Kisah Wisudawan Autis UGM: Kuliah 6 Tahun, Siham Rintis Peternakan Domba di Jepara
Di balik perjuangannya sebagai mahasiswa penyandang autisme Asperger, Siham kini mulai membangun usaha peternakan domba yang dirintis sejak masih kuliah.
YOGYAKARTA – Di tengah kemeriahan Wisuda Program Sarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (20/5/2026), terselip kisah inspiratif dari Siham Hamda Zaula Mumtaza.
Wisudawan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM ini berhasil menuntaskan studinya setelah menjalani perjalanan akademik selama 6 tahun 7 bulan.
Lulusan angkatan 2019 asal Jepara, Jawa Tengah itu membuktikan bahwa keterbatasan tidak menjadi penghalang untuk meraih cita-cita.
Di balik perjuangannya sebagai mahasiswa penyandang autisme Asperger, Siham kini mulai membangun usaha peternakan domba yang dirintis sejak masih kuliah.
“Saya senang sudah bisa lulus dari Fapet UGM. Rasanya senang, meski sempat merasa gugup saat wisuda,” ujar Siham.
Keberhasilan tersebut menjadi titik awal baru bagi Siham untuk mewujudkan mimpinya di bidang peternakan.
Dari Bangku Kuliah ke Kandang Domba
Ketertarikan Siham pada dunia peternakan tidak berhenti di ruang kelas. Sejak mendekati akhir masa studi, ia mulai mengembangkan usaha ternak domba di kampung halamannya.
Saat ini, usaha tersebut telah memiliki sekitar 15 ekor domba dan akan terus diperluas.
“Sekarang saya sedang mengembangkan peternakan domba di Jepara. Saat ini ada 15 ekor dan target ke depan ingin dikembangkan hingga lebih dari 100 ekor,” katanya.
Bagi Siham, peternakan bukan hanya pilihan profesi, tetapi juga ruang yang membuatnya nyaman untuk berkarya dan mandiri.
Ia dikenal sebagai sosok yang tekun selama menjalani pendidikan di UGM. Setiap hari, Siham bersepeda dari kawasan Condongcatur menuju kampus.
Untuk memudahkan proses belajar, ia terbiasa duduk di barisan depan saat perkuliahan berlangsung.
Dukungan Kampus Jadi Penguat
Perjalanan akademik Siham tidak dilalui sendirian. Ia mengaku mendapat banyak dukungan dari dosen, tenaga kependidikan, teman, hingga lingkungan kampus yang inklusif.
“Saya merasa terbantu oleh semua pihak yang mendukung selama kuliah, baik secara langsung maupun tidak langsung,” ungkapnya.
Keberadaan Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM juga menjadi bagian penting dalam proses studinya.
Menurut Siham, fasilitas dan pendampingan yang diberikan membantu mahasiswa difabel menjalani perkuliahan dengan lebih nyaman.
“Untuk mahasiswa difabel yang ingin kuliah di UGM, tidak perlu khawatir karena Unit Layanan Disabilitas selalu ada untuk mendampingi,” pesannya.
Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menyebut pencapaian Siham menjadi contoh bahwa pendidikan tinggi harus membuka ruang bagi semua mahasiswa untuk berkembang.
“Kami bangga karena Siham berhasil menyelesaikan studi dan mulai membangun usaha peternakan secara mandiri. Ini menunjukkan setiap mahasiswa memiliki potensi untuk tumbuh dan berdaya,” ujarnya.
Menurutnya, kampus tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung seluruh mahasiswa. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

