TIMES JOGJA, YOGYAKARTA – Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, soal ambisinya merebut Greenland memicu kekhawatiran pakar internasional. Guru Besar UGM menilai langkah ini bisa mengganggu kedaulatan negara, menekan sekutu, dan merusak norma hukum internasional.
Trump menyatakan, AS harus menguasai Greenland “dengan cara apapun” untuk mengamankan kepentingan nasional di tengah meningkatnya aktivitas Rusia dan China di kawasan Arktik. Menurut Trump, jika AS tidak bertindak cepat, kedua negara itu bisa mengambil alih wilayah yang kaya sumber daya ini.
Prof. Dr. Nur Rachmat Yuliantoro, S.I.P., M.A., pakar Hubungan Internasional UGM, menilai pernyataan Trump lebih bersifat provokatif dan strategis ketimbang realistis.
“Greenland memang strategis untuk pertahanan, jalur pelayaran, dan mineral, tapi ide merebut wilayah ini tidak realistis,” ujarnya, Jum’at (15/1/2026).
Nur menekankan, pernyataan Trump adalah taktik politik dengan tiga target: publik AS, sekutu Denmark, dan dunia internasional. Kepada publik AS, ia menampilkan diri sebagai pelindung keamanan nasional. Kepada Denmark, sinyal tekanan agar mendukung agenda AS. Kepada dunia, khususnya Rusia dan China, Trump menunjukkan dominasi AS di kawasan.
Potensi Dampak Global
Nur menyoroti sisi personalisasi geopolitik Trump. Teritori diperlakukan seperti aset bisnis, diplomasi seperti negosiasi transaksional. Greenland menjadi panggung untuk menguji reaksi dunia, menciptakan kegaduhan diplomatik, dan menegaskan dominasi AS.
Jika keinginan ini benar-benar diwujudkan, dampaknya serius. “Langkah ini bisa melemahkan kedaulatan negara, menimbulkan ketegangan di Eropa, memengaruhi NATO, dan merusak legitimasi tatanan internasional berbasis aturan,” kata Nur.
Menurutnya, hal ini menandai pergeseran global menuju diplomasi yang lebih keras, transaksional, dan berisiko tinggi. (*)
| Pewarta | : A. Tulung |
| Editor | : Faizal R Arief |