Tiga Generasi Seniman Tari Bersatu di TBY, Pertunjukan Kontemporer Ini Sukses Memukau Penonton Jogja
Pementasan “Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi” di TBY Yogyakarta hadirkan kolaborasi tiga koreografer beda generasi dalam karya tari penuh makna dan refleksi budaya.
YOGYAKARTA – Semangat kolaborasi lintas generasi terasa kuat dalam pementasan bertajuk “Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi” yang digelar di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Rabu (20/5/2026) malam. Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut menghadirkan pertunjukan tari kontemporer dari tiga koreografer berbeda generasi dengan karakter karya yang unik dan penuh makna.
Pementasan ini menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga denyut perkembangan seni pertunjukan di Yogyakarta. Tidak hanya menyajikan hiburan berkualitas, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog kreatif antara seniman senior dan generasi muda agar ekosistem seni budaya tetap hidup dan berkembang mengikuti zaman.
Didukung melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik Kementerian Kebudayaan Tahun 2026, kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari para penonton yang memenuhi area pertunjukan sejak awal acara dimulai.
Tiga Koreografer, Tiga Sudut Pandang Kehidupan
Dalam pertunjukan tersebut, tiga koreografer tampil membawa karya yang merepresentasikan pengalaman hidup dan pencarian artistik dari kelompok usia berbeda, mulai dari generasi muda hingga seniman yang telah matang dalam perjalanan berkesenian.
Koreografer senior Besar Widodo tampil lewat karya berjudul “Di Atas Irama Dua”. Karya ini menggambarkan perjalanan perempuan yang memasuki usia 50 hingga 60 tahun. Melalui eksplorasi gerak yang emosional dan penuh penghayatan, penonton diajak menyelami dinamika kehidupan, refleksi usia, hingga hubungan antar generasi dalam dunia tari.
Sementara itu, Galih Puspita menghadirkan karya “Ngluru Lurung” yang menempatkan “rasa” sebagai pusat pencarian makna hidup. Dengan pendekatan gerak yang eksploratif dan simbolik, Galih mencoba membawa penonton masuk ke dalam perjalanan batin manusia dalam memahami tujuan hidupnya.
Di sisi lain, semangat generasi muda hadir melalui karya Eka Lutfi Febriyanto bertajuk “Sangkar Sunyi yang Bernyawa”. Karya tersebut mengangkat aktivitas keseharian dan tradisi lokal, salah satunya ritual Mitoni, yang diterjemahkan menjadi bahasa tari kontemporer dengan pendekatan personal dan reflektif.
Perpaduan ketiga karya tersebut membuat suasana pertunjukan terasa hidup dan penuh warna. Setiap koreografer menghadirkan karakter berbeda, namun tetap memiliki benang merah berupa refleksi kehidupan manusia dan keberlanjutan budaya.
Kolaborasi Penutup Jadi Simbol Regenerasi Seni
Tidak hanya tampil secara individual, ketiga koreografer juga menutup pertunjukan dengan sebuah kolaborasi spesial di atas panggung. Penampilan bersama ini menjadi simbol kuat pentingnya kesinambungan antar generasi dalam dunia seni pertunjukan.
Kolaborasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa seni kontemporer bukan sekadar ruang eksperimen artistik, tetapi juga wadah pertemuan ide, pengalaman, dan perspektif yang terus berkembang dari waktu ke waktu.
Atmosfer hangat dan emosional pun terasa ketika para penonton memberikan tepuk tangan panjang di akhir acara. Banyak penonton mengaku terkesan dengan kualitas pertunjukan yang dianggap mampu menyampaikan pesan mendalam melalui bahasa tubuh dan gerakan tari.
Penonton Kagum dengan Kualitas Pertunjukan
Salah satu pengunjung, Budi Santoso, mengaku sangat menikmati seluruh rangkaian pertunjukan yang dinilainya memiliki kualitas artistik tinggi.
Menurutnya, pementasan tersebut berhasil memperlihatkan bagaimana para seniman menuangkan gagasan dan emosi ke dalam gerak tari yang komunikatif dan menyentuh.
“Pertunjukannya sangat bagus dan memukau. Saya bisa melihat bagaimana para seniman menuangkan ide serta perasaan mereka lewat gerakan tari. Harapannya, acara seperti ini bisa lebih sering diadakan karena sangat baik untuk menumbuhkan apresiasi seni masyarakat Jogja,” ujar Budi.
TBY Ingin Seni Budaya Jogja Terus Dinamis
Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Seni TBY, Cerrya Wuri Waheni, menyampaikan rasa syukur karena acara berlangsung lancar dengan antusiasme penonton yang tinggi.
Ia menjelaskan, kegiatan ini memang dirancang untuk menjadi ruang pertemuan antar generasi seniman agar tercipta proses saling belajar dan bertukar gagasan kreatif.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah menjembatani kesenjangan antar generasi. Kami ingin seniman senior maupun muda bisa saling bertukar pikiran sekaligus memacu kreativitas masing-masing,” ungkap Cerrya.
Menurutnya, Yogyakarta memiliki kekuatan besar sebagai kota budaya sehingga ruang-ruang seni seperti ini perlu terus dihidupkan agar perkembangan seni pertunjukan tetap dinamis.
“Kami ingin memastikan seni budaya di Yogyakarta terus bergerak dan tidak mati. Justru harus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan akar budayanya,” tambahnya.
Yogyakarta Kian Mengukuhkan Diri sebagai Kota Seni
Pementasan “Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi” menjadi bukti bahwa Yogyakarta masih menjadi salah satu pusat perkembangan seni pertunjukan di Indonesia. Kolaborasi antara generasi senior dan muda dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan kreativitas di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Melalui ruang-ruang pertunjukan seperti ini, masyarakat tidak hanya disuguhkan hiburan, tetapi juga diajak memahami nilai budaya, refleksi kehidupan, hingga dinamika sosial yang diterjemahkan dalam bahasa seni kontemporer.
Dengan tingginya antusiasme masyarakat, acara ini diharapkan dapat menjadi agenda seni rutin yang terus menghadirkan karya-karya kreatif dan inovatif dari para seniman Indonesia. (*)
Pewarta: Yahya Haqul Mubin
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

