Rahasia Panjang Umur dari Jepang: Berhenti Makan Sebelum Kenyang
Kenali konsep hara hachi bu dari Okinawa, Jepang, yaitu makan sebelum kenyang. Pola ini terbukti bantu jaga kesehatan dan turunkan risiko penyakit.
YOGYAKARTA – Kebiasaan sederhana ternyata bisa berdampak besar bagi kesehatan. Salah satunya prinsip makan ala masyarakat Okinawa Jepang, yang dikenal dengan hara hachi bu atau berhenti makan sebelum kenyang.
Pola ini diyakini menjadi salah satu faktor tingginya angka harapan hidup di wilayah tersebut.
Dosen Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK UGM, Rahadyana Muslichah, S.Gz., M.Sc., menjelaskan bahwa hara hachi bu bukan sekadar aturan makan, melainkan bagian dari budaya hidup masyarakat Okinawa.
Prinsip ini menekankan kesadaran saat makan atau mindful eating.
“Konsep ini mengajak kita untuk benar-benar fokus saat makan, menikmati makanan, serta memahami sinyal tubuh agar tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Ia menuturkan, masyarakat Okinawa tidak hanya dikenal berumur panjang, tetapi juga memiliki risiko penyakit kronis yang relatif rendah. Hal ini tak lepas dari kebiasaan makan yang terkontrol dan tidak berlebihan.
Secara fisiologis, makan hingga sekitar 80 persen kenyang memberikan keuntungan bagi tubuh. Salah satunya adalah mengurangi beban kerja sistem pencernaan.
Konsumsi makanan berlebih dapat memicu tekanan pada organ pencernaan dan meningkatkan risiko obesitas serta penyakit metabolik.
“Hara hachi bu memberi kesempatan bagi sistem pencernaan untuk beristirahat, sehingga tidak dipaksa bekerja terus-menerus,” jelasnya.
Lebih lanjut, Icha sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa tubuh sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk mengenali rasa lapar dan kenyang. Namun, sinyal kenyang dari lambung membutuhkan waktu untuk sampai ke otak.
Kondisi ini membuat seseorang rentan makan berlebihan, terutama jika makan dengan terburu-buru atau sambil melakukan aktivitas lain.
“Dengan berhenti sebelum benar-benar kenyang, tubuh sebenarnya sudah mendapatkan energi yang cukup, meskipun secara subjektif masih terasa ingin makan,” paparnya.
Meski menawarkan banyak manfaat, prinsip ini tidak bisa diterapkan secara sembarangan.
Icha mengingatkan bahwa kelompok tertentu seperti ibu hamil, anak-anak, remaja, hingga atlet memiliki kebutuhan kalori khusus yang harus dipenuhi.
Jika dipaksakan, pola makan ini justru berisiko mengurangi asupan energi yang dibutuhkan tubuh.
Untuk menerapkan hara hachi bu, ia menyarankan beberapa langkah sederhana. Di antaranya makan secara perlahan, menghindari distraksi seperti gawai, serta melatih kepekaan terhadap sinyal lapar dan kenyang.
Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dan adaptasi bertahap, karena perubahan pola makan tidak terjadi secara instan.
“Mulai dari hal kecil, seperti mengunyah dengan sadar, sudah membantu tubuh mengirim sinyal kenyang ke otak,” ujarnya.
Dengan pendekatan yang tepat, prinsip makan sebelum kenyang ini dapat menjadi salah satu cara menjaga kesehatan sekaligus mencegah berbagai penyakit di kemudian hari. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

