Waspadai Antraks, Pemkot Yogyakarta Kerahkan 265 Petugas Awasi Hewan Kurban
Pemkot Yogyakarta siapkan 265 petugas untuk periksa 2.229 sapi dan 5.723 kambing kurban. Waspada Antraks, PMK, LSD. Masyarakat diminta cek SKKH dan ciri fisik hewan sehat.
YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta memastikan seluruh hewan kurban untuk Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah atau tahun 2026 dalam kondisi sehat dan aman dikonsumsi masyarakat. Untuk menjamin hal tersebut, ratusan petugas pemeriksaan dan pengawasan hewan kurban akan diterjunkan ke berbagai titik pemotongan dan penjualan hewan di Kota Yogyakarta.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi penyebaran penyakit berbahaya pada hewan kurban seperti Antraks, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), hingga Lumpy Skin Disease (LSD) yang masih menjadi perhatian pemerintah.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi menegaskan seluruh proses penyembelihan hewan kurban akan berada dalam pengawasan ketat petugas, baik yang dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) maupun di lokasi penyembelihan luar RPH.
Menurutnya, sesuai aturan, penyembelihan hewan yang dagingnya diedarkan seharusnya dilakukan di RPH. Namun khusus momentum Iduladha, pemotongan diperbolehkan di luar RPH dengan syarat mendapat pengawasan resmi dari pemerintah.
“Pemotongan hewan kurban dilakukan di dua tempat, yakni di RPH dan lokasi pemotongan di luar RPH. Semuanya tetap dalam pengawasan ketat petugas yang kami terjunkan,” ujar Sukidi, Sabtu (16/5/2026).
Data Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta mencatat, pada Iduladha 2025 terdapat sekitar 610 titik pemotongan hewan kurban dengan jumlah 2.477 ekor sapi serta 5.776 kambing dan domba.
Sementara pada tahun 2026, jumlah tersebut diperkirakan sedikit menurun menjadi sekitar 570 titik pemotongan dengan estimasi 2.229 sapi dan 5.723 kambing maupun domba.
Selain itu, hingga saat ini tercatat sekitar 73 titik penjualan hewan kurban tersebar di Kota Yogyakarta yang juga akan mendapat pengawasan kesehatan secara berkala.
265 Petugas Disiagakan Selama Hari Raya hingga Tasyrik
Untuk memastikan kesehatan hewan kurban tetap terjaga, Pemkot Yogyakarta menyiapkan total 265 petugas pemeriksa dan pemantau. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun lalu yang hanya sekitar 205 petugas.
Petugas yang diterjunkan tidak hanya berasal dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, tetapi juga melibatkan mahasiswa, organisasi profesi dokter hewan, hingga paguyuban terkait.
Sukidi menjelaskan, para petugas akan mulai bekerja sejak malam Iduladha melalui pemeriksaan antemortem atau pengecekan sebelum penyembelihan dilakukan. Setelah hewan disembelih, petugas juga melakukan pemeriksaan postmortem guna memastikan organ dalam hewan aman dikonsumsi.
“Kami melakukan pemeriksaan fisik sebelum disembelih untuk memastikan hewan sehat. Setelah dipotong, kami cek organ-organ penting seperti hati dan paru-paru untuk memastikan tidak ada penyakit berbahaya,” jelasnya.
Ia menambahkan, apabila ditemukan indikasi penyakit serius seperti Antraks yang telah menyebar ke jaringan tubuh hewan, maka daging dan bagian tubuh terkait wajib dimusnahkan demi keselamatan masyarakat.
Pengawasan tersebut akan dilakukan secara intensif selama minimal lima hari nonstop, mulai Hari Raya Iduladha hingga masa Tasyrik berakhir.
Masyarakat Diminta Cek SKKH Sebelum Membeli Hewan Kurban
Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan dan Kehewanan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sri Panggarti mengimbau masyarakat agar lebih teliti saat membeli hewan kurban.
Ia meminta warga memastikan hewan kurban memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) sebagai bukti bahwa hewan telah diperiksa dan dinyatakan sehat.
Menurut Sri Panggarti, hewan kurban yang berasal dari luar daerah, khususnya wilayah dengan riwayat kasus Antraks seperti Gunungkidul, wajib dilengkapi hasil uji laboratorium negatif Antraks sebelum masuk ke Yogyakarta.
Selain Antraks, pemerintah juga mewaspadai penyebaran PMK dan LSD yang dapat menyerang sapi maupun kambing.
Sri Panggarti turut membagikan sejumlah ciri hewan kurban sehat yang dapat dikenali masyarakat sebelum membeli.
Menurutnya, hewan sehat biasanya memiliki mata cerah, bulu halus, serta hidung yang tampak basah atau lembab. Sebaliknya, jika hidung terlihat kering, masyarakat perlu waspada karena bisa menjadi tanda hewan sedang demam atau sakit.
“Hewan sehat itu matanya ceria, bulunya halus, dan bagian hidungnya lembab. Kalau kering, patut dicurigai sedang sakit. Sapi sehat juga biasanya aktif mengunyah,” terangnya.
Ia menyebutkan, selama ini pasokan hewan kurban di Kota Yogyakarta berasal dari berbagai daerah, baik dari wilayah DIY maupun luar daerah seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Pemerintah pun telah menerapkan aturan ketat terkait lalu lintas hewan ternak, termasuk kewajiban rekomendasi masuk ke DIY bagi hewan dari luar daerah.
Waspadai Temuan Cacing Hati pada Hewan Kurban
Selain pemeriksaan fisik sebelum penyembelihan, petugas juga akan melakukan pengecekan organ dalam setelah hewan dipotong.
Sri Panggarti mengungkapkan, salah satu temuan yang cukup sering dijumpai saat pemeriksaan postmortem adalah adanya cacing hati pada hewan kurban.
Menurutnya, kondisi tersebut sering kali tidak terlihat secara kasat mata saat hewan masih hidup sehingga baru diketahui setelah organ hati diperiksa usai penyembelihan.
“Kalau kerusakan hati hanya sedikit biasanya tidak terlihat saat pemeriksaan fisik. Setelah dipotong baru kelihatan ada cacing hati atau gangguan lainnya,” terang Sri Panggarti.
Dengan pengawasan ketat dan keterlibatan ratusan petugas, Pemkot Yogyakarta berharap masyarakat dapat menjalankan ibadah kurban dengan aman, nyaman, dan terhindar dari risiko penyakit hewan menular. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

