Misteri dan Sejarah Pantai Parangtritis, Wisata Sakral di Yogyakarta yang Penuh Legenda Ratu Kidul
Pantai Parangtritis Yogyakarta menawarkan perpaduan pesona sunset pasir hitam, jejak sejarah Kerajaan Mataram Islam, dan mitos gaib Kanjeng Ratu Kidul.
YOGYAKARTA – Pantai Parangtritis bukan hanya dikenal sebagai destinasi wisata favorit di selatan Yogyakarta. Pantai dengan hamparan pasir hitam dan ombak besar ini juga menyimpan sejarah panjang, mitos yang melekat kuat, hingga jejak spiritual yang masih dipercaya masyarakat Jawa sampai sekarang.
Terletak sekitar 27 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta, Pantai Parangtritis menjadi salah satu ikon wisata paling populer di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Keindahan panorama matahari terbenam (sunset) yang berpadu dengan nuansa mistis menjadikan kawasan ini selalu menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.
Tak sekadar tempat rekreasi, Parangtritis juga dikenal sebagai kawasan sakral yang memiliki hubungan erat dengan budaya Jawa dan sejarah Kerajaan Mataram Islam.
Asal-Usul Nama Pantai Parangtritis
Nama Parangtritis dipercaya berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Jawa, yakni parang dan tritis. Kata parang merujuk pada batuan karang atau tebing terjal yang membentang di kawasan pantai tersebut. Dalam makna lain, parang juga identik dengan senjata tajam seperti keris atau pisau, yang menggambarkan bentuk bebatuan tajam dan memanjang.
Sementara itu, tritis berasal dari kata tretes yang berarti tetesan air. Konon, dahulu di sela-sela tebing batu sekitar pantai terdapat mata air yang terus menetes dan mengalir. Seiring perkembangan zaman, penyebutan Parangtretes perlahan berubah menjadi Parangtritis hingga dikenal luas seperti sekarang.
Jejak Sejarah Era Kerajaan Mataram Islam
Pantai Parangtritis memiliki nilai historis yang sangat penting sejak era Kesultanan Mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613–1645), kawasan selatan Yogyakarta ini dipercaya menjadi lokasi pertapaan dan meditasi spiritual sang raja.

Sultan Agung disebut kerap melakukan semedi di sejumlah gua yang berada di sekitar tebing pantai demi mencari petunjuk untuk keberlangsungan kerajaan. Salah satu lokasi yang paling terkenal adalah Gua Langse. Tempat ini diyakini sebagai lokasi pertemuan spiritual Sultan Agung dengan Kanjeng Ratu Kidul.
Legenda tersebut berkembang kuat di masyarakat Jawa dan menjadi simbol hubungan spiritual antara Keraton Mataram dengan Laut Selatan. Selain Sultan Agung, kawasan Parangtritis dan Parangkusumo juga sering digunakan para tokoh spiritual serta pujangga Jawa sebagai tempat bertapa dan mendalami ilmu kebatinan.
Mitos dan Legenda yang Masih Lestari
Pembahasan mengenai Pantai Parangtritis tidak bisa dipisahkan dari kisah mistis dan mitologi yang sudah hidup selama ratusan tahun di tengah masyarakat.
-
Gerbang Kerajaan Gaib Ratu Kidul: Masyarakat Jawa meyakini Pantai Parangtritis merupakan gerbang menuju kerajaan gaib Laut Selatan yang dipimpin Kanjeng Ratu Kidul. Karena kepercayaan tersebut, wisatawan sering diingatkan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau, yang dipercaya sebagai warna favorit Ratu Kidul. Meski demikian, larangan ini lebih dimaknai sebagai bentuk penghormatan budaya dan pengingat agar wisatawan tetap berhati-hati terhadap ombak besar Pantai Selatan yang terkenal ganas.
-
Kisah Parang dan Tokoh Sakti: Legenda lain menyebut kawasan ini berkaitan dengan kisah tokoh sakti zaman dahulu yang menancapkan senjata parang di tebing sekitar pantai hingga membentuk bentang alam yang unik. Cerita tersebut diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari cerita rakyat (folklore) masyarakat setempat.
-
Simbol Kosmologi Jawa: Dalam filosofi budaya Jawa, Pantai Parangtritis memiliki posisi penting sebagai penyeimbang alam bersama Gunung Merapi. Masyarakat Jawa memandang Gunung Merapi di utara dan Laut Selatan di selatan sebagai dua kutub kehidupan yang saling melengkapi. Aliran sungai dari Merapi menuju Laut Selatan dianggap sebagai simbol perjalanan spiritual manusia dari kehidupan menuju keabadian.
Dari Tempat Sakral Menjadi Ikon Wisata Utama
Dahulu, Pantai Parangtritis lebih dikenal sebagai lokasi ritual dan pertapaan. Namun seiring perkembangan zaman, kawasan ini berubah menjadi destinasi wisata unggulan di Yogyakarta. Pada masa kolonial Belanda, keindahan pantai ini mulai dikenal luas meskipun akses menuju lokasi masih sangat terbatas.
Kini, pemerintah daerah bersama masyarakat setempat terus mengembangkan fasilitas wisata, mulai dari akses jalan, area parkir, penginapan, hingga wahana rekreasi seperti all-terrain vehicle (ATV) dan delman pantai.
Pantai Parangtritis juga terkenal dengan fenomena embun pagi yang kerap disebut "Bidadari Turun Mandi", serta panorama sunset yang menjadi daya tarik utama wisatawan. Tak hanya itu, tradisi budaya seperti upacara Labuhan dari Keraton Yogyakarta masih rutin digelar di kawasan ini sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ragam Aktivitas dan Pengelolaan Wisata
Salah satu wisatawan, Tri S, mengaku terpesona dengan suasana Pantai Parangtritis yang berbeda dari pantai lainnya. Menurutnya, hamparan pasir hitam yang luas berpadu dengan ombak besar menciptakan panorama alam yang sangat memukau, terutama saat matahari mulai terbenam.
“Pantai ini menawarkan pengalaman alam yang luar biasa. Sunset-nya sangat indah dan suasananya menenangkan. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan, mulai dari naik ATV, delman, hingga sekadar menikmati angin pantai,” ujar Roni, wisatawan asal Jakarta, Minggu (24/5/2026).
Sementara itu, pengelola Pantai Parangtritis, Al Andi Irawan, mengatakan pihaknya terus berupaya menjaga keseimbangan antara pengembangan wisata dan pelestarian budaya lokal.
“Kami tidak hanya mengelola tempat wisata, tetapi juga menjaga tradisi dan keselamatan pengunjung. Kami berharap wisatawan ikut menjaga kebersihan dan menghormati nilai budaya yang ada di Pantai Parangtritis,” kata Andi.
Hingga kini, Pantai Parangtritis tetap menjadi salah satu destinasi wisata paling ikonik di Indonesia. Keindahan alam, sejarah panjang, mitos Ratu Kidul, hingga tradisi budaya yang masih lestari menjadikan pantai ini lebih dari sekadar tempat berlibur, melainkan perpaduan harmonis antara pesona alam, sejarah Nusantara, dan kearifan budaya Jawa. (*)
Pewarta: Yahya Haqul Mubin
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

