Teras Merapi Sleman: Dari Jejak Erupsi 2010 Menjadi Destinasi Wisata Ikonik di Lereng Gunung Merapi
Suasana destinasi wisata ikonik Teras Merapi Sleman. (FOTO: Yahya/TIMES Indonesia)

Teras Merapi Sleman: Dari Jejak Erupsi 2010 Menjadi Destinasi Wisata Ikonik di Lereng Gunung Merapi

Teras Merapi di Sleman, saksi luka erupsi 2010 yang bangkit jadi ikon wisata lereng Merapi, menghadirkan panorama megah sekaligus menggerakkan ekonomi warga Glagaharjo.

TIMES Jogja,Rabu 17 Juni 2026, 02:04 WIB
281
A
A Riyadi

YOGYAKARTADi balik panorama megah Gunung Merapi yang menjadi daya tarik wisatawan, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, kehilangan, dan kebangkitan masyarakat lereng gunung. Salah satunya adalah kawasan yang kini dikenal sebagai Teras Merapi, destinasi wisata populer di Kabupaten Sleman yang menawarkan pemandangan langsung menuju gunung api paling aktif di Indonesia.

Bukan sekadar tempat menikmati kopi dan panorama alam, Teras Merapi merupakan simbol bagaimana masyarakat mampu beradaptasi setelah bencana besar. Kawasan yang dahulu menjadi wilayah pertanian subur, kini berubah menjadi ruang wisata yang menghadirkan harapan baru bagi warga sekitar.

Secara geografis, kawasan Teras Merapi berada di Kelurahan Glagaharjo, Kapanewon/Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Daerah ini sejak dahulu dikenal sebagai kawasan yang memiliki tanah subur karena mendapatkan pasokan material vulkanik dari aktivitas Gunung Merapi.

article

Sebelum berkembang menjadi destinasi wisata, wilayah ini merupakan kawasan pertanian dan perkebunan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Tanaman tumbuh dengan baik berkat kesuburan tanah vulkanik, sementara masyarakat hidup berdampingan dengan karakter Gunung Merapi yang memiliki siklus aktivitas alam.

Nama “Teras Merapi” sendiri menggambarkan kondisi geografis kawasan tersebut. Bentuk wilayah yang bertingkat seperti teras atau undakan membuat pengunjung dapat menikmati pemandangan Merapi secara luas dan terbuka.

Namun, perjalanan kawasan ini menuju destinasi wisata tidak terlepas dari peristiwa besar yang mengubah wajah lereng Merapi.

Erupsi Merapi 2010, Titik Balik Perubahan Kawasan

Tahun 2010 menjadi salah satu catatan sejarah paling penting bagi masyarakat lereng Merapi. Erupsi besar Gunung Merapi membawa dampak luar biasa bagi wilayah Cangkringan dan sekitarnya.

Awan panas, material vulkanik, pasir, dan bebatuan menghantam berbagai wilayah, merusak permukiman serta lahan pertanian warga. Banyak masyarakat kehilangan sumber penghasilan karena lahan yang selama ini menjadi tumpuan hidup tertutup material erupsi.

article

Namun dari situasi sulit tersebut, muncul semangat baru untuk bangkit.

Pasca erupsi, perubahan lanskap justru menghadirkan sisi lain dari kawasan ini. Banyak pepohonan dan bangunan yang sebelumnya menghalangi pandangan hilang akibat bencana, sehingga terbuka panorama luas menuju Gunung Merapi.

Pemandangan inilah yang kemudian menjadi daya tarik baru.

Dari Warung Sederhana hingga Menjadi Ikon Wisata

Sekitar tahun 2011 hingga 2012, masyarakat mulai melihat peluang dari kondisi alam yang berubah. Warga membuka warung sederhana dengan konsep tempat duduk bertingkat agar pengunjung dapat menikmati panorama Merapi dengan nyaman.

Bangku kayu yang disusun menyerupai teras menjadi ciri khas kawasan tersebut. Dari konsep inilah nama “Teras Merapi” semakin dikenal masyarakat luas.

Seiring meningkatnya minat wisatawan, kawasan ini terus berkembang. Tempat yang awalnya hanya berupa warung kecil, kini bertransformasi menjadi area wisata dengan berbagai fasilitas menarik, mulai dari kafe bernuansa alam hingga spot foto estetik.

Meski mengalami perubahan, konsep utamanya tetap sama: menghadirkan pengalaman menikmati kemegahan Gunung Merapi dari dekat.

Salah satu daya tarik utama Teras Merapi adalah panorama Gunung Merapi yang terlihat jelas ketika cuaca mendukung.

Waktu favorit wisatawan biasanya pagi hari saat matahari mulai terbit. Cahaya keemasan yang menyinari puncak Merapi menciptakan suasana yang menenangkan dan menjadi momen favorit untuk mengabadikan foto.

Selain itu, suasana malam hari juga memiliki pesona tersendiri. Dari kawasan ini, pengunjung dapat menikmati gemerlap lampu permukiman Yogyakarta dari kejauhan dengan latar belakang suasana pegunungan.

Udara sejuk, pemandangan alam, serta suasana santai membuat Teras Merapi menjadi salah satu pilihan wisata populer bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.

Simbol Kebangkitan Ekonomi Warga Glagaharjo

Lebih dari sekadar tempat wisata, Teras Merapi menjadi bagian dari kebangkitan ekonomi masyarakat sekitar, khususnya warga Kalurahan Glagaharjo.

Kawasan yang dahulu sangat bergantung pada sektor pertanian, kini memiliki alternatif sumber pendapatan melalui sektor pariwisata.

Lurah Kalurahan Glagaharjo, Suroto, menyampaikan bahwa keberadaan Teras Merapi memberikan harapan baru bagi masyarakat.

“Teras Merapi ini bukan sekadar bisnis, tapi harapan baru bagi warga Glagaharjo. Dulu kami kehilangan lahan pertanian, tapi sekarang kami punya tempat yang bisa memberikan penghidupan yang layak. Kami berkomitmen menjaga kebersihan, keamanan, dan kelestarian alam agar tempat ini bisa dinikmati generasi mendatang,” kata Suroto, Selasa (16/6/2026)

Menurutnya, perkembangan wisata tersebut juga memberikan kontribusi terhadap perekonomian desa.

“Alhamdulillah, saat ini Teras Merapi menyumbang sekitar 40 persen dari Pendapatan Asli Desa kami.” Ujar Suroto.

Bukan Sekadar Wisata, tetapi Cerita Ketangguhan Manusia

Keunikan Teras Merapi bukan hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi juga pada cerita di balik keberadaannya.

Di tempat yang pernah menjadi saksi bencana besar, kini tumbuh ruang baru yang menghadirkan kebahagiaan, interaksi sosial, dan peluang ekonomi.

Bagi wisatawan, berkunjung ke Teras Merapi bukan hanya menikmati pemandangan. Mereka juga dapat melihat bagaimana masyarakat lereng gunung mampu hidup berdampingan dengan alam dan bangkit dari masa sulit.

Salah satu pengunjung, Andi Pratama dari Jakarta, mengaku terkesan dengan suasana kawasan tersebut.

“Tempatnya sangat nyaman dan pemandangannya luar biasa indah. Saya datang pagi-pagi sekali dan bisa melihat matahari terbit dengan latar Merapi. Rasanya damai, udaranya segar, dan makanannya juga enak dengan harga terjangkau. Bukan cuma tempat wisata, tapi terasa ada semangat warga yang bangkit dari bencana,” ungkapnya.

Meski kini menjadi kawasan wisata yang ramai dikunjungi, Gunung Merapi tetap merupakan gunung api aktif yang memiliki potensi aktivitas vulkanik.

Karena itu, aktivitas wisata di kawasan Teras Merapi selalu memperhatikan kondisi terbaru Gunung Merapi berdasarkan informasi dari pihak berwenang, termasuk pemantauan aktivitas vulkanik.

Teras Merapi menjadi bukti bahwa bencana tidak selalu menjadi akhir dari sebuah perjalanan. Dengan kreativitas dan semangat masyarakat, kawasan yang pernah mengalami kehancuran kini mampu menjelma menjadi destinasi wisata yang membawa cerita tentang ketangguhan, harapan, dan kehidupan baru. (*)

 

PEWARTA: YAHYA HAQUL MUBIN

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:A Riyadi
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Yogyakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.