Refleksi Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq: Mengembalikan Pendidikan sebagai Proyek Kebudayaan
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq saat menghadiri Bulan Buya Ahmad Syafii Maarif. (FOTO: Istimewa)

Refleksi Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq: Mengembalikan Pendidikan sebagai Proyek Kebudayaan

Menghadiri Bulan Buya Syafii Maarif di Yogyakarta, Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq menekankan pentingnya keteladanan otentik dan nilai moral dalam sistem pendidikan nasional.

TIMES Jogja,Minggu 24 Mei 2026, 19:35 WIB
1.1K
R
Rochmat Shobirin

YogyakartaSebuah ruang seni yang hening di Kiniko Artspace, Yogyakarta, malam itu tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya peristiwa budaya. Ruangan tersebut bertransformasi menjadi ruang batin—sebuah tempat refleksi kolektif mengenai arah masa depan bangsa, sekaligus momentum untuk membaca kembali warisan pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif sebagai "suluh" yang menuntun kehidupan publik.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, hadir dalam acara tersebut. Ia datang bukan hanya sebagai pejabat negara, melainkan sebagai saksi hidup yang memiliki kedekatan intelektual dan personal yang erat dengan almarhum Buya Syafii Maarif. Pengalaman personal itulah yang menjadi titik pijak refleksi yang ia bagikan di hadapan para hadirin.

Dalam pidatonya, Fajar mengisahkan kembali masa-masa saat dirinya menjabat sebagai Direktur Eksekutif MAARIF Institute—lembaga yang selama ini menjadi rumah bagi pemikiran-pemikiran Buya. Di sanalah Fajar mengaku tidak hanya mempelajari gagasan, tetapi juga menyaksikan langsung keteladanan nyata yang dipraktikkan dalam kesunyian.

“Buya tidak pernah mengajarkan dengan retorika yang menggelegar. Ia mengajarkan melalui sikap—keteguhan pada prinsip, sekaligus kelapangan dalam menerima perbedaan,” ujar Fajar pada Sabtu (23/5/2026).

Bagi Fajar, perjumpaan dengan tokoh bangsa tersebut bukan sekadar relasi antara murid dan guru. Perjumpaan itu adalah sebuah pengalaman intelektual mendalam yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia pendidikan dan kehidupan publik. Ia mengenang bagaimana Buya selalu menempatkan agama sebagai sumber etika publik, bukan sebagai alat eksklusi atau pembatas. Buya juga selalu menegaskan bahwa keindonesiaan harus dirawat dalam keberagaman, bukan diseragamkan.

Krisis Keteladanan dalam Sistem Pendidikan

Refleksi personal tersebut kemudian berkembang menjadi kegelisahan yang lebih luas. Fajar menilai Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis keteladanan. Persoalan ini bukan sekadar kekurangan figur pemimpin, melainkan adanya masalah sistemik dalam dunia pendidikan yang terlalu menekankan pada transfer pengetahuan semata dan mengabaikan pembentukan karakter.

“Pendidikan kita berisiko kehilangan kompas moral, jika tidak ditopang oleh nilai dan keteladanan yang otentik,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa warisan pemikiran Buya Syafii Maarif tetap sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman tersebut. Dalam kerangka pendidikan nasional, nilai-nilai pemikiran Buya dapat diterjemahkan ke dalam tiga pilar utama: keislaman yang mencerahkan, keindonesiaan yang menyatukan, dan kemanusiaan yang membebaskan. Ketiga pilar ini harus menjadi fondasi untuk membangun sistem pendidikan yang tidak hanya melahirkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.

Acara Malam Budaya pembukaan pameran seni rupa ini merupakan bagian dari rangkaian agenda “Bulan Buya Ahmad Syafii Maarif (BB-ASM)” yang digagas oleh MAARIF Institute. Gerakan ini bertujuan untuk merawat sekaligus menyebarluaskan gagasan besar Buya mengenai Islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan. Selain Wamendikdasmen, acara ini juga dihadiri oleh mantan Ketua KPK M. Busyro Muqoddas, Rektor UII Prof. Fathul Wahid, serta sejumlah seniman dan perupa nasional.

Pendidikan sebagai Proyek Kebudayaan

Dalam konteks kebijakan, Fajar menekankan pentingnya mengembalikan esensi pendidikan sebagai proyek kebudayaan, bukan sekadar sistem teknokratis atau administratif belaka. Menurutnya, sekolah harus diubah menjadi ruang perjumpaan nilai, ruang dialog, dan ruang refleksi, sebagaimana yang tecermin dalam malam kebudayaan tersebut.

“Pendidikan bukan hanya mengasah nalar, tetapi merawat nurani,” kata Fajar.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa menjaga “suluh bangsa” tidak berarti mengawetkan sosok Buya Syafii Maarif sebagai figur yang dikultuskan. Sebaliknya, hal yang jauh lebih mendesak untuk dilakukan saat ini adalah memastikan nilai-nilai yang dihidupkan oleh Buya—seperti integritas, keberanian moral, dan keberpihakan pada kemanusiaan—hadir dan nyata di setiap ruang pendidikan.

Pada akhirnya, pesan utama yang mengemuka dari pertemuan tersebut sangat sederhana namun mendasar: menjaga “suluh” bukan berarti mengawetkan masa lalu, melainkan memastikan nyala nilainya tetap hidup dalam konteks hari ini.

Di tengah kecenderungan masyarakat yang sering kali mencari figur penyelamat, dunia pendidikan diarahkan untuk membangun kesadaran kolektif. Kesadaran bahwa setiap warga negara adalah subjek moral yang ikut bertanggung jawab atas arah masa depan bangsa.

“Mungkin yang kita butuhkan bukan suara yang lebih keras, tetapi cahaya yang lebih jernih,” pungkas Fajar.

Dari Yogyakarta, pesan itu bergaung dengan jernih: jika pendidikan kehilangan nuraninya, maka yang hilang bukan hanya arah belajar, tetapi juga arah masa depan bangsa ini. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Rochmat Shobirin
|
Editor:Deasy Mayasari

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Yogyakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.