Setu Sinau Hadir di Malioboro, Wisatawan Kini Bisa Belajar Budaya di Ruang Terbuka
Setu Sinau ing Malioboro mengubah Malioboro jadi ruang belajar budaya tiap Sabtu pagi: enam kelas seni terbuka, libatkan seniman lokal hingga mahasiswa asing.
YOGYAKARTA – Kawasan Jalan Malioboro tak lagi sekadar identik dengan belanja dan swafoto. Kini, pengunjung dapat merasakan pengalaman berbeda: belajar budaya langsung di ruang publik melalui program Setu Sinau ing Malioboro.
Inisiatif yang digagas Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta ini resmi diluncurkan pada Sabtu (14/2/2026) pukul 07.00–09.00 WIB. Kegiatan berlangsung di sisi timur Malioboro, tepatnya di sekitar kawasan DPRD DIY, dan disambut antusias masyarakat serta wisatawan.
Peluncuran program dihadiri Penjabat Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta bersama jajaran pemerintah, seniman, budayawan, akademisi, komunitas seni, hingga masyarakat umum. Kehadiran berbagai unsur tersebut mempertegas komitmen menjadikan Malioboro sebagai ruang publik berbasis kebudayaan.
Enam Kelas Budaya Digelar Paralel
Setu Sinau dirancang dengan konsep street workshop atau kelas singkat di ruang terbuka. Warga dan wisatawan dapat langsung bergabung tanpa sekat formal, menciptakan suasana santai dan interaktif.
Ada enam kelas budaya yang digelar secara paralel, yakni: Sinau Aksara Jawa,Sinau Nggamel (gamelan), Sinau Ngadi Busana, Sinau Njoged (tari), Sinau Nggambar (melukis), dan Sinau Dolanan Anak
Seluruh kelas dipandu oleh pelaku seni dan komunitas budaya Yogyakarta, sehingga peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung.
Salah satu kelas yang menarik perhatian adalah Sinau Aksara Jawa. Puluhan peserta dari berbagai usia tampak antusias mengikuti pembelajaran yang dipandu komunitas Jawacana. Mereka dikenalkan pada huruf, cara membaca, hingga aturan penulisan aksara Jawa, termasuk pemanfaatannya dalam format digital.
Suasana belajar berlangsung terbuka dan inklusif. Siapa pun dapat mencoba tanpa harus memiliki latar belakang seni atau budaya.
Libatkan Mahasiswa Asing, Perkuat Citra Malioboro sebagai Ruang Budaya
Menariknya, program ini juga melibatkan mahasiswa asing yang tengah menempuh pendidikan di sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta. Keterlibatan mereka menjadi ruang pertukaran budaya sekaligus memperkenalkan kebudayaan lokal melalui pengalaman langsung.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menegaskan Setu Sinau menjadi strategi memperkuat nilai tambah Malioboro sebagai destinasi budaya.
Menurutnya, kunjungan ke Malioboro tidak semata meninggalkan jejak konsumsi, tetapi juga menghadirkan pengalaman dan kedekatan emosional dengan budaya Yogyakarta.
Ia menambahkan, ruang publik semestinya tidak hanya dimaknai sebagai pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga ruang belajar bersama yang inklusif dan berkelanjutan.
Ke depan, Setu Sinau direncanakan hadir rutin setiap Sabtu pagi. Program ini diharapkan menjadi atraksi budaya khas Malioboro sekaligus memperkuat citra kawasan tersebut sebagai ruang budaya hidup yang memberi pengalaman dan pengetahuan bagi setiap pengunjung. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


