https://jogja.times.co.id/
Berita

Mengubah Sampah Plastik dan Minyak Jelantah Menjadi Barang Bernilai di Fapet UGM

Rabu, 07 Januari 2026 - 18:33
Fapet UGM Gelar Workshop Sampah Plastik dan Jelantah Jadi Bernilai Suasana Pengolahan Sampah CircuLife–SLI 2025 di Fapet UGM. (FOTO: Humas UGM for TIMES Indonesia)

TIMES JOGJA, JOGJA – Sampah plastik dan minyak jelantah yang selama ini dipandang sebagai limbah tak berguna, kini didorong untuk memiliki nilai ekonomi. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) menunjukkan komitmennya melalui Workshop Pengolahan Sampah CircuLife–SLI 2025 Batch ke-3 yang digelar Rabu (7/1/2026) di lingkungan Fapet UGM.

Mengusung tema Community-Driven Waste Management and Circular Economy in Yogyakarta, workshop ini menjadi ruang berbagi praktik nyata pengelolaan sampah berbasis komunitas sekaligus upaya mendorong penerapan ekonomi sirkular di tingkat lokal.

Kegiatan tersebut menghadirkan praktisi yang telah berkecimpung langsung dalam pengolahan sampah, mulai dari plastik hingga limbah minyak jelantah. Pada sesi awal, Ilham Zulfa Pradipta, S.T., M.Eng. dari Jogja Life Cycle mengulas tantangan sekaligus peluang daur ulang sampah plastik di Indonesia.

Ilham memaparkan, plastik melalui proses panjang sejak bahan baku diekstraksi, diproduksi, digunakan, hingga akhirnya menjadi limbah. Beragam jenis plastik seperti PET, HDPE, PVC, LDPE, PP, dan PS kerap digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan menyumbang volume sampah yang besar.

Berdasarkan data tahun 2024, Indonesia tercatat sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar kelima di dunia.

“Masalah utama sampah plastik adalah sulit terurai, berpotensi menjadi mikroplastik, dan mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi lingkungan maupun kesehatan,” jelas Ilham.

Sebagai solusi, ia menekankan pentingnya pengelolaan sampah melalui pendekatan recycling, downcycling, dan upcycling. Menurutnya, upcycling menjadi metode yang paling potensial karena mampu meningkatkan nilai dan kualitas produk dari limbah plastik.

Pendekatan tersebut telah diterapkan Jogja Life Cycle sejak 2021 melalui Lab RINDU (Rumah Inovasi Daur Ulang) PIAT UGM. Saat ini, Jogja Life Cycle bekerja sama dengan 13 bank sampah di Kelurahan Giwangan, dua pengepul sampah, dua sekolah dasar, serta berbagai komunitas.

Pengembangan usaha pencacahan plastik juga dilakukan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Sesi berikutnya diisi oleh Maria Ratih dari Dadio Home yang membahas pengolahan limbah minyak jelantah. Ia menyoroti dampak negatif minyak jelantah yang dibuang sembarangan, seperti pencemaran lingkungan dan saluran air.

Melalui Dadio Home, minyak jelantah diolah kembali menjadi produk ramah lingkungan, seperti sabun, yang tidak hanya mengurangi pencemaran tetapi juga membuka peluang usaha berbasis rumah tangga dan komunitas.

“Jika dikelola dengan benar, minyak jelantah justru memiliki nilai ekonomi dan bisa menjadi sumber penghasilan tambahan masyarakat,” ujar Maria.

Koordinator Proyek CircuLife–SLI 2025, Rima Amalia Eka Widya, S.S., M.A., menuturkan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran serta kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.

Selain itu, workshop ini juga memperkuat peran perguruan tinggi sebagai motor penggerak pembangunan lingkungan dan ekonomi sirkular berbasis komunitas. (*)

Pewarta : A. Tulung
Editor : Deasy Mayasari
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jogja just now

Welcome to TIMES Jogja

TIMES Jogja is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.