Candi Kalasan, Candi Buddha Tertua di Yogyakarta yang Simpan Sejarah Besar Peradaban Nusantara
uasa wisatawan saat berada di Candi Kalasan, Candi Buddha Tertua di Yogyakarta. (FOTO: Yahya/TIMES Indonesia)

Candi Kalasan, Candi Buddha Tertua di Yogyakarta yang Simpan Sejarah Besar Peradaban Nusantara

Terletak di wilayah Kalasan, Sleman, Yogyakarta, candi ini menjadi destinasi wisata sejarah yang selalu menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara.

TIMES Jogja,Jumat 29 Mei 2026, 08:18 WIB
1.3K
A
A Riyadi

YOGYAKARTADi tengah pesatnya perkembangan modernisasi dan ramainya lalu lintas jalur utama Jogja-Solo, berdiri megah sebuah warisan sejarah yang menjadi saksi kejayaan peradaban masa lampau, yakni Candi Kalasan yang berada di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Situs bersejarah ini dikenal sebagai candi Buddha tertua di Yogyakarta dan menjadi salah satu peninggalan penting dari era Kerajaan Mataram Kuno.

Keberadaan Candi Kalasan bukan sekadar bangunan kuno biasa. Candi ini menyimpan kisah besar tentang perkembangan agama Buddha, hubungan kerajaan dengan para pemuka agama, hingga kecanggihan arsitektur Nusantara pada abad ke-8 Masehi.

Terletak di wilayah Kalasan, Sleman, Yogyakarta, candi ini menjadi destinasi wisata sejarah yang selalu menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara.

Letaknya yang tidak jauh dari Candi Prambanan membuat banyak wisatawan memilih singgah untuk menikmati kemegahan arsitektur Buddha kuno yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Dibangun Tahun 778 Masehi, Jadi Candi Buddha Tertua di Yogyakarta

Sejarah Candi Kalasan diketahui melalui Prasasti Kalasan yang ditemukan di sekitar area candi. Prasasti tersebut ditulis menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf Pranagari, serta menyebutkan bahwa pembangunan candi dilakukan pada tahun 778 Masehi.

Dalam prasasti itu dijelaskan bahwa pembangunan Candi Kalasan dilakukan atas perintah Maharaja Tejapurnapana Panangkaran atau Rakai Panangkaran dari Wangsa Syailendra.

Pembangunan candi dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Tara, tokoh penting dalam ajaran Buddha Mahayana.

Tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, candi ini juga dibangun sebagai tempat tinggal para pendeta Buddha atau biara suci bagi komunitas Sangha. Bahkan, desa Kalasan saat itu dihibahkan khusus untuk mendukung aktivitas keagamaan para pendeta Buddha.

Hal tersebut menunjukkan betapa eratnya hubungan antara kerajaan dan kehidupan spiritual masyarakat pada masa kejayaan Mataram Kuno.

Arsitektur Megah dengan Detail Relief Memukau

Candi Kalasan memiliki desain arsitektur yang sangat khas dan berbeda dibandingkan candi lain di sekitarnya. Bangunan utama berdiri di atas alas berbentuk bujur sangkar berukuran sekitar 45 x 45 meter dengan tinggi mencapai kurang lebih 34 meter.

Bangunan candi terdiri dari tiga bagian utama, yaitu kaki candi, tubuh candi, dan atap candi. Pada bagian tubuh candi terdapat ruang utama yang dahulu diyakini menjadi tempat pemujaan Dewi Tara.

Keunikan lain terlihat dari relief dan ukiran detail yang menghiasi hampir seluruh bagian bangunan. Relief tersebut menampilkan berbagai motif flora, fauna, dewa-dewi, hingga makhluk mitologi yang memperlihatkan tingginya nilai seni pada masa itu.

Salah satu ornamen paling terkenal adalah kepala Kala yang berada di atas pintu masuk sisi selatan. Ornamen tersebut menjadi ciri khas arsitektur candi Jawa kuno.

Selain itu, Candi Kalasan juga memiliki moonstone atau batu bulan yang berada di tangga pintu masuk sisi timur. Batu monolit tersebut menjadi salah satu daya tarik unik yang sering diperhatikan pengunjung.

Dibangun dengan Teknologi Maju di Zamannya

article

Menariknya, Candi Kalasan dibangun menggunakan batu andesit yang disusun dengan teknik tinggi untuk ukuran zaman kuno. Tidak hanya itu, bagian luar candi juga dilapisi material khusus bernama bajra lepa, semacam lapisan pelindung mirip semen kuno.

Lapisan tersebut tersusun dari campuran pasir kwarsa, kalsit, kalkopirit, dan lempung. Teknologi ini membuktikan bahwa masyarakat Nusantara pada masa lampau telah memiliki kemampuan konstruksi dan pengetahuan material bangunan yang luar biasa.

Meski sebagian lapisan bajra lepa kini mulai memudar akibat usia, jejaknya masih dapat terlihat di beberapa bagian candi.

Masih Digunakan untuk Ritual Keagamaan Buddha

Hingga kini, Candi Kalasan tidak hanya menjadi objek wisata sejarah, tetapi juga masih digunakan sebagai tempat pelaksanaan ritual keagamaan umat Buddha, khususnya aliran Tantrayana.

Nuansa spiritual masih sangat terasa ketika memasuki kawasan candi. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk berwisata, tetapi juga untuk belajar sejarah dan merasakan atmosfer ketenangan khas situs budaya kuno.

Seiring perjalanan waktu, Candi Kalasan sempat mengalami berbagai kerusakan akibat faktor usia dan alam. Namun pemerintah kolonial Belanda pada masa lalu pernah melakukan upaya pemugaran.

Perbaikan pertama dilakukan pada tahun 1927 hingga 1929 oleh Van Romond, seorang sejarawan Belanda. Pemugaran kembali dilanjutkan pada tahun 1939-1940 dengan memperbaiki bagian atap dan pintu masuk yang rusak.

Meski demikian, hingga kini Candi Kalasan belum pernah mengalami pemugaran total seperti beberapa candi besar lainnya di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Saat ini pengelolaan dan pelestarian situs terus dilakukan agar bangunan bersejarah tersebut tetap terjaga sebagai warisan budaya bangsa.

Salah satu pengunjung asal Kediri bernama Irfan mengaku kagum dengan kemegahan arsitektur Candi Kalasan meski area kompleksnya tidak terlalu besar.

“Objek wisata ini letaknya tidak jauh dari Candi Prambanan. Saya datang sekitar jam lima sore setelah jam tutup, tapi masih diperbolehkan berkeliling area candi. Meski kompleksnya relatif kecil, bangunan candi ini tetap memukau dengan arsitektur Buddha kuno yang detail dan megah,” ujar Irfan, Kamis (28/5/2026) petang.

Balai Pelestarian Terus Jaga Kelestarian Situs

Kepala Kelompok Kerja Pemeliharaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta, Harry Trisatya Wahyu, mengatakan pihaknya terus melakukan perawatan rutin untuk menjaga kondisi bangunan tetap lestari.

“Kami terus berupaya menjaga kelestarian Candi Kalasan melalui perawatan rutin dan pengaturan kunjungan wisatawan. Kami berharap situs bersejarah ini tetap menjadi destinasi unggulan sekaligus sarana edukasi budaya bagi generasi muda,” kata Harry.

Keberadaan Candi Kalasan menjadi bukti nyata bahwa Indonesia memiliki warisan budaya luar biasa yang mendunia. Selain menawarkan wisata sejarah, tempat ini juga memberikan pengalaman edukatif tentang kejayaan peradaban Nusantara di masa silam.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta, Candi Kalasan menjadi destinasi yang wajib masuk daftar kunjungan. Perpaduan nilai sejarah, arsitektur megah, dan suasana spiritual menjadikan candi ini memiliki daya tarik tersendiri yang sulit dilupakan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:A Riyadi
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Yogyakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.