TIMES JOGJA, YOGYAKARTA – style="text-align:justify">Dukungan nyata bagi pekerja sektor informal kembali hadir dari kolaborasi Pemerintah Kota Yogyakarta dan dunia usaha. KSPPS BMT Beringharjo meresmikan Bus Peduli Jasa Gendong, sebuah layanan transportasi gratis khusus untuk buruh gendong dan pelaku ekonomi kecil di Pasar Beringharjo.
Program ini menjadi angin segar bagi ratusan pekerja yang selama ini mengandalkan jasa angkutan umum untuk mencari nafkah setiap hari.
Peresmian bus tersebut digelar di Pintu Timur Pasar Beringharjo dan dihadiri langsung oleh Menteri Koperasi Republik Indonesia Ferry Joko Yuliantono. Turut mendampingi, Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan yang memberikan dukungan penuh atas inisiatif sosial ini.
Ketua KSPPS BMT Beringharjo, Mursida Rambe, menjelaskan bahwa program ini lahir dari rasa peduli terhadap kondisi buruh gendong yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting roda perdagangan di pasar legendaris tersebut. Namun, banyak dari mereka harus merelakan penghasilan hanya untuk ongkos pulang-pergi.
“Dengan hadirnya bus gratis ini, kami ingin mempermudah mobilitas dan mengurangi pengeluaran harian mereka. Untuk pergi dan pulang, biasanya bisa habis Rp20 ribu per hari,” ujar Mursida dalam siaran pers, Jumat (28/11/2025).
Bus berkapasitas 30 orang tersebut resmi beroperasi mulai Jumat (28/11/2025). Rute yang dilayani yakni Beringharjo–Sentolo dan Sentolo–Beringharjo, sesuai domisili mayoritas buruh gendong. Satu sopir khusus akan bertugas mengantar-jemput setiap hari.
Tidak hanya untuk buruh gendong, pedagang pasar yang membutuhkan juga diperbolehkan memanfaatkan fasilitas transportasi ini.
Apresiasi Pemerintah: Contoh Peran Strategis Koperasi
Menteri Koperasi RI Ferry Joko Yuliantono mengaku bangga dengan langkah progresif KSPPS BMT Beringharjo. Menurutnya, koperasi seharusnya menjadi pelindung dan penggerak kesejahteraan masyarakat kecil.
“Pemerintah terus memperkuat koperasi melalui pendampingan dan pembiayaan LPDB. Inisiatif seperti ini adalah wujud nyata manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegasnya.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyebut buruh gendong sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang turut menjaga keberlangsungan ekonomi Pasar Beringharjo yang menjadi salah satu pusat aktivitas dagang terbesar di Kota Gudeg.
“Bus Peduli Jasa Gendong ini adalah bentuk penghargaan. Mereka sudah puluhan tahun bekerja keras, namun sering luput dari perhatian,” ungkap Wawan.
Ia juga menilai adanya transportasi yang layak akan meningkatkan keselamatan dan kenyamanan para pekerja tersebut saat berangkat dan pulang kerja.
Pemkot berharap inisiatif ini menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lainnya untuk ikut ambil bagian dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat berpenghasilan rendah.
Rus, salah satu buruh gendong yang telah bertahun-tahun mengais rezeki di Pasar Beringharjo, tidak mampu menyembunyikan rasa harunya saat menyambut program ini.
“Sehari ongkos bisa habis dua puluh ribu. Kalau bus gratis ini jalan terus, kami bisa bawa pulang lebih banyak uang untuk anak dan keluarga,” ujar wanita paruh baya tersebut dengan mata berkaca-kaca.
Kehadiran Bus Peduli Jasa Gendong bukan hanya soal transportasi. Lebih dari itu, program ini menjadi simbol kepedulian dan perhatian bagi kelompok pekerja yang selama ini bekerja di balik gemerlapnya pusat ekonomi kota.
Jika program ini berjalan sukses, bukan tak mungkin akan diperluas agar lebih banyak pekerja informal merasakan manfaatnya. (*)
| Pewarta | : A Riyadi |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |