eksploitasi dan kekerasan seksual terhadap anak di ruang digital masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Penyebaran konten bermuatan pelecehan seksual melalui media sosial dan platform digital dinilai semakin mengkhawatirkan karena berdampak panjang terhadap kondisi psikologis korban.
Data National Center for Missing & Exploited Children (NCMEC) tahun 2024 bahkan menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia dalam laporan eksploitasi seksual anak dengan jumlah mencapai 1,45 juta kasus.
Psikolog Klinis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.S.i., Psikolog, menegaskan bahwa penyebaran konten kekerasan seksual terhadap anak bukan sekadar persoalan moralitas digital, melainkan bentuk kejahatan serius yang meninggalkan trauma mendalam bagi korban.
Menurutnya, setiap foto, video, maupun rekaman yang memuat eksploitasi seksual anak merupakan bukti kekerasan yang terus memperpanjang penderitaan korban selama konten tersebut masih tersebar di internet.
Trauma Anak Korban Kekerasan Seksual Bisa Berkepanjangan
Gamayanti menjelaskan dampak psikologis pada anak korban kekerasan seksual dapat muncul dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam kondisi awal, anak biasanya mengalami ketakutan, gangguan emosi, sulit tidur, hingga kehilangan konsentrasi.
Sementara dalam jangka panjang, korban berisiko mengalami kecemasan berat, depresi, kehilangan rasa percaya diri, hingga kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.
Menurutnya, eksploitasi seksual berbasis digital memiliki dampak lebih berat karena korban merasa pengalaman traumatisnya terus hidup akibat jejak digital yang sulit dihapus.
“Anak dapat merasa tidak pernah benar-benar aman karena khawatir kontennya terus beredar,” ujarnya, Minggu (10/5/2026)
Ia menilai pengalaman kekerasan seksual dapat merusak tiga fondasi psikologis utama pada anak, yakni rasa aman, rasa berharga, dan kepercayaan terhadap orang lain. Akibatnya, korban cenderung menarik diri dari lingkungan sosial dan kehilangan keberanian untuk berkembang.
Peran Keluarga Sangat Penting dalam Pemulihan Anak
Dalam proses pemulihan, Gamayanti menekankan pentingnya pendekatan yang berpihak pada anak dan berfokus pada trauma healing. Anak korban kekerasan seksual harus dipastikan aman dari ancaman pelaku, tekanan lingkungan, maupun sikap menyalahkan korban.
Ia menyebut salah satu metode yang banyak digunakan dalam pemulihan trauma adalah Trauma-Focused Cognitive Behavioral Therapy (TF-CBT), yakni terapi yang membantu anak mengelola emosi dan perilaku pascatrauma.
Selain tenaga profesional, dukungan keluarga dinilai menjadi faktor penting dalam pemulihan korban. Anak membutuhkan lingkungan yang percaya, melindungi, dan tidak memaksa korban menceritakan ulang pengalaman traumatisnya.
Gamayanti juga mengingatkan orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti menjadi lebih tertutup, cemas saat menggunakan ponsel, sering menghapus percakapan, atau takut ketika menerima notifikasi dari orang tertentu.
Meski demikian, ia meminta orang tua tidak langsung menginterogasi anak. Pendekatan yang tenang dan aman dinilai lebih efektif untuk membangun komunikasi dengan korban.
Ia menegaskan perlindungan anak di ruang digital merupakan tanggung jawab bersama. Pengawasan penggunaan gawai dan pembatasan akses konten sesuai usia anak menjadi langkah penting untuk mencegah kekerasan seksual berbasis digital. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

