Waspada! Hantavirus Bisa Sebabkan Gagal Ginjal hingga Gangguan Pernapasan
Masyarakat diminta waspada terhadap Hantavirus karena dapat menyebabkan gagal ginjal hingga gangguan pernapasan. (FOTO: Soni/TIMES Indonesia)

Waspada! Hantavirus Bisa Sebabkan Gagal Ginjal hingga Gangguan Pernapasan

Hingga Mei 2026, Kota Yogyakarta bebas kasus Hantavirus. Warga diimbau tetap waspada, jaga kebersihan, kendalikan tikus, dan segera periksa jika demam usai paparan tikus.

TIMES Jogja,Selasa 2 Juni 2026, 10:31 WIB
1K
A
A Riyadi

YOGYAKARTAPemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) memastikan hingga akhir Mei 2026 tidak ditemukan kasus Hantavirus di wilayah Kota Yogyakarta. Namun demikian, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan karena penyakit yang ditularkan melalui tikus tersebut dapat menimbulkan komplikasi serius, mulai dari gangguan pernapasan hingga gagal ginjal.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, menjelaskan bahwa belakangan ini masyarakat sempat dihebohkan dengan informasi mengenai temuan kasus Hantavirus di wilayah Yogyakarta.

Menurutnya, informasi tersebut perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

"Kasus yang sempat dirilis Kementerian Kesehatan bukan berasal dari Kota Yogyakarta. Kasus tersebut berada di wilayah DIY, tepatnya di Kabupaten Kulon Progo, dan statusnya saat itu masih suspek atau dugaan. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium menggunakan metode PCR, hasilnya dinyatakan negatif Hantavirus," jelas Lana, Selasa (2/6/2026).

Lana menegaskan bahwa sepanjang tahun 2026 hingga Mei ini tidak ada laporan kasus Hantavirus di Kota Yogyakarta. Sementara pada tahun 2025, hanya ditemukan satu kasus dan pasien tersebut telah dinyatakan sembuh setelah menjalani perawatan.

Hantavirus Ditularkan Melalui Tikus Terinfeksi

Hantavirus merupakan salah satu penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh virus Orthohantavirus yang dibawa oleh tikus yang telah terinfeksi.

Penularan dapat terjadi melalui berbagai cara, mulai dari gigitan tikus hingga kontak langsung dengan air liur, urine, maupun kotoran tikus yang mengandung virus.

Selain itu, masyarakat juga perlu berhati-hati saat membersihkan area yang lama tidak digunakan, seperti gudang, loteng, atau ruang penyimpanan yang berdebu. Debu yang telah terkontaminasi virus dapat terhirup dan menjadi jalur masuk virus ke dalam tubuh manusia.

"Kondisi ini berisiko terjadi ketika seseorang membersihkan gudang atau ruangan yang banyak aktivitas tikus tanpa menggunakan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan," terang Lana.

Kenali Gejala Awal Hantavirus

article

Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala awal Hantavirus agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Secara umum, terdapat dua sindrom utama yang disebabkan oleh infeksi Hantavirus, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).

Tipe HFRS umumnya menyerang fungsi ginjal dan memiliki gejala yang mirip dengan leptospirosis. Sementara tipe HPS menyerang sistem pernapasan dan dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan akut yang berbahaya.

Di Indonesia sendiri, kasus yang lebih banyak ditemukan adalah tipe HFRS dengan masa inkubasi sekitar satu hingga dua minggu setelah seseorang terpapar virus.

Gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Demam tinggi mendadak
  • Sakit kepala hebat
  • Nyeri pada bola mata
  • Hilang nafsu makan
  • Mata merah atau perdarahan pada konjungtiva
  • Wajah tampak kemerahan

Jika kondisi memburuk, penderita dapat mengalami penurunan tekanan darah, penurunan kesadaran, pembengkakan paru-paru dan perut, serta berkurangnya produksi urine akibat gangguan fungsi ginjal.

"Karena gejalanya diawali demam, masyarakat perlu segera memeriksakan diri sejak hari pertama jika mengalami keluhan tersebut, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan lingkungan yang berpotensi terkontaminasi tikus," ujar Lana.

Belum Ada Obat Khusus Hantavirus

Salah satu hal yang membuat Hantavirus perlu diwaspadai adalah belum tersedianya pengobatan spesifik untuk menyembuhkan penyakit ini.

Selama ini, tenaga medis hanya dapat memberikan terapi suportif atau pengobatan untuk mengurangi gejala yang muncul. Pada kasus tertentu, pasien bahkan dapat mengalami gangguan fungsi ginjal berat yang memerlukan tindakan cuci darah.

Karena itu, upaya pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menghindari penularan penyakit tersebut.

Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta juga terus meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan melalui edukasi dan pelatihan terkait penanganan leptospirosis maupun Hantavirus. Selain itu, koordinasi lintas sektor terus diperkuat bersama Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian dan Pangan, serta seluruh puskesmas di Kota Yogyakarta.

Pemkot Yogyakarta Perkuat Pencegahan Melalui Surat Edaran

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular serta Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta masih menggunakan Surat Edaran Wali Kota Nomor 100.3.4/2407 Tahun 2025 tentang kewaspadaan terhadap Leptospirosis dan Hantavirus.

Menurutnya, isi surat edaran tersebut masih sangat relevan untuk diterapkan hingga saat ini sehingga belum diperlukan penerbitan regulasi baru.

Melalui surat edaran tersebut, seluruh pihak terkait diimbau untuk meningkatkan langkah deteksi dini, pencegahan, dan pengendalian penyakit yang ditularkan melalui tikus.

"Dari Dinas Kesehatan kami terus mengedukasi masyarakat agar berperan aktif dalam mencegah penyakit ini. Selain menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, masyarakat juga perlu memastikan makanan dan minuman tersimpan dengan baik agar tidak terjangkau tikus," kata Endang.

Tips Mencegah Hantavirus

Untuk mengurangi risiko penularan Hantavirus, masyarakat dianjurkan:

  • Menjaga kebersihan lingkungan rumah dan tempat kerja.
  • Menutup rapat makanan serta minuman.
  • Mengelola sampah dengan baik agar tidak mengundang tikus.
  • Menggunakan alas kaki saat beraktivitas di lingkungan berisiko.
  • Memakai masker dan sarung tangan saat membersihkan gudang atau area berdebu.
  • Menghindari konsumsi air mentah yang berpotensi terkontaminasi.
  • Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala demam disertai riwayat paparan tikus.

Meski Kota Yogyakarta masih terbebas dari kasus Hantavirus sepanjang 2026, kewaspadaan masyarakat tetap menjadi kunci utama. Dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup sehat, risiko penyebaran penyakit berbahaya yang ditularkan tikus ini dapat ditekan semaksimal mungkin. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:A Riyadi
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Yogyakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.