TIMES JOGJA, YOGYAKARTA – Halalbihalal merupakan tradisi khas Indonesia. Hanya Indonesia memiliki tradisi halalbihalal, sedang di negara-negara lain tak ada. Menelusuri jejak penyelenggaraan halalbihalal, sebenarnya dimulai sejak jaman rezim presiden Soekarno. Mengadakan halalbihalal waktu itu, bertujuan memperbaiki hubungan politik, berwujud saling memaafkan.
Ternyata kebiasaan halalbihalal berlangsung sampai sekarang. Prosesi ini diadakan selepas sholat Idul Fitri. Kegiatan halal bihalal dimulai dari keluarga inti terlebih dahulu, yaitu sesama anggota keluarga terdekat saling memberi maaf.
Kemudian agenda berikutnya, bertandang ke tetangga kiri dan kanan, untuk melebur kesalahan yang barangkali pernah dilakukannya. Tak lupa pada saat lebaran tiba, bersilaturahmi pada sanak saudara lain. Mereka melakukan anjang sana untuk mempererat persaudaraan.
Bukan hanya dalam bentuk saling mengunjungi antar anggota keluarga dan tetangga, halal bihalal sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia, buktinya dihelat oleh semua kalangan, seperti trah atau bani, organisasi, yayasan, perusahaan, lembaga pendidikan dan lembaga pemerintahan.
Secara spesifik dapat dijelaskan, acara halal bihalal yang diadakan oleh trah atau bani memiliki manfaat positif menumbuhkan intimacy relationship. Dalam kajian ilmu psikologi mengenai intimacy relationship, bermakna hubungan dua orang atau lebih mempunyai kedekatan personal secara mendalam, berdampak positif pada tumbuhnya saling pengertian dan merajut keterikatan secara emosional.
Mengupayakan relasi mendalam berbentuk intimacy relationship memberi berkah pada suatu keluarga besar, yaitu mengikat tali persaudaraan. Ikatan persaudaraan ini perlu diusahakan dengan pertimbangan, di antara anggota keluarga barangkali ada yang merantau, bisa berakibat komunikasi antar pribadi menjadi renggang.
Memang sekarang berada di era digital, sudah ada perangkat teknologi informasi berupa handphone membuat yang jauh terasa dekat. Namun handphone belum mampu menjadi penawar kerinduan dan tak mampu merekatkan hubungan batin.
Maka silaturahmi luring melalui halal bilhalal menjadi sarana membangun hubungan akrab sesama anggota keluarga yang jarang bertemu, sebagai akibat dari kesibukan bekerja, fokus pada aktivitas masing-masing atau bekerja di perantuan.
Hubungan antar anggota keluarga besar yang akrab melalui intimacy relationship ini dapat berbentuk emotional intimacy yaitu saling mendukung secara emosional untuk berbagi perasaan. Maka adanya emotional intimacy berguna bagi anggota keluarga yang sedang mengalami beban masalah, berkesempatan menumpahkan kepada saudara.
Bagi anggota keluarga yang tengah menghadapi problem sanggup terbuka, karena sudah memiliki kedekatan pribadi dengan anggota keluarga lain. Dan tentu saja bagi anggota keluarga yang diminta jalan keluar memecahkan masalah, dengan senang hati akan membantu, karena merasa dipercaya oleh saudaranya.
Bentuk lain dari intimacy relationship adalah intellectual intimacy merupakan kedekatan pribadi terutama bersinggungan dengan berbagi ide, pemikiran dan terlibat diskusi mendalam. Tukar gagasan ini terjadi, karena masing-masing anggota keluarga menekuni profesi, mempunyai usaha dan pekerjaan beragam menuntun pada pengalaman tak sama.
Bersumber dari pengalaman berbeda, mereka saling bertukar informasi. Sehingga ajang halalbihalal memberi keuntungan menambah wawasan baru untuk memantik gagasan-gagasan segar mengatur strategi untuk meningkatkan kualitas hidup pada tahun mendatang.
Agar intimacy relationship dapat berkembang dengan baik, memerlukan dukungan dari anggota keluarga yang mengikuti halalbihalal untuk menanamkan saling percaya. Faktor kepercayaan ini menjadi pondasi utama memupuk intimacy relationship. Faktor lain menjadi syarat terbangunnya intimacy relationship, yaitu komunikasi terbuka.
Indikator terlaksananya komunikasi terbuka adalah antar pihak yang melakukan komunikasi telah bicara jujur. Komunikasi terbuka tersebut memberi ruang mengungkap isi hati, sehingga membuat mereka menjadi saling mengenal antara satu keluarga dengan keluarga lainnya.
Faktor berikutnya berupa vulnerability, dalam arti bersedia memperlihatkan kondisi pribadi apa adanya dan tak ada yang ditutupi dari dirinya. Bahkan tak malu dan tak takut untuk dihakimi, seandainya sisi lemahnya terkuak. Karena orang tersebut memiliki keyakinan, sisi lemah yang ada dalam dirinya akan dikuatkan oleh anggota keluarga yang lain, selama intimacy relationship sudah terbangun di trah.
Dan faktor waktu bersama semakin meneguhkan intimacy relationship telah tumbuh dengan baik di bani. Pelaksanaan waktu bersama pada halal bihalal ditandai oleh kesediaan meluangkan waktu secara berkualitas untuk berbagi cerita dan perhatian.
Faktor kepercayaan, komunikasi terbuka, vulnerability dan waktu bersama memupuk intimacy relationship pada peristiwa halal bihalal, membuahkan manfaat bagi seluruh anggota trah yang mengikutinya.
Manfaatnya adalah meningkatkan kesejahteraan psikologis, seperti menyumbang rasa aman, memperkuat dukungan sosial saat mengalami masalah, merasa diterima dan merasa dicintai.
Manfaat ini dipetik, karena ada kesadaran dalam diri yaitu dalam hidup ini tidak sendirian, masih ada keluarga yang peduli dan menyayanginya. Sehingga intimacy relation menjadikan halal bihalal, bukan hanya sekedar menjadi acara ceremonial semata.
***
*) Oleh : Hadi Suyono, Direktur Center For Community Empowerment Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Pewarta | : Hainor Rahman |
Editor | : Hainorrahman |