Sri Sultan HB X Tegaskan DIY Tak Bisa Lagi Jalan Sendiri, Saatnya Bangun Ekosistem Ekonomi Terintegrasi dan Lindungi UMKM
Gubernur DIY Sri Sultan HB X resmikan pengurus Kadin kabupaten/kota se-DIY, tegaskan pembangunan ekonomi tak bisa sektoral. DIY catat pertumbuhan 5,94% di 2025, tertinggi di Jawa. Simak strategi ekosistem dan perlindungan UMKM.
YOGYAKARTA – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa arah pembangunan ekonomi DIY tidak bisa lagi dilakukan secara sektoral dan parsial. Di tengah tekanan fiskal dan perubahan perilaku pasar, DIY harus bergerak dalam satu ekosistem ekonomi yang saling terhubung, adaptif, dan inklusif.
Pernyataan itu disampaikan Sultan dalam Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten/Kota se-DIY di Jogja Expo Center, Sabtu (14/2/2026).
Menurut Sri Sultan, pola lama yang memisahkan sektor-sektor ekonomi sudah tidak relevan dengan dinamika global saat ini.
“Sebuah wilayah tidak lagi dipahami sebagai kumpulan sektor yang berjalan sendiri-sendiri. Ia adalah ekosistem nilai, struktur keselarasan di mana berbagai aktor saling terhubung untuk mewujudkan kemanfaatan bersama,” tegas Sri Sultan.

Sri Sultan menjelaskan, konsep ekosistem ekonomi bukan sekadar istilah, melainkan integrasi menyeluruh antara produksi, distribusi, pembiayaan, inovasi, hingga kolaborasi lintas sektor.
Industri besar, katanya, harus terkoneksi dengan UMKM dalam satu rantai nilai yang saling menguatkan. Akses pembiayaan harus memperbesar kapasitas usaha. Transformasi digital pun wajib diiringi peningkatan literasi dan kompetensi sumber daya manusia.
“Ekosistem adalah integrasi aktivitas. Industri besar harus terkoneksi dengan UMKM. Pembiayaan harus memperkuat kapasitas usaha. Digitalisasi harus diikuti peningkatan kompetensi,” ujar Sri Sultan.
Dalam kerangka itu, Kadin kabupaten/kota diposisikan bukan sekadar organisasi pengusaha, tetapi sebagai simpul orkestrasi pertumbuhan ekonomi daerah.
Diferensiasi Wilayah Jadi Kekuatan Kolektif DIY
Sri Sultan memaparkan bahwa DIY tumbuh dari keberagaman potensi, bukan dari pola pembangunan yang seragam. Setiap wilayah memiliki karakter dan kekuatan berbeda yang justru saling melengkapi:
- Sleman: unggul di sektor pendidikan dan teknologi
- Bantul: kuat dalam industri kreatif dan manufaktur
- Kulon Progo: berkembang pada konektivitas logistik dan kawasan industri
- Gunungkidul: bertumpu pada agromaritim dan pariwisata alam
- Kota Yogyakarta: pusat jasa, perdagangan, dan hospitality
“Keberagaman ini bersifat komplementer. Justru pada diferensiasi itulah daya saing kolektif DIY terbentuk,” tandas Sri Sultan.
Menurut Sri Sultan, sinergi lintas wilayah menjadi kunci memperbesar kapasitas pasar dan menjaga stabilitas ekonomi di tengah kompetisi global yang semakin kompleks.
DIY Catat Pertumbuhan Tertinggi di Jawa 2025
Di tengah keterbatasan fiskal dan potensi pengurangan transfer APBN, DIY justru mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,94 persen pada 2025 tertinggi di Pulau Jawa.
Sri Sultan menyebut capaian tersebut lahir dari strategi fokus anggaran. Dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terbatas, pemerintah daerah tidak bisa membiayai semua program.
“Kita tidak bisa membiayai semuanya. Yang prinsip dan prioritas harus masuk APBD, yang lain ditunda dulu,” ujar Sri Sultan.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan 2026–2027 tidak ringan. Bantuan pusat yang sebagian besar terserap untuk belanja rutin membuat ruang fiskal semakin sempit.
Lindungi UMKM dan Masyarakat Desa
Sri Sultan menekankan bahwa tekanan ekonomi paling terasa pada UMKM kecil, masyarakat desa, kelompok miskin, dan pengangguran.
Pemda DIY, menurutnya, telah mengalokasikan sekitar 30 persen anggaran untuk program yang menyentuh masyarakat desa dan kelompok rentan agar memperoleh tambahan penghasilan.
“Golongan menengah mungkin tidak turun ke jalan. Tapi UMKM kecil, masyarakat miskin, dan penganggur—mereka yang paling berpotensi terdampak,” tegasnya.
Ia meminta kabupaten/kota memperbesar proteksi sosial dan pemberdayaan ekonomi agar angka kemiskinan dan pengangguran tidak meningkat akibat perlambatan daya beli.
Pengusaha Tak Bisa Lagi Untung Sendiri
Dalam forum tersebut, Sri Sultan juga menyampaikan pesan keras kepada pelaku usaha agar meninggalkan pola individualistis.
Menurutnya, di era disrupsi digital, kompetisi tidak lagi konvensional. Generasi muda kini mampu menghasilkan pendapatan global hanya bermodalkan laptop tanpa mendirikan perusahaan besar.
Di sektor pariwisata, perubahan daya beli juga mulai terasa. Tingginya harga tiket pesawat dan melemahnya kelas menengah membuat wisatawan semakin sensitif terhadap harga, termasuk dalam belanja kuliner dan oleh-oleh.
“Kadin harus mampu membaca perubahan perilaku konsumen dan menjawabnya dengan kreativitas serta inovasi,” papar Sri Sultan.
Sri Sultan juga mendorong model konsorsium atau kolaborasi usaha, terutama dalam proyek-proyek besar seperti penyediaan material infrastruktur. Dengan bersatu, kapasitas usaha lokal menjadi lebih kuat dan kompetitif.
“Boleh saham berbeda, bagi hasil sesuai porsi. Tapi suara tetap satu. Yang penting kapasitasnya besar dan bisa masuk,” pinta Sri Sultan.
GKR Mangkubumi: Ekonomi Digital Harus Inklusif
Sementara itu, Ketua Umum Kadin DIY GKR Mangkubumi menegaskan komitmen memperkuat ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan.
Menurutnya, ketangguhan ekonomi tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan, tetapi dari kemampuan menciptakan lapangan kerja, mengurangi kesenjangan, dan meningkatkan kesejahteraan rumah tangga.
“Pertumbuhan harus menghadirkan pemerataan, dan inovasi harus membawa kebermanfaatan,” ujar GKR Mangkubumi.
Kadin DIY, kata GKR Mangkubumi, akan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan dunia usaha untuk membangun ekosistem ekonomi digital yang kokoh dan adaptif.
Ia berharap kepengurusan baru Kadin kabupaten/kota mampu menyatukan langkah, menjunjung integritas, dan menjadi motor penggerak dunia usaha yang terbuka serta solutif terhadap tantangan global.
Momentum Konsolidasi Ekonomi DIY
Pelantikan pengurus Kadin kabupaten/kota se-DIY menjadi momentum konsolidasi lintas sektor untuk membangun orkestrasi ekonomi daerah yang terintegrasi, adaptif terhadap disrupsi, serta tangguh menghadapi perubahan global.
Sultan menegaskan, pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya tinggi secara angka, tetapi harus kokoh secara fondasi dan adil dalam distribusi manfaatnya.
“Ekosistem ekonomi harus menjadi rumah di mana kemajuan dan kemanusiaan berjalan berdampingan,” jelas GKR Mangkubumi.
Dengan sinergi antardaerah, perlindungan terhadap UMKM, serta penguatan ekonomi digital, DIY diharapkan mampu menjaga stabilitas, memperluas lapangan kerja, dan memastikan pertumbuhan tetap inklusif di tengah tekanan fiskal dan perubahan daya beli masyarakat. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




