Api Muncul Lebih dari 91 Kali, BPBD Sleman Pertimbangkan Tanggap Darurat Khusus
Hingga Kamis (4/6/2026), jumlah kemunculan api tercatat telah melebihi 91 kali dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
SLEMAN – Fenomena kemunculan api misterius yang berulang di rumah warga di Padukuhan Mriyan X, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Hingga Kamis (4/6/2026), jumlah kemunculan api tercatat telah melebihi 91 kali dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Pemerintah Kabupaten Sleman menyatakan keprihatinan atas kejadian tersebut dan memastikan seluruh unsur pemerintah terlibat dalam upaya penanganan di lapangan.
Koordinasi terus dilakukan dengan melibatkan organisasi perangkat daerah, pemerintah kapanewon, hingga pemerintah kalurahan untuk memperkuat langkah penanganan.
Kemunculan Api Masih Berlanjut
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Bambang Kuntoro, mengatakan fenomena kebakaran berulang yang terjadi di rumah milik Agus Yani masih menyisakan banyak pertanyaan.
Memasuki hari ke-13 sejak pertama kali muncul pada 23 Mei 2026, sumber pasti kemunculan api belum dapat dipastikan.
Menurut Bambang, data terbaru menunjukkan total kemunculan api telah mencapai lebih dari 91 kejadian. Dalam perkembangan terakhir, api kembali muncul tiga kali pada malam hari dan lima kali pada pagi harinya.
"Penyebab pasti dari fenomena kebakaran berulang ini masih menjadi teka-teki. Sementara dampak yang ditimbulkan, baik secara psikologis maupun material, sudah sangat besar," ujar Bambang, Kamis (4/6/2026)
Ia menjelaskan, titik api muncul secara acak dan tidak memiliki pola yang jelas. Selain muncul di sejumlah titik di dalam area rumah, kini kemunculannya juga mulai meluas ke bagian utara bangunan.
Kondisi tersebut membuat keluarga Agus Yani harus mengosongkan rumah dari barang-barang yang mudah terbakar.
Selama hampir dua pekan terakhir, mereka juga mengungsi ke ruko yang berada di dekat lokasi demi alasan keselamatan. Aktivitas sehari-hari dan pekerjaan keluarga pun ikut terganggu karena harus berjaga selama 24 jam.
Kajian Peneliti Jadi Dasar Penentuan Status
Melihat situasi yang belum terkendali, BPBD Sleman kini mempertimbangkan peningkatan status penanganan dari siaga menjadi Tanggap Darurat Khusus.
Opsi tersebut dinilai perlu karena karakteristik kejadian yang tidak lazim dan membutuhkan pendekatan berbeda dibanding bencana pada umumnya.
Bambang menjelaskan, keputusan terkait status tersebut akan mengacu pada hasil kajian ilmiah yang dilakukan sejumlah lembaga dan perguruan tinggi.
Tim peneliti yang terlibat berasal dari Universitas Gadjah Mada (UGM), UPN Veteran Yogyakarta, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).
Hasil penelitian itu nantinya akan menjadi dasar bagi BPBD untuk menyusun rekomendasi kepada Bupati Sleman terkait kemungkinan penerbitan Surat Keputusan Tanggap Darurat Khusus.
Selain meneliti faktor keselamatan warga, tim ahli juga mengkaji kemungkinan adanya faktor lingkungan maupun sumber daya alam yang berkaitan dengan fenomena tersebut.
BPBD menegaskan bahwa seluruh aspek teknis dan keilmuan diserahkan kepada para peneliti yang saat ini masih melakukan observasi di lapangan.
Pemerintah Kabupaten Sleman mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpancing kepanikan.
Warga diminta meningkatkan kewaspadaan dengan memeriksa kondisi instalasi listrik di rumah serta menghindari pembakaran sampah tanpa pengawasan, terutama saat memasuki musim kemarau.
Masyarakat juga diharapkan segera melapor kepada pemerintah setempat atau instansi terkait apabila menemukan hal mencurigakan maupun kemunculan titik api.
Selain itu, warga diminta menjaga keamanan lingkungan dan menunggu hasil kajian ilmiah yang sedang dilakukan oleh tim peneliti. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

