TIMES JOGJA, YOGYAKARTA – Selama berabad-abad, peradaban manusia terjebak dalam "perangkap ekstraksi", sebuah model ekonomi linear yang beroperasi dengan logika mengambil sumber daya dari bumi, mengolahnya menjadi produk, dan membuangnya sebagai limbah. Model ini memang berhasil memacu pertumbuhan ekonomi, namun ia menyembunyikan biaya yang sangat mahal yaitu kerusakan ekosistem yang tidak dapat diperbaiki.
Dalam konsep ekonomi ini, kita memperlakukan planet ini seolah-olah ia adalah gudang persediaan yang tak terbatas dan tempat sampah yang tak berdasar, tanpa menyadari bahwa alam ini memiliki titik nadir yang mematikan.
Ketidakberlanjutan model ekstraktif ini kini telah mencapai puncaknya melalui krisis iklim yang semakin ekstrem, hilangnya keanekaragaman hayati secara massal dan bencana alam yang mengintai.
Pertumbuhan yang selama ini kita banggakan seringkali bersifat semu karena ia tumbuh dengan cara "memakan" modal alam kita sendiri. Jika kita terus memaksakan diri dalam jalur ini, kita bukan sedang membangun kemajuan, melainkan sedang meminjam masa depan anak cucu kita.
Realitas pahit dari "perangkap" ini terpampang juga di Indonesia. Berdasarkan data pada Statistik Lingkungan Hidup Indonesia (BPS, 2025), laju deforestasi netto Indonesia meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Pada periode 2019–2020, deforestasi tercatat masih sebesar 115,4 ribu hektare per tahun.
Lima tahun kemudian, puncak deforestasi justru terjadi yaitu pada 2023–2024 yang mencapai 175,4 ribu hektare per tahun. Lonjakan ini terutama berasal dari alih fungsi kawasan hutan dan Area Penggunaan Lain (APL), yang menegaskan bahwa tekanan pembangunan masih terus menggerus hutan alam kita.
Oleh karena itu, migrasi menuju ekonomi regeneratif bukan lagi pilihan opsional, melainkan kebutuhan eksistensial. Berbeda dengan ekonomi ekstraktif yang menguras, ekonomi regeneratif bekerja dengan prinsip memulihkan. Ia meniru cara kerja alam yang bersifat sirkular, di mana tidak ada yang terbuang dan setiap proses memberikan kehidupan bagi proses lainnya.
Fokus utamanya bukan sekadar "mengurangi dampak buruk", melainkan secara aktif memperbaiki kualitas tanah, hutan, air, dan atmosfer melalui inovasi desain dan teknologi yang selaras dengan ritme alam.
Bukti nyata bahwa pemanfaatan sumber daya alam dapat berjalan selaras dengan pemulihan ekosistem dapat kita lihat di Finlandia. Negara ini berhasil menjadi salah satu produsen kayu dunia tanpa harus menghancurkan paru-paru hijaunya.
Finlandia menerapkan prinsip di mana setiap pohon yang ditebang harus segera digantikan dengan penanaman baru, sehingga volume pertumbuhan hutan mereka secara konsisten melampaui jumlah kayu yang dipanen.
Melalui kebijakan manajemen hutan yang ketat namun adaptif, mereka membuktikan bahwa industri kehutanan tidak harus bersifat ekstraktif-destruktif; mereka justru menjaga kesehatan hutan sebagai aset ekonomi jangka panjang yang tetap hidup dan produktif bagi generasi mendatang.
Secara sosial, keluar dari perangkap ekstraksi juga berarti menuju keadilan yang lebih luas. Model ekstraktif cenderung bersifat sentralistik, di mana keuntungan besar seringkali mengalir ke segelintir pemilik modal sementara dampak kerusakan lingkungannya diderita oleh masyarakat lokal dan adat.
Ekonomi regeneratif menawarkan model yang lebih inklusif dan terdesentralisasi, di mana pemberdayaan komunitas lokal menjadi kunci untuk menjaga ketahanan pangan, energi, dan air secara mandiri dan berkelanjutan.
Banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025 ini seharusnya menjadi peringatan paling nyata bahwa krisis ekologis bukan konsep abstrak, melainkan kenyataan yang menghantam kehidupan sehari-hari.
Ketika hutan di hulu terus tergerus dan tata ruang dikorbankan demi ekstraksi jangka pendek, alam merespons dengan cara yang keras dan tanpa kompromi. Bencana-bencana ini adalah pesan bahwa biaya dari pembangunan yang abai terhadap daya dukung lingkungan akhirnya dibayar oleh masyarakat paling rentan.
Transisi ini menuntut keberanian untuk mendefinisikan ulang makna "kemakmuran". Kita harus bergeser dari obsesi terhadap angka pertumbuhan PDB yang kering. Keluar dari perangkap ekstraksi adalah langkah pertama kita untuk menjadi spesies yang tidak hanya menumpang hidup di bumi, tetapi juga menjadi bagian yang ikut memelihara dan menyembuhkannya.
***
*) Oleh : Eri Kuntoro, SST, M.Si., Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi D.I. Yogyakarta.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |