Sejarah Kota Gede Yogyakarta, Jejak Kejayaan Mataram Islam yang Abadi
YOGYAKARTA – Kota Gede merupakan salah satu kawasan bersejarah paling penting di tanah Jawa. Terletak di bagian selatan Kota Yogyakarta, tempat ini bukan hanya sekadar pemukiman tua, melainkan bukti nyata awal mula berdirinya Kerajaan Mataram Islam yang kelak menjadi cikal bakal Kesultanan Yogyakarta.
Sejarah mencatat, Kota Gede mulai dibangun pada tahun 1546 Masehi oleh Panembahan Senopati. Saat itu, beliau memilih sebuah kawasan hutan lebat bernama Mentaok yang dianggap memiliki aura keramat dan strategis untuk dijadikan pusat pemerintahan baru
Dengan semangat dan doa, hutan tersebut dibuka dan dibangun menjadi sebuah kota pertahanan yang kuat. Nama "Kota Gede" sendiri memiliki arti "Kota Besar" atau "Kota Agung". Nama ini diberikan dengan harapan agar kerajaan yang dibangun kelak bisa menjadi besar, luas, makmur, dan disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.
“Kota Gede memiliki sejarah yang patut dipelajar, budaya masyarakatnya juga unik. Keberadaan masjid dan makam tua yang ada di sini juga harus terus dijaga,” terang Mubarok, pengunjung masjid Kota Gede, Minggu (3/5/2026).
Masa Kejayaan sebagai Ibu Kota
Selama beberapa dekade, Kota Gede menjadi jantung kehidupan Kerajaan Mataram Islam. Di bawah pemerintahan Panembahan Senopati, dilanjutkan oleh Panembahan Seda ing Krapyak, dan mencapai puncak kejayaan pada masa Sultan Agung Anyokrokusumo, wilayah ini berkembang sangat pesat.

Di sini lahirlah berbagai kebijakan politik, militer, dan budaya yang membuat Mataram menjadi kekuatan besar di Jawa. Salah satu warisan paling monumental dari masa ini adalah Masjid Agung Kota Gede. Masjid ini dibangun dengan arsitektur yang sangat unik, memadukan gaya Islam dengan filosofi budaya Jawa yang kental, lengkap dengan pendopo dan tata ruang yang simetris.
Di area kompleks yang sama, terdapat juga Makam Raja-Raja Mataram. Di sinilah dimakamkan para pendiri dan raja-raja besar Mataram, termasuk Panembahan Senopati dan Sultan Agung. Hingga saat ini, tempat ini masih menjadi tujuan ziarah utama bagi masyarakat yang ingin menghormati jasa para leluhur.
Perpindahan Pusat Pemerintahan
Seiring berjalannya waktu dan perkembangan wilayah yang semakin luas, pusat ibu kota akhirnya dipindahkan. Pada masa raja berikutnya, pemerintahan dipindahkan ke Plered, kemudian ke Kartasura, hingga akhirnya terjadi perpecahan melalui Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang melahirkan dua kesultanan besar, yaitu Surakarta Hadiningrat dan Yogyakarta Hadiningrat.
Meskipun tidak lagi menjadi pusat pemerintahan formal, Kota Gede tidak kehilangan jiwanya. Kawasan ini justru berkembang menjadi pusat perdagangan dan kesenian.
Warisan yang Tetap Hidup
Hingga kini, Kota Gede tetap mempertahankan pesonanya. Selain terkenal dengan situs sejarahnya, kawasan ini juga mendunia sebagai pusat kerajinan perak yang hasilnya telah menembus pasar internasional.
Tata kota lama, bangunan-bangunan bersejarah, dan suasana yang tenang menjadikan Kota Gede sebagai tempat di mana masa lalu dan masa kini berjalan beriringan. Kota Gede akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang peradaban di Yogyakarta. (*)
Pewarta: Yahya Haqul Mubin
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

