https://jogja.times.co.id/
Berita

Hidupkan Budaya dan Ekonomi, Pemkot Surabaya Pilih 14 Ruang Publik Jadi Panggung Ekspresi Seni

Minggu, 01 Februari 2026 - 21:02
Hidupkan Budaya dan Ekonomi, Pemkot Surabaya Pilih 14 Ruang Publik Jadi Panggung Ekspresi Seni Alun-alun Surabaya yang merupakan komplek kawasan balai pemuda menjadi salah satu titik panggung ekspresi seni dan budaya. (FOTO: Humas Pemkot Surabaya)

TIMES JOGJA, SURABAYA – Sebagai kota yang tak pernah lepas akan budaya, Pemerintah Kota Surabaya (Pemkot Surabaya) menetapkan 14 titik ruang publik untuk menghidupkan panggung ekspresi seni dan budaya. 

Ke-14 titik itu adalah Taman Surya Balai Kota, Taman Sejarah, Komplek Balai Pemuda, Taman Bungkul, Taman Suroboyo, Kawasan Tunjungan, Tugu Pahlawan, Adventure Land Romokalisari, Kebun Raya Mangrove, Taman Hiburan Pantai Kenjeran, eks Hi-Tech Mall, Taman Harmoni, Taman Cahaya, serta Kya-Kya Kembang Jepun.

Di lokasi-lokasi tersebut, beragam pertunjukan seni rutin digelar, mulai dari musik akustik, reog, jaranan, angklung, hingga elektone.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, Heri Purwadi, menyebut kebijakan ini sebagai bagian dari upaya Pemkot Surabaya untuk memberi ruang berkesenian sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif di tengah masyarakat.

“Ruang publik kita jadikan bukan hanya tempat rekreasi, tapi juga ruang berekspresi bagi seniman. Ini menjadi wadah interaksi antara seni, masyarakat, dan pariwisata kota,” ujar Heri, Minggu (1/2/2026).

Menurutnya, beberapa titik seperti Balai Kota, Jalan Tunjungan, dan Balai Pemuda menjadi lokasi favorit para seniman karena berada di pusat kota dan relatif aman dari cuaca. Selain itu, pendapatan seniman dari aktivitas ngamen juga dinilai meningkat.

Alun-alun-Surabaya-2.jpg

“Di beberapa titik, khususnya Balai Kota dan Tunjungan, antusiasme seniman sangat tinggi. Pengunjung ramai, sehingga berdampak langsung pada ekonomi para pengisi acara,” ungkapnya.

Sementara itu, lokasi seperti Taman Bungkul, Taman Suroboyo, Tugu Pahlawan, hingga THP Kenjeran menjadi magnet tersendiri untuk pertunjukan reog dan jaranan. Selain menyedot penonton, aktivitas ini juga berdampak positif terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), baik dari sektor parkir maupun tiket masuk kawasan wisata.

“Tampilan seni ini bukan hanya soal hiburan, tapi juga menggerakkan ekonomi. Di Taman Bungkul dan Tugu Pahlawan, misalnya, penonton selalu ramai dan itu berdampak langsung ke sektor parkir dan kunjungan wisata,” kata dia.

Meski demikian, Heri mengakui masih ada sejumlah ruang publik yang belum teraktivasi secara optimal. Taman Sejarah baru sempat menggelar pertunjukan pada momentum Hari Pahlawan 2025, sementara eks Hi-Tech Mall dan Kebun Raya Mangrove Gununganyar masih membutuhkan konsep pengembangan dan koordinasi lanjutan.

“Ke depan, kami akan terus melakukan evaluasi dan penguatan konsep agar semua ruang publik bisa dihidupkan secara merata, sehingga seniman memiliki lebih banyak pilihan tempat tampil dan masyarakat semakin menikmati seni di ruang terbuka,” pungkasnya. (*)

Pewarta : Siti Nur Faizah
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jogja just now

Welcome to TIMES Jogja

TIMES Jogja is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.