https://jogja.times.co.id/
Berita

Keraton Yogyakarta Gelar Labuhan Ageng Dal 1959, Peringati 38 Tahun Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan HB X

Senin, 19 Januari 2026 - 16:33
Keraton Yogyakarta Gelar Labuhan Ageng Dal 1959 Para Abdi Dalem Keraton Yogyakarta menggotong ubarampe yang akan dilabuh di pantai Parangkusumo, Yogyakarta, Senin, 19/1/2026. (FOTO: Eko Susanto/TIMES Indonesia)

TIMES JOGJA, YOGYAKARTA – Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar Labuhan Ageng di Parangkusumo, Senin (19/1/2026) pagi. Labuhan Ageng ini merupakan rangkaian Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem Dal 1959 untuk memperingati ulang tahun kenaikan takhta Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10. Pada tahun 2026 ini, Tingalan Jumenengan Dalem bertepatan dengan Minggu Kliwon, 18 Januari 2026 atau 29 Rejeb Dal 1959 dalam kalender Jawa Sultanagungan, menandai 38 tahun Sri Sultan bertakhta.

Meski secara kalender Masehi Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 genap bertakhta selama 37 tahun pada 7 Maret 2026, Keraton Yogyakarta tetap menyelenggarakan peringatan utama berdasarkan penanggalan Jawa. Rangkaian upacara dilaksanakan sejak 27 Rejeb sebagai bentuk laku spiritual, penghormatan terhadap leluhur, sekaligus doa keselamatan bagi Sultan, Keraton, dan masyarakat luas.

Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa, KRT Kusumonegoro, menjelaskan bahwa Tingalan Jumenengan Dalem tahun ini digelar secara khusus karena bertepatan dengan Tahun Jawa Dal, yang dalam siklus windu memiliki makna istimewa.

Prosesi-Labuhan-Ageng-Keraton-Yogyakarta.jpgProsesi Labuhan Ageng Keraton Yogyakarta di Pantai Parangkusumo, Senin, 19/1/2026. (FOTO: Eko Susanto/TIMES Indonesia)

“Dalam satu windu terdapat dua Tingalan Jumenengan Dalem yang dianggap besar, yakni pada Tahun Wawu dan Tahun Dal. Tahun Wawu adalah tahun penobatan Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10, sedangkan Tahun Dal dimaknai sebagai tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW,” ujar KRT Kusumonegoro, Minggu (18/1/2026).

Rangkaian Hajad Dalem dimulai dengan Bucalan pada Jumat (16/1/2026), berupa doa di empat penjuru tapal batas wilayah inti Keraton (Kuthagara) sebagai permohonan keselamatan dan kelancaran seluruh prosesi. Pada hari yang sama juga digelar Ngebluk, yakni persiapan jladren atau adonan apem, yang secara simbolik berasal dari kata Arab afwan (ampunan).

Prosesi berlanjut dengan Ngapem pada Sabtu (17/1/2026), ditandai dengan pembuatan apem mustaka dan apem alit. Puncak peringatan berlangsung pada Minggu (18/1/2026) melalui Sugengan, upacara selamatan yang dihadiri keluarga Keraton dan Abdi Dalem sebagai ungkapan syukur sekaligus doa keselamatan.

Abdi-Dalem-KEraton-Yogyakarta-membacakan-beragam-jenis-ubarampe.jpgAbdi Dalem KEraton Yogyakarta membacakan beragam jenis ubarampe yang akan di labuh di pendopo Cepuri Parangkusumo, Senin, 19/1/2026. (FOTO: Eko Susanto/TIMES Indonesia)

Memasuki hari berikutnya, Keraton Yogyakarta menggelar Labuhan Parangkusumo dan Dlepih pada 30 Rejeb, dilanjutkan Labuhan Merapi dan Lawu pada 1 Ruwah. Khusus pada Tahun Dal 1959, prosesi labuhan digelar lebih lengkap dan berskala ageng.

“Pada tahun-tahun biasa, labuhan dilakukan di tiga lokasi, yakni Parangkusumo, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu. Namun khusus Labuhan Ageng pada Tahun Dal, Keraton menambah satu lokasi lagi, yaitu Dlepih Kayangan di Kabupaten Wonogiri,” jelas KRT Kusumonegoro.

Menurutnya, Petilasan Dlepih memiliki kedudukan historis penting dalam perjalanan spiritual para pendiri dan raja-raja Mataram. Tempat tersebut menjadi salah satu lokasi khalwat Panembahan Senopati sebelum mendirikan Kerajaan Mataram, serta pernah digunakan Sultan Agung Hanyakrakusumo dan Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I) untuk bertapa.

Sementara itu, Labuhan Parangkusumo memiliki akar sejarah yang tak terpisahkan dari lahirnya Mataram Islam. Parangkusumo dikenal sebagai kawasan sakral tempat Panembahan Senopati menjalin laku spiritual dan kosmologis, termasuk kisah pertemuannya dengan Kanjeng Ratu Kidul sebagai simbol hubungan antara raja Mataram dan penguasa laut selatan. Sejak masa itu, Parangkusumo menjadi salah satu poros penting kosmologi Jawa, menghubungkan Keraton Yogyakarta, Gunung Merapi, dan Samudra Hindia.

Tradisi labuhan di Parangkusumo kemudian dilestarikan oleh raja-raja Mataram dan Kasultanan Yogyakarta sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, leluhur, serta kekuatan adikodrati yang diyakini menjaga keseimbangan semesta. Hingga kini, labuhan tetap dijalankan sebagai ritual simbolik untuk menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Secara etimologis, labuhan berasal dari kata labuh yang berarti membuang atau menghanyutkan. Dalam prosesi ini, Keraton melabuh berbagai ubarampe sebagai simbol membuang sifat-sifat buruk dan memohon keselamatan. Pada Labuhan Ageng Dal 1959, terdapat ubarampe tambahan, antara lain songsong gilap di Parangkusumo, kambil watangan atau pelana kuda di Gunung Merapi, serta dua songsong di Gunung Lawu.

Upacara Labuhan, menurut KRT Kusumonegoro, merupakan wujud penghormatan, perenungan, dan napak tilas perjuangan leluhur Keraton Yogyakarta. Lebih dari itu, labuhan menjadi bagian dari tugas Sultan sebagai pemangku adat untuk hamemayu hayuning bawono, memelihara keselarasan dan keseimbangan alam serta kehidupan.

Dengan digelarnya Labuhan Ageng Tahun Dal 1959 ini, Keraton Yogyakarta menegaskan kembali perannya sebagai penjaga tradisi, sejarah, dan kosmologi Jawa yang terus hidup dan relevan di tengah dinamika zaman. (*)

Pewarta : Eko Susanto
Editor : Deasy Mayasari
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jogja just now

Welcome to TIMES Jogja

TIMES Jogja is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.