TIMES Jogja/Ratusan mahasiswa tergabung dalam Gejayan Memanggil melakukan unjuk rasa. Mereka mengritik Pemerintahan Jokowi. (FOTO: Olivia Rianjani/TIMES Indonesia)

Aksi demonstran yang dilakukan ratusan mahasiswa mendapatkan perhatian pengguna jalan yang melintas di Jalan Gejayan, Yogyakarta, Sabtu (16/12/2023). Massa gabungan mahas ...

TIMES Jogja,Sabtu 16 Desember 2023, 19:12 WIB
44.8K
O
Olivia Rianjani

YOGYAKARTAAksi demonstran yang dilakukan ratusan mahasiswa mendapatkan perhatian pengguna jalan yang melintas di Jalan Gejayan, Yogyakarta, Sabtu (16/12/2023). Massa gabungan mahasiswa dan elemen Masyarakat yang tergabung dalam Gejayan Memanggil ini mengkritisi kebijakan pemerintahan.

Dalam aksinya, massa prihatin terhadap kondisi situasi ekonomi politik. Terutama seperti di kondisi ketenagakerjaan, nasib kaum buruh dengan adanya upah murah itu kemudian menyengsarakan kelas pekerja di Indonesia, apa lagi kenaikan upah tidak sampai 10 persen.

Massa pun meminta kepada negara untuk menyejahterakan buruh yang saat ini masih terpinggirkan. Sebab, kebutuhan dasar pendidikan dan kesehatan merupakan tanggungjawab pemerintah sebagaimana di atur oleh UUD 1945.

article

“Dagelan yang konyol sekali, yang itu membodohkan masyarakat rakyat Indonesia, rakyat Indonesia sudah muak dengan politik hari ini, rakyat Indonesia sudah muak dengan tindakan elite-elite politik yang korupsi yang kemudian menerapkan kolusi nepotisme,” kata Restu Baskara, Humas Aliansi Rakyat Bergerak.

Dalam kesempatan itu, Restu menyinggung masalah MK yang merupakan produk reformasi. Namun, kenyataannya sekarang telah mengkhianati amanat reformasi itu sendiri. Bahkan, massa menilai Jokowi telah mengkhianati cita-cita reformasi dengan melakukan kejahatan demokrasi.

“Kami tahu bahwa di MK itu adalah produk reformasi tapi elite politik sekarang justru mengkhianati amanat dari reformasi yang sudah diperjuangkan dari 98 sampai sekarang. Artinya ini adalah tugas kita bagaimana mengubah keadaan itu, mengkritik rezim hari ini," terangnya.

Restu mengungkapkan, akan ada massa lebih banyak yang akan turun ke jalan apabila kesewenang-wenangan, penindasan, dan kebodohan politik terus dilakukan. “Kami sudah muak dengan semua paslon semua partai politik apalagi pro terhadap pemodal," tandasnya.

Senada dengan Restu, Humas Aliansi Rakyat Bergerak lainnya, Dewa Adi Wibawa juga mengutarakan, pemerintahan saat ini dianggap telah melemahkan KPK.

“Berikutnya manuver dia terkait dengan MK, bagaimana adik iparnya dipergunakan sedemikian rupa hingga akhirnya Gibran anaknya muncul sebagai cawapres instan dan terbukti memang Anwar Usman melakukan pelanggaran etik. Jadi artinya Jokowi tidak mengkhianati partai, Jokowi mengkhianati reformasi dan rakyat,” bebernya.

Sejumlah spanduk besar pun dibentangkan. Salah satunya spanduk bertuliskan "Nawa Bencana Jokowi".

Pada spanduk tersebut terdapat 9 poin penting yang disampaikan para mahasiswa kepada pemerintah. Diantaranya, memerosotkan demokrasi, melanggengkan represi. Lalu ada pula kalimat merawat nepotisme, menerabas konstitusi, hingga "PSN: Proyek Sengsara Nasional. “Bukan Nawa Cita, karena cita-cita 9 tahun lalu kini sudah jadi Nawa Bencana. Hilirisasi asal-asalan dan merusak lingkungan. Lawan...,” teriak seorang peserta aksi saat berorasi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Olivia Rianjani
|
Editor:Faizal R Arief

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Yogyakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.