https://jogja.times.co.id/
Berita

Libur Nataru Dorong Wisata Jarak Dekat, Akademisi UGM Ingatkan Risiko Overtourism

Jumat, 02 Januari 2026 - 19:28
Libur Nataru Dorong Wisata Jarak Dekat, Akademisi UGM Ingatkan Risiko Overtourism Ilustrasi lokasi wisata (FOTO: Humas UGM for TIMES Indonesia)

TIMES JOGJA, YOGYAKARTA – Tingginya arus kunjungan wisata selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) menunjukkan perubahan perilaku wisata masyarakat. Perjalanan jarak dekat atau micro tourism kini menjadi pilihan utama, seiring mahalnya tiket pesawat dan meningkatnya kebutuhan wisata yang lebih aman serta efisien.

Micro tourism merupakan konsep berwisata dengan cakupan wilayah terbatas, durasi singkat, dan biaya yang lebih terjangkau. Pola ini mendorong wisatawan untuk mengeksplorasi destinasi lokal tanpa harus melakukan perjalanan jauh, sekaligus meminimalkan risiko selama perjalanan.

Peneliti Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. M. Yusuf, M.A., menyebut Yogyakarta menjadi salah satu destinasi yang paling merasakan dampak tren tersebut. Kemudahan akses darat, khususnya melalui jaringan tol, dinilai mempercepat mobilitas wisatawan dari berbagai daerah.

“Waktu tempuh yang semakin singkat membuat orang lebih memilih perjalanan darat. Selain itu, wisatawan menilai Yogyakarta relatif aman dari sisi kebencanaan, sehingga tingkat kunjungannya sangat tinggi saat Nataru,” kata Yusuf, Jum’at (2/1/2026).

Namun, tingginya kunjungan wisata juga memunculkan persoalan baru. Yusuf mengingatkan risiko overtourism yang berpotensi membebani infrastruktur dan mengganggu kenyamanan wisatawan. Menurutnya, pengelola destinasi perlu memiliki strategi mitigasi bencana yang terencana dan terukur.

Ia menegaskan, mitigasi bencana di kawasan wisata setidaknya mencakup tiga hal utama, yakni pemetaan potensi risiko, optimalisasi sumber daya lokal sebagai kekuatan respons, serta penyusunan prosedur penanganan saat kondisi darurat terjadi.

Untuk mengurangi kepadatan pengunjung, Yusuf mendorong diversifikasi waktu kunjungan melalui pengembangan wisata hari kerja. Konsep health and wellness tourism dinilai memiliki potensi besar untuk menarik segmen wisatawan tertentu.

“Pasarnya jelas, seperti pengusaha, pensiunan, dan pekerja remote. Wisata hari kerja bisa menjadi solusi agar kunjungan tidak menumpuk di akhir pekan,” ujarnya.

Di sisi kebijakan transportasi, Yusuf mengkritik wacana subsidi tiket pesawat yang dinilai tidak efektif dalam jangka panjang. Ia menilai mahalnya tiket pesawat merupakan faktor utama yang mendorong wisatawan beralih ke perjalanan jarak dekat.

“Subsidi bukan solusi utama. Penurunan harga avtur, pajak suku cadang pesawat, dan biaya layanan bandara jauh lebih berdampak untuk menekan harga tiket,” tegasnya.

Selain itu, Yusuf juga menyoroti gagasan work from mall yang menurutnya kurang berpihak pada masyarakat. Ia menyarankan konsep bekerja dari destinasi wisata berbasis komunitas sebagai alternatif yang lebih inklusif.

“Desa wisata yang dikelola masyarakat bisa menjadi ruang kerja sekaligus ruang ekonomi baru. Ini lebih memberi manfaat langsung bagi warga,” kata Yusuf.

Sebagai penutup, Yusuf menekankan pentingnya pembangunan pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan. Menurutnya, pariwisata tidak hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pemerataan manfaat dan keselamatan wisatawan.

“Pariwisata harus mampu memberikan ruang penyegaran bagi semua lapisan masyarakat, dengan pengelolaan yang profesional dan memperhatikan aspek risiko bencana,” paparnya. (*)

Pewarta : A. Tulung
Editor : Deasy Mayasari
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jogja just now

Welcome to TIMES Jogja

TIMES Jogja is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.