TIMES JOGJA, YOGYAKARTA – style="text-align:justify">Perubahan cuaca atau pancaroba yang tengah melanda wilayah Yogyakarta berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit, terutama infeksi saluran pernapasan. Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengimbau masyarakat untuk lebih disiplin menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) guna menjaga daya tahan tubuh serta mencegah penularan penyakit, termasuk yang belakangan populer di masyarakat dengan istilah super flu.
Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data serta Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Lana Unwanah, menegaskan bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap super flu sejatinya berkaitan dengan meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang lazim terjadi saat pergantian musim.
“Secara umum, flu merupakan penyakit akibat virus yang bersifat self limiting disease, artinya dapat sembuh dengan sendirinya jika daya tahan tubuh kita baik,” ujar dr. Lana, Minggu (11/1/2026).
Mengenal Super Flu: Gejala Lebih Berat, Durasi Lebih Panjang
Meski tergolong penyakit yang bisa sembuh sendiri, dr. Lana menjelaskan bahwa super flu yang secara medis dikenal sebagai Influenza A (H3N2) subclade K memiliki karakteristik berbeda dibandingkan flu biasa. Gejalanya cenderung lebih berat dan durasi sakitnya lebih lama.
“Kalau flu biasa umumnya sembuh dalam dua hingga tiga hari, super flu bisa berlangsung lebih dari satu minggu,” jelasnya.
Ia menambahkan, gejala super flu meliputi demam tinggi yang muncul mendadak, nyeri otot dan sendi, tubuh terasa sangat lemas, sakit kepala berat, serta batuk yang dapat menetap dalam waktu cukup lama.
Namun demikian, masyarakat diminta tidak menyamakan super flu dengan Covid-19. Menurut dr. Lana, virus Influenza A (H3N2) subclade K umumnya menyerang saluran pernapasan bagian atas dan jarang menimbulkan komplikasi berat hingga ke paru-paru.
“Super flu tidak sampai menyebabkan kondisi berat seperti Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) yang membutuhkan ventilator. Jadi masyarakat tidak perlu panik berlebihan, tetapi tetap harus waspada,” tegasnya.
Penyakit Tidak Menular Juga Jadi Perhatian
Selain penyakit menular, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta juga menyoroti meningkatnya tren penyakit tidak menular (PTM) di masyarakat. Penyakit seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, hingga gagal ginjal yang memerlukan cuci darah masih menjadi tantangan serius di bidang kesehatan.
Menurut dr. Lana, tingginya kasus PTM tidak lepas dari pola hidup masyarakat yang belum sehat.
“Pola makan yang tidak seimbang, kurang aktivitas fisik, serta kebiasaan hidup tidak sehat menjadi faktor utama meningkatnya penyakit-penyakit tersebut,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Dinkes Kota Yogya terus mendorong masyarakat untuk menjaga pola makan bergizi seimbang, berolahraga secara teratur, serta memastikan waktu istirahat yang cukup sebagai langkah preventif jangka panjang.
Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta secara khusus mengingatkan kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, serta penderita penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi untuk lebih berhati-hati selama musim pancaroba.
Masyarakat yang mengalami gejala flu berat, demam tinggi berkepanjangan, atau batuk yang tidak kunjung membaik, diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
“Yang terpenting adalah tidak panik, tetapi tetap waspada dan bertanggung jawab agar tidak menularkan penyakit kepada orang lain,” imbuh dr. Lana.
Dinkes Siapkan Faskes dan Logistik
Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi dari sisi pelayanan kesehatan dan logistik.
“Kami memastikan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, serta logistik sesuai dengan gejala yang mungkin muncul, seperti demam, batuk, dan pilek,” jelasnya.
Ia menambahkan, langkah pencegahan yang dianjurkan pada prinsipnya sama seperti saat pandemi Covid-19, yakni menggunakan masker saat sakit atau berada di kerumunan, rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta membatasi interaksi sosial bagi warga yang sedang sakit.
Dari sisi pemantauan epidemiologi, Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Dinkes Kota Yogyakarta, Dwi Ana Sulistyani, S.K.M., mengungkapkan bahwa tren kasus ISPA di Kota Yogyakarta sempat mengalami peningkatan pada periode September hingga Oktober, khususnya pada Minggu Epidemiologi ke-39.
“Kami menerima beberapa laporan klaster di sekolah-sekolah, mulai dari SD hingga SMA, dengan gejala batuk dan pilek yang muncul hampir bersamaan,” ujarnya.
Meski demikian, Dwi Ana memastikan bahwa tren tersebut saat ini telah melandai dan tidak menunjukkan peningkatan signifikan.
“Situasi relatif terkendali, namun pemantauan tetap kami lakukan secara rutin,” pungkasnya.
Dengan kondisi cuaca yang masih fluktuatif, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta konsisten menerapkan PHBS sebagai kunci menjaga kesehatan bersama. (*)
| Pewarta | : Soni Haryono |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |